Penistaan dan Teror, Buah Sekularisme yang Kaku

Presiden Prancis Emmanuel Macron berkunjung ke Masjid Zitouna, Tunisia, 1 Februari 2018. AFP/Eric Feferberg

Meski terlambat mengikuti, sehingga tidak komplit menyimak apa yang disampaikan oleh Gus Yahya Staquf, tapi saya tetap merasa beruntung sekali menyimak diskusi tentang ‘penistaan’ yang disiarkan secara langsung Selasa sore kemarin. Ada beberapa hal yang saya catat dari pernyataan atau penjelasan beberapa narasumber.

Saya merasa narasumber atau penanggap yang berbicara dalam diskusi sore itu, seluruhnya menyampaikan apa yang memang penting disampaikan, dan karena itu perlu untuk dicatat. Bisa jadi catatan saya kurang tepat menangkap maksud narasumber, itu jelas tidak lain karena keterbatasan saya.

Menurut Gus Yahya, untuk mengatasi persoalan seperti yang terjadi di Prancis hari ini maka perlu adanya kesepakatan atau konsensus global yang bisa digunakan untuk melandasi hubungan antar-negara. Dari konsensus itu, akan lahir saling pengertian, saling mengerti antara banyak pihak dalam tataran pergaulan global.

Gus Yahya kurang lebih menjelaskan bahwa di dalam masing-masing pihak ada ajaran atau keyakinan, atau aturan main yang dimungkinkan berseberangan dengan keyakinan pihak lain. Seperti yang ada dalam tradisi kelompok sekuler ekstrem di Prancis. Mereka memiliki apa yang menjadi supremasi dan akan diusung setinggi-tingginya. Nah, tentu supremasi ini akan berhadapan dengan supremasi lain. Dari sinilah maka konsensus global menemukan relevansinya.

Selain itu, sambung Gus Yahya, masing-masing pihak dalam pergaulan global juga perlu untuk saling instrospeksi ke dalam, ke diri masing-masing pihak yang terlibat di dalam lingkungan pergaulan global. Islam, misalnya, harus mempunyai cara untuk menafsirkan ulang beberapa paham keagamaan yang menghalangi terwujudnya kedamaian dengan basis pijakan saling pengertian. Gus Yahya seperti hendak menyampaikan bahwa negara Prancis dengan ideologi negaranya itu juga harus menelaah ulang apa yang diusungnya.

Selanjutnya, Dr. Nur Rofiah, pengajar Ilmu Tafsir Al-Quran di PTIQ Jakarta menyebut beberapa ayat Al-Quran yang lazim digunakan untuk menanggapi kasus penghinaan. Ia juga menyampaikan pentingnya kembali memahami bahwa agama Islam hadir untuk mengusung semangat rahmatan lil alamin, yaitu kebaikan bersama. Kebaikan bersama ini dipahami bahwa kebaikan untuk diri sendiri harus sama baiknya untuk orang lain. Ajaran yang mencerminkan perwujudan kemanusiaan, bukan sebaliknya malah mereduksi kemanusiaan. Mengusung sikap tawazun, tasamuh, dan iktidal.

Dalam kasus yang terjadi di Prancis belakangan, Dr. Nur Rofiah menyampaikan perlunya pijakan adil yang harus adil menilai bahwa penistaan adalah penistaan dan terorisme adalah memang benar tindakan terorisme.

Selain itu, beliau menjelaskan model penistaan di dalam kajian hukum Islam dan akibat hukumnya. Pertama, seorang Muslim yang menista kepercayaan atau agama lain. Kedua, penistaan yang dilakukan oleh orang lain kepada Muslim.

Dalam model kedua, Dr. Nur Rofiah menjadikan surat al-Ahzab ayat 57 sebagai landasan hukumnya. Contoh dalam modul ini adalah pada saat Nabi Muhammad SAW disebut gila, beliau menikah dengan putri bekas musuhnya, dan fitnah yang ditujukan kepada istri Nabi Muhammad SAW, yaitu Sayyidah Aisyah.

Ketiga, model penistaan sesama Muslim, saling serang sesamanya, atau Muslim menista Muslim lainnya. Model terakhir ini banyak sekali contohnya. Biasanya dipicu karena perbedaan pendapat dalam memahami sumber hukum Islam.

Dr. Nur Rofiah menjelaskan hal lain yang menurut saya menjadi poin paling penting darinya bahwa penistaan, apa pun bentuknya, adalah suatu kezaliman. Kezaliman ini disebabkan adanya ketimpangan relasi; yang kuat menekan yang lemah; yang mayoritas menzalimi yang minoritas.

Selain penistaan, umat Muslim yang hidup di Eropa di mana mereka adalah kelompok minoritas juga sering menjadi sasaran perlakuan negatif lainnya, seperti stigmatisasi, subordinatisasi, dan marjinalisasi.

Pada akhir pembahasan, Dr. Rofiah menjelaskan kembali, dalam ajaran Islam, nilai-nilai kemanusiaan berada di atas nilai-nilai yang lain. Satu penjelasan yang penting untuk diingat bagi siapa pun yang hendak bertindak atas nama Islam.

Islam dan Islamisme

Nah, yang paling ditunggu dalam diskusi sore itu adalah penjelasan dari Cak Mahmud Syaltout, narasumber yang sudah pernah tinggal di Prancis selama enam tahun, kerja dan kuliah di sana. Belakangan, cuitan Cak Syaltout menjadi buah bibir, dikutip di mana-mana, dan dijadikan bahasan di mana saja terkait kasus karikatur yang berujung teror di Prancis itu.

Menariknya, Cak Syaltout tidak masuk dalam perbincangan tentang hukum Islam bagi pelaku penistaan, atau kasus teror. Ia membahas sesuatu yang lebih penting dari kedua perkara penting tersebut, karikatur dan terorisme, yaitu tentang kesalahpahaman atas pidato Macron, Presiden Prancis, yang disalahpahami oleh mayoritas umat Islam di dunia, termasuk beberapa pemimpin negara, juga termasuk Presiden Jokowi.

Di awal perbincangan, Cak Syaltout langsung membuka obrolan dengan mengatakan bahwa kesalahan Macron hanya satu. Dia berpidato menggunakan bahasa Prancis. Sebab berbahasa Prancis maka pesan dari Macron tidak sampai, sebaliknya malah disalahpahami.

Misalnya, pada saat Macron menyebut istilah ‘islamisme’, lalu dipahami oleh banyak orang sebagai ‘Islam’ belaka. Padahal, berbeda pengertian antara islamisme yang dimaksudkan untuk menunjuk kelompok tertentu dalam umat Islam, seperti kelompok ISIS, atau kelompok yang dipengaruhi ajaran ekstrem, separatisme, yang melahirkan tindakan teror. Macron tidak mempersoalkan Islam, tapi sebagian kecil dari umat Islam yang mengusung ideologi teror yang mengancam keutuhan negaranya.

Cak Syaltout mengungkapkan hubungan baik antara Macron dengan kelompok Muslim moderat yang menjadi Muslim mayoritas di Prancis. Pasca-kejadian teror penusukan terhadap pejalan yang melintas di depan kantor lama Charlie Hebdo, Macron sudah berulang kali berjumpa dengan ketua Dewan Masjid Prancis, Imam Masawi. Justru dari pertemuan itu Macron mendapat bekal untuk nantinya berbicara di depan publik tentang bahaya islamisme atau kelompok teroris yang mengatasnamakan Islam. Sebagaimana pemerintah Prancis, Ketua Dewan Masjid Prancis, juga mengutuk tindakan teror penusukan.

Dari Cak Syaltout kita tahu, sebelum kasus penyerangan gereja, ada kasus teror lain yang terjadi, yaitu penusukan beberapa orang yang kebetulan melintas di depan kantor lama majalah pengunggah karikatur Nabi. Dan sudah terjadi pertemuan antara wakil umat Islam di Prancis dengan Pemerintah Prancis, baik presiden maupun jajarannya.

Selain itu, kita juga menjadi tahu, yang memprotes atau menanggapi pertama kali kasus teror justru datang dari umat Islam yang diwakili oleh Dewan Masjid Prancis. Kita menjadi paham juntrungannya bahwa pengertian islamisme dan perlakuan untuknya justru merupakan pesanan dari umat Islam sendiri, supaya negara segera menindaknya. Dengan dalih bahwa kelompok teror itu sama sekali tidak mewakili ajaran Islam yang seharusnya penuh ‘cahaya’ yang menghangatkan, penuh toleransi.

Cak Syaltout menerangkan, kunci deradikalisasi Prancis ada di Imam Dewan Masjid. Untuk itu, selain berjumpa dengan Macron, wakil Dewan Masjid juga berjumpa dengan Menteri Dalam Negeri Prancis.

Rentetan kasus ini, lanjutnya, semula berasal dari unggahan Charlie Hebdo pada tanggal 1 September 2020, yang akan mengunggah kembali kartun Nabi. Woro-woro ini sama sekali tidak mendapat respons dari media lokal Prancis, justu direspons media luar Prancis. Menurut Syaltout, di samping karena negara Prancis adalah negara dengan media massa yang berpikir kapitalis, yang tidak akan merespons tanpa adanya keuntungan, sehingga seruan Charlie Hebdo dianggap tidak penting, juga karena Charlie Hebdo adalah media minor, kecil, bukan media yang dikonsumsi kalangan umum, utamanya kalangan intelektual Prancis.

Ada beberapa keterangan dari Cak Syaltout yang penting dan tidak pernah disinggung dalam perbincangan lain, yaitu tentang informasi bahwa selain teror yang diterima oleh jemaat gereja dan pejalan kaki, tindakan teror yang diduga dari kelompok ekstrem kanan juga menyasar sebuah masjid di Prancis. Ini menjelaskan bahwa rentetan peristiwa yang bermula dari unggahan karikatur media minor itu berdampak merata, membuktikan kebenaran pendapat Gus Yahya bahwa masing-masing kelompok mempunyai supremasi yang tidak hanya diusung, tapi juga diperjuangkan.

Syaltout mengungkapkan, duta negara sahabat yang pertama kali mengutuk penyerangan atau tindakan teror itu adalah duta besar negara Turki. Menjadi menarik karena Presiden Turki justru berpikir sebaliknya.

Dari penjelasan Cak Syaltout, kita tahu bahwa tulisan dari orang-orang seperti Made Supriatna dan Hassan Abdurrahman yang timpang sebelah membebankan kasus ini hanya bagi umat Islam belaka, tidak memiliki relevansi. Terang bahwa dampak buruk dari karikatur bersifat merata, teror sudah dibalas dengan teror.

Relasi Agama dan Negara

Dalam diskusi sore itu, Kang Ulil Abshar Abdalla mendapat kesempatan untuk berbicara, menanggapi penjelasan dari narasumber sebelumnya. Kang Ulil tidak berbicara banyak, hanya sebentar, tapi penting semua. Misalnya, ia menjelaskan bahwa hukum Islam memang mengenal hukuman bagi penista atau penghina agama, termasuk simbol-simbol agama. Tapi yang menjadi pertanyaan, bagaimana menerapkan itu bagi non-Muslim di masa sekarang, di mana sudah tidak ada lagi kekuasaan atau imperium Islam yang menguasai wilayah-wilayah tertentu, Prancis misalnya.

Kang Ulil menjelaskan bahwa model sekularisme Prancis terlalu kaku. Menurutnya, hal ini disebabkan karena pengalaman pahit Prancis dengan agama, trauma dengan agama, khususnya dengan otoritas gereja Katolik. Kang Ulil mengatakan bahwa negara Prancis saat ini sedang dalam proses memperbaiki relasi antara agama dengan negara. Pernyataan ini dalam kesempatan selanjutnya juga dibenarkan oleh Dr. Nur Rofiah yang pernah tinggal di negara Turki, dan merasakan pemerintah sekuler yang terlalu kaku.

Pesan terakhir dari Kang Ulil, yang kemudian ditanggapi balik oleh Cak Syaltout adalah bahwa Pemerintah Prancis harus membuka diri kepada kelompok Islam. Cak Syaltout menambahkan bahwa ini saatnya Nahdlatul Ulama mengabarkan tentang Islam rahmatan lil alamin ke Prancis. Mungkin Cak Syaltout berkaca dari kasus penanganan kasus di Afghanistan dan banyak tempat yang melibatkan NU dalam mengurai benang kusut relasi agama dengan negara.