Seberapa Gatolotjo-kah Kita?

Candi Sukuh di Kabupaten Karanganyar memiliki banyak ornamen lingga dan yoni, perlambang seksualitas. WANDERNESIA

Anda tahu Serat Balsafah Gatolotjo? Atau setidaknya, barangkali Anda pernah mendengar, membaca, bahkan mendalaminya. Di tengah bisingnya kota yang sumpek, Gatolotjo kembali muncul, namun dengan ciri fisik yang berbeda. Penampilannya kini tidak lagi buruk, tapi tetap mengaku sebagai lanange jagad.

Gatolotjo hadir membawa narasi baru yang brilian dan memukau, tapi tak pernah sadar tanah yang dipijak bukan panggung dagelan. Ia mencari simpati demi menaikkan elektabilitas ketokohan adalah jalan panjang dan terjal yang harus dipermulus.

Gatolotjo adalah laki-laki fiktif yang digambarkan cerdas tak tertandingi dalam Serat Balsafah Gatolotjo. Kefasihan mengolah kata membuat orang memilih ogah berurusan dengannya. Saking digambarkan terlalu cerdas, sampai-sampai membuatnya merasa lebih baik dari orang lain, bahkan gurunya para guru, yaitu Kiai Hasan Besari.

Dalam suatu ketika, Gatolotjo diundang Kiai Hasan Besari. Undangan itu didasari rombongan muridnya, terdiri dari Kiai Abdul Jabar, Kiai Abdul Manap, dan Kiai Akhmad Arif yang mengadu, sebab dipermalukan Gatolotjo ketika di perjalanan hendak menungunjungi gurunya Kiai Hasan di Pondok Tjepekan.

Di depan Kiai Hasan Besari dan disaksikan ketiga muridnya serta ratusan santri Tjepekan, dengan konyol Gatolotjo melontarkan pertanyaan dan menyanggah jawaban perihal keimanan. Empat orang yang ahli agama dan dihormati tersebut dikritik habis-habisan sampai membuat Kiai Hasan marah besar. Melihat lawan bicaranya kesal, Gatolotjo merasa senang. Ia semakin berbangga diri menganggap dirinya, lanange jagad.

Kepiawaian memelintir kata dengan mencampuradukkan kalimat porno menjadi daya tarik Gatolotjo. Konflik yang dihadirkan penulis pun tidak main-main. Bahkan di akhir cerita, Gatolotjo berhasil mengalahkan Kiai Hasan, dan ketiga guru yang menimba ilmu kepadanya. Hal itu mengakibatkan Kiai Hasan harus meninggalkan pesantrennya, lembaga pendidikan yang dibangun dengan penuh cinta. Dan Gatolotjo pun mengambil alih, menjadi guru di Pondok Tjepekan dan dicintai santri-santri binaan Kiai Hasan. Benar-benar alur cerita yang berani.

Saking suka nyerocos, apa saja menjadi bahan pembicaraan Gatolotjo. Sambil menikmati candu, di tengah hutan sekalipun ia mengomel sendiri, entah itu menyenandungkan pepohonan liar maupun binatang sampai-sampai disangka mengalami gangguan kejiwaan. Selain digambarkan nakal berbicara dan jorok, Gatolotjo (kelamin laki-laki) suka mengoceh sendiri dan bernyanyi tidak jelas. Suaranya mirip rongsokan panci.

Guyonan yang Kebablasan

Guyonan kebatinan ala Serat Balsafah Gatolotjo yang tidak jelas hasil buah karya siapa memang kebablasan, sampai-sampai sempat dilarang Orde Baru. Jika dibandingkan dengan karya-karya lainnya, Gatolotjo tertinggal jauh. Jauh lebih baik Serat Sasanasunu karya Yasadipura II, Pujangga Kasunanan Surakarta yang mengandung unsur pendidikan yang membahas etika seorang anak kepada orang tua, serta rakyat kepada raja.

Saya pikir, perlu kritis menanggapi nilai Serat Gatolotjo. Sebab, kekurangan seperti tata krama dan keindahannya sangat rendah, serta kelebihannya sebagai karya sastra yang sedikit banyak memberi gambaran saat itu. Jika hanya dibaca tanpa menelaah, akan timbul anggapan serupa Ayat-ayat Setan karya Salman Rushdie yang sempat heboh di zamannya.

Serat Gatolotjo hanyalah karya sastra biasa. Pengkaji-pengkaji sastra, khususnya sastra Jawa, barangkali punya penilaian sendiri mengenai serat tersebut. Hasil kajian yang perlu terus ditebar. Sebab, menurut saya, Serat Gatolotjo cukup membuat mata merah, apabila dibaca orang awam. Memberi pemahaman jujur dan adil dengan niatan mendewasakan pembaca yang belum paham dan yang mau, saya kira pilihan yang cukup keren.

Guyonan kebatinan ala Serat Balsafah Gatolotjo yang tidak jelas hasil buah karya siapa memang kebablasan. Konflik pemikiran penulis Gatolotjo sesekali perlu dipahami dengan guyonan pula. Tidak melulu serius.

Gatolotjo Hari Ini

Jauh waktu setelah Serat Gatolotjo ditulis, watak Gatolotjo selalu hadir dalam setiap zaman. Cirinya mudah ditebak, yakni banyaknya suara konyol dan petakhilan. Datangnya selalu membuat keadaan semerawut. Tatanan yang sudah mapan diubahnya menjadi panggung dagelan.

Saya jadi teringat seseorang, namanya bukan Barang Pangalusan (Gatolotjo: kelamin laki-laki), tapi sama; kakean polah (kebanyakan tingkah). Gerak-geriknya tak enak dilihat, terbaca polanya, dan omongannya tidak bermutu. Atau barangkali, saya perlu percaya diri jika hadirnya memang untuk mengkritisi polah saya. Eh, atau bahkan bisa jadi, Gatolotjo adalah saya sendiri.

Begitulah. Gatolotjo akan selalu hadir mengiringi laju peradaban. Seberapa Gatolotjo-kah kita?