Pancaroba Kejiwaan, Sebuah Pembelajaran Memanusiakan Manusia

Potret anak-anak sekolah di Klaten tahun 1932. Kolonialisme dan pendidikan, dua isu dominan Politik Etis untuk ‘memanusiakan’ penduduk Hindia di awal abad ke-20. KITLV

Hidup manusia bergerak dari momentum ke momentum. Segala rangkaian momentum yang terutas senantiasa membawa manusia ke dalam semesta pembelajaran. Dari setiap proses pembelajaran, manusia akan bertemu dengan tahap ketika pergumulan hidup seakan terasa lebih berat dari biasanya. Dalam fase tersebut, vitalitas manusia bertolak menuju autentisitas diri.

Ernest Douwes Dekker lewat novel fenomenalnya, Max Havelaar, menulis, “Tugas manusia itu menjadi manusia. Kalimat retoris itu mengandung makna bersayap. Tafsir bebasnya, bagi Multatuli, mungkin kerja paripurna manusia adalah menjadikan dirinya sendiri atau pun orang lain sebagai manusia. Dengan itu, manusia dapat mengembangkan empati sosialnya guna memahami diri sendiri beserta orang yang ada di sekitarnya.

Terlepas dari itu, ibu saya, di suatu waktu, pernah berujar bahwa dirinya sampai sekarang terus belajar bagaimana cara menjadi orang tua yang memahami situasi yang selalu berkembang. Tentunya itu bukan laku mudah bagi orang tua yang punya keterbatasan fungsi organ tubuh yang terus menua. Namun, tekad belajarnya tak kunjung padam. Tampaknya ibu saya sadar, jika tidak belajar, beliau akan kesulitan memahami anaknya sendiri, atau bahkan dirinya sendiri.

Proses menemukan autentisitas diri manusia seperti yang dialami ibu saya, tak terlepas dari pemaknaan fase demi fase yang dilalui. Setiap fase yang melintas meniscayakan momentum-momentum berharga bagi pembelajaran. Benang merahnya, autentisitas diri sesungguhnya terletak pada cara manusia menghela kemauan belajarnya. Menempa diri untuk itu adalah salah satu kunci dalam berproses.

Perihal menempa diri, pemimpin kita di masa lampau juga menempuhnya. Soekarno, menggali autentisitas dirinya lewat kiprah organisatoris memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mohammad Hatta, melalui banyak pemikiran ekonominya, merepresentasikan proses pergulatan realitas dan ide yang begitu keruh. Oleh karena itu, jika penilaian kita singgah pada kedua sosok tersebut, ada kesan tertentu yang melekat pada mereka berdua.

Meski demikian, tak selamanya kesan atau pun citra mencerminkan autentisitas personal. Lazimnya orang bersua pada kisah yang lebih terlihat di permukaan. Padahal, mungkin tanpa kita ketahui, ada pergolakan yang lebih memicu pergolakan memori mereka. Jauh dari narasi-narasi yang kita baca, ada proses yang mungkin membuat orang-orang seperti Bung Karno dan Bung Hatta, gamang jika mengingatnya lagi.

Biografi singkat kedua tokoh itu juga menggemakan kembali urgensi konsep diri manusia. Dalam suatu potongan cerita mereka, selalu ada tahap di mana, proses pencarian diri yang berliku membentuk sikap mereka sebagai makhluk sosial. Dalam konteks psikologis sekaligus sosiologis, konsep diri punya peran dalam dinamika bermasyarakat. Persoalannya, konsep diri ibarat pembuka jalan bagi tindakan komunikatif individu yang berpusar di suatu sistem.

Psikolog Amerika aliran pragmatisme, William James, mengutarakan konsep diri sebagai seni membentuk diri sendiri. Menurut James, konsep diri mengartikan identitas dan kedirian. Dalam arti lain, identitas dan kedirian membikin manusia punya irisan sosialnya masing-masing. Orang akan bersikap pada kita sesuai gambaran yang ada pada diri individu tersebut. Konsep ini berjalan sesuai bagaimana kita menempatkan diri.

Pengalaman tiap individu membuat orang membentuk konsep diri. Konsep diri Mohammad Hatta yang kritis, teliti, dan selalu bersikap intelektual tak terlepas dari pengalaman masa mudanya ketika belajar di Belanda. Nilai-nilai ini bekerja sesuai interaksi yang bergerak di dalam lingkungannya. Orang-orang yang tertarik dengan Mohammad Hatta tentu akan mempelajari laku hidup, pemikiran, atau pun segala sesuatu yang terkait konsep dirinya. Orang kemudian merumuskan autentisitas diri Hatta melalui penafsiran mereka masing-masing.

Mendefinisikan autentisitas diri itu memang rumit. Kalaupun diringkas dalam kata kerja, autentisitas itu digali dan ditemukan. Namun, autentisitas tidak selamanya ditemukan diri sendiri. Ia ada karena orang-orang terus ‘mengada’. Selebihnya, kita tinggal melepaskan cerita-cerita yang ada dan membiarkan orang lain membacanya. Alhasil, identitas diri, seperti yang ditulis oleh Aamin Maalouf dalam bukunya berjudul Atas Nama Identitas, selalu hadir dalam beragam konteks yang kompleks.

Belajar Memanusiakan

Pada suatu Sabtu, ketika saya menghadiri pengajian rutin Suluk Badran Sabtu Wage, Gus Candra Malik bercerita kalau tugas manusia itu memang belajar. Belajar dalam maksud Gus Candra adalah belajar memanusiakan orang lain. Belajar, baginya merupakan kerja paling mulia bagi manusia. Melalui kerja itu, manusia akan menemukan eksistensi dirinya. Dan ketika menjalani laku hidup tersebut, manusia akan mengalami apa yang ia sampaikan dalam istilah ‘pancaroba kejiwaan’.

Pancaroba kejiwaan, menurutnya, adalah titik balik yang akan dialami oleh setiap manusia. Pada titik ini, manusia menemukan pertanyaan-pertanyaan yang mengurung dirinya sendiri. Di titik tersebut, ada hasrat terpendam dari manusia, namun tak kunjung menemukan wadahnya. Di waktu yang lain, orang menemukan pergulatan-pergulatan diri, dan merasa kalau kemelut itu seolah tak berkesudahan. Padahal, ia masalah waktu belaka.

Dalam fase pancaroba kejiwaan, sensitivitas manusia dituntut untuk bekerja lebih tajam. Karena, dengan sensitivitas, tiap individu perlahan menemukan kediriannya. Tanpa sensitivitas, manusia melewatkan momentum-momentum vital yang sebenarnya berpotensi menjadi bekal mengarungi kehidupannya masing-masing. Maka refleksi kritis penting guna menghadapi momentum itu. Kesiapan mental juga salah satu aspek yang tidak kalah penting ketika berhadapan dengan pancaroba kejiwaan.

Lahirnya empati sosial dari sensitivitas yang ditemukan tiap individu, membuat orang lain tak mudah diabaikan. Empati sosial juga membuat tugas memanusiakan manusia tertunaikan karena pergulatan diri menemukan autentisitasnya. Pengalaman bersama orang lain membentuk diferensiasi seseorang dari yang jutaan orang lainnya. Dan seperti yang Gus Candra sampaikan, eksistensi seseorang mendapat nilai berharga dari cara individu terkait memperlakukan sesamanya.

Kendati demikian, sikap kita terhadap seseorang, tidak selalu benar. Tidak ada kemutlakan pada diri kita, karena manusia, seperti idiom-idiom yang lama berlaku, adalah tempat salah bernaung. Lantaran itu, upaya kita memanusiakan manusia lainnya bukanlah opsi yang mudah dijalani. Opsi terbaiknya, dengan memafhumi setiap kesalahan dan menjadikannya pijakan ke arah humanismenya masing-masing.

Segala tantangan di atas merupakan proses katarsis yang mesti kita kita hidupi. Dengan beragam ikhtiar itu, autentisitas bukanlah asa belaka. Proses pencarian dan pembelajaran dalam wujud pancaroba kejiwaan tersebut mengingatkan petuah yang disampaikan Gus Candra Malik di Suluk Badran malam itu, mesti dihadapi dengan gagah berani.

Karena itu, setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Setiap pengalaman juga menumbuhkan pemaknaan yang berbeda. Momentum yang dimiliki orang tidak sama. Begitu pula dengan cara menghargai momentum tersebut. Autentisitas diri berakar pada proses-proses itu. Konsep diri. Momen. Makna. Proses. Kesemuanya berjalin dan merangkai manusia pada porsinya masing-masing. Dan untuk menemukan autentisitas diri, pancaroba kejiwaan adalah salah satu titik balik yang mesti dihadapi secara kritis.