Tenggang Rasa, Prasyarat Damai dalam Perbedaan

Presiden Prancis Emmanuel Macron turut dalam investigasi polisi, setelah beberapa insiden terjadi, merespons penerbitan karikatur Nabi Muhammad SAW. AFP

Suatu ketika, Gus Dur pernah menulis, “Dengan iman masing-masing, asal negara ini penuh persaudaraan dan tenggang rasa, sebenarnya keberagaman sudah tidak ada masalah.”

Dalam tulisan itu tersirat, Gus Dur mengajukan syarat untuk mewujudkan kedamaian di tengah masyarakat yang majemuk. Syarat itu adalah persaudaraan dan tenggang rasa.

Saya lantas bertanya dalam hati, “Lho, Gus. Kalau syarat kerukunan dalam keberagaman itu harus dengan menjalin persaudaraan dan memupuk tenggang rasa, lalu yang merusak kerukunan dan meremehkan tenggang rasa itu enaknya diapakan? Didiamkan atau disikapi dengan tegas, kalau perlu dengan marah?”

Saya tahu Gus Dur sudah lama wafat, sedangkan tulisan itu dibuat kira-kira tahun 1989. Sebab itu, saya yakin jawaban dari Gus Dur tidak mudah datang. Tapi, saya lantas teringat, satu waktu, Gus Dur pernah menyebut ormas tertentu dengan kata-kata cukup tegas dan cenderung kasar. Saya rasa, waktu itu Gus Dur sedang memikirkan apa yang saat ini saya pikirkan tentang ormas tersebut, yang polahnya kerap berupaya mengikis persaudaraan dan mengesampingkan tenggang rasa.

Setelah membaca tulisan Gus Dur, saya menjadi yakin bahwa damai dalam perbedaan itu ada syaratnya. Butuh syarat penunjang. Salah satunya, tenggang rasa.

Nah, pertanyaan selanjutnya, kira-kira apakah pembuat karikatur Nabi Muhammad SAW yang diterbitkan majalah satire mingguan Charlie Hebdo Prancis pada awal September itu punya tenggang rasa? Apakah itu sebuah dukungan kebebasan berekpresi? Bahkan untuk karikatur dengan selera humor yang kurang itu?

Atau ada yang merasa lebih cakap ketimbang Gus Dur, yang mampu menawarkan atau langsung mewujudkan perdamaian tanpa syarat?

Obat Islamofobia

Konon, obat Islamofobia adalah dengan menjelaskan bahwa Islam sejatinya jauh dari anggapan sebagai ajaran yang menyebabkan fobia. Bahwa kelompok ekstremis-teroris, bukanlah representasi Islam.

Sebagian orang sungguh-sungguh berusaha menjelaskan tentang ini. John L. Esposito sampai perlu mengusung pemikiran dari tiga tokoh yang disebutnya ‘intelektual’ kepada khalayak Barat, tempat Islamofobia tumbuh. Tokoh itu adalah Gus Dur, Anwar Ibrahim, dan Muhammad Khatami. Tiga tokoh yang mencerminkan manusia baik menurut Esposito, pendorong dialog antar-peradaban.

Anwar dinilai sebagai sosok teladan yang berupaya menjembatani masyarakat multi-religius dan multi-etnis di Malaysia. Anda bisa melihat pengaruh pemikiran Anwar dalam serial kartun Upin Ipin.

Khatami disebut menyelamatkan hubungan Iran dan Amerika yang sebelumnya senantiasa terkunci dalam lingkaran ‘saling menyetankan’ (mutual satanization), setelah terpilih sebagai presiden pada 1997. Seruan tentang keharusan adanya dialog antar-peradaban disampaikannya di hadapan kamera wartawan CNN, pasca-pelantikannya sebagai presiden. Dia menyatakan, peradaban Barat harus dihargai.

Lalu Gus Dur dinilai berjasa dalam menjembatani tradisionalitas dengan modernitas yang menjadi persoalan di banyak tempat.

Tapi sebagian orang lain, yang saya sebut ‘tukang ngruwet’, justru mengabaikan usaha sungguh-sungguh ini dengan komentar yang tidak perlu. Gus Dur sudah memulai. Belakangan Gus Yahya dan Habib Ali Al Jufri sudah berusaha dengan sungguh-sungguh tentang ini. Tentang perdamaian dan lain sebagainya. Banyak lagi tokoh lain, sejak dulu sampai hari ini, memperjuangkan hal yang sama.

Celakanya, tukang ngruwet dari dulu tetap saja ada. Tukang ngruwet biasanya akan mencari orang-orang dengan hati bersih, menyandarkan harapan kepadanya, kalau ancaman teror semakin membesar, meruncing, dan tak terbendung. Orang dengan kategori ruwet ini ada dan berlipat ganda, sejak maraknya kampanye berhenti berpikir, dengan usaha ‘laminasi otak’.