Menilik Sejarah yang Mengantarkan Kelahiran Rasulullah SAW

Foto Kakbah yang dipublikasikan tahun 1897. JAMES S. DENNIS

Mempelajari sejarah kelahiran Rasulullah SAW akan membawa kita pada peristiwa besar yang mengiringinya. Peristiwa itu adalah hancurnya 6000 pasukan Abrahah bin Ash Shabbah al Habasyi yang berniat ingin melenyapkan Kakbah. Peristiwa itu terjadi pada penghujung Februari 571 M, tepat 50 hari sebelum kelahiran manusia paling mulia pembawa risalah suci, penutup para nabi dan rosul, Al Musthofa.

Sementara membaca kisah Abrahah yang diabadikan dalam QS Al Fiil akan membawa kita pada kisah lain yang mendahuinya. Sebuah peristiwa yang mengantarkan Abrahah dari Habasyah (Etiopia) yang beragama Nasrani untuk membebaskan Yaman dari kekejaman Dzu Nuwas pemeluk agama Yahudi yang membantai orang-orang Masehi di sana. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 523 M. Dzu Nuwas membakar hidup-hidup ribuan orang Nasrani dalam parit-parit besar yang dipenuhi kayu bakar. Genosida Yahudi atas Nasrani itu termaktub dalam QS Al Buruj ayat 1-10.

Mempelajari sejarah Yaman tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang bangsa Arab Aribah dengan kaum Saba’ yang hidup 20 abad SM. Tak berbeda dengan negara, kerajaan, kekaisaran, atau pun bentuk-bentuk struktur kekuasaan lain yang sering kali berdarah-darah dalam upaya mendirikan, merebut, maupun mempertahankannya. Yaman punya sejarah hidup merdeka, juga berkali hidup terjajah. Silih berganti orang luar Yaman menguasai tanah semenanjung selatan jazirah Arab ini.

Dalam Ar Rahiqul Makhtum, Syaikh Syafiyyur Rahman Al Mubarakfury menyebutkan tahapan-tahapan kekuasaan Yaman. Ada empat tahapan yang disebutkan dalam buku yang dinobatkan sebagai karya terbaik dalam Musabaqoh Penulisan Sirah prakarsa Rabithah Al Alam Al Islami.

Tahap pertama, abad-abad sebelum tahun 650 SM. Raja mereka bergelar Ma’rib Saba’. Pada zaman inilah proyek besar pembangunan Bendungan Ma’rib dimulai.

Tahap kedua, tahun 650 SM sampai 110 SM. Gelar Ma’rib tak lagi dipakai untuk raja-rajanya. Hanya dikenali dengan raja-raja Saba’. Ibu kota yang semula di Sharawah dipindahkan ke Ma’rib.

Tahap ketiga, tahun 115 SM hingga tahun 300 M. Kerajaan Saba’ dikalahkan oleh Kabilah Himyar. Ibu kota pun dipindah ke Raidan. Raidan pun diganti menjadi Daffar. Begitulah, soal ganti mengganti ibu kota memang terserah penguasa.

Namun, pada masa itulah mereka mulai jatuh dan runtuh. Ekonomi mereka kacau akibat ekspansi Kabilah Nabat ke utara Hijaz. Di sisi lain, Romawi berhasil menguasai jalur perdagangan via laut, setelah menguasai Mesir, Suriah, dan bagian Hijaz utara. Selain itu, persaingan antar-kabilah dalam negeri makin meruncing. Lengkap sudah permasalahan yang dihadapi Yaman.

Tahap keempat, sejak tahun 300 M sampai masuknya Islam ke Yaman. Kekacauan, keributan, revolusi, dan perang antar-suku kental mewarnai Yaman. Hal itu membuat bangsa lain mudah memangsa mereka. Tersebutlah Bangsa Romawi yang masuk ke Adn, yang dengan bantuannya Habasyah bisa merebut Yaman pada tahun 340 M. Penjajahan itu berlangsung hingga tahun 378 M.

Yaman mendapatkan kemerdekaannya lagi. Namun kemudian pada tahun 450 M Bendungan Ma’rib yang sudah berabad-abad usianya jebol hingga menyebabkan banjir besar. ‘Sailul Aram’, istilahnya dalam Al-Quran. Setelah itu, keadaan makin memburuk hingga mereka terpecah belah.

Pengabaran Kelahiran Rasulullah SAW

Tidak ada satu abad setelahnya, sebagaimana disebutkan di muka, tahun 523 M Dzu Nuwas membantai orang-orang Nasrani di Yaman. Romawi menugaskan Habasyah untuk menyelamatkan Yaman. Aryath memimpin 70 ribu pasukan menyeberangi Laut Merah. Abrahah adalah wakil panglima kala itu. Dzu Nuwas tewas. Tahun 525 M Yaman kembali dikuasai Habasyah untuk kedua kalinya. Tak berapa lama, Aryath bertahta di Yaman. Dia dikudeta oleh Abrahah. Aryath dibunuh oleh anak buahnya sendiri.

Demi meredam amarah Raja Najasy, Abrahah kemudian membangun sebuah gereja besar dan megah di Shan’a. Selain itu, Abrahah punya misi untuk mengalihkan perhatian orang-orang Arab atas ‘rumah tua’ di Makkah. Kakbah menjadi sumber ancaman politik dan ekonomi bagi Abrahah. Terlebih setelah ada laki-laki dari Suku Kinanah yang membuat teror di gerejanya membuat Abrahah bertekat bulat menghancurkan Kakbah. Kisah detailnya ada di Mukhtashar Sirah Rasul-nya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Pasca-hancurnya ashabul fiil, Yaman meminta bantuan kepada Persia. Akhirnya mereka bisa mengusir orang-orang Habasyah dari Yaman dan merdeka lagi tahun 575 M.

Ma’di Yakrib bin Saif Dzi Yazan Al Himyari lantas diangkat menjadi raja. Kebijakan Ma’di Yakrib yang masih mempertahankan beberapa orang Habasyah menjadi pengawalnya justru menjadi bumerang bagi dirinya. Pada suatu kesempatan, orang-orang Habasyah berhasil membunuhnya. Pupus sudah dinasti Dzi Yazan.

Setelah itu, Persia memegang kendali atas Yaman. Kisra mengangkat penguasa dari Bangsa Persia di Shan’a dan menjadikan Yaman masuk dalam teritorial kekuasaannya. Beberapa generasi pemimpin dari Persia ini silih berganti menguasai Yaman hingga akhirnya Badzan sebagai rajanya masuk Islam pada tahun 638 M.

Di balik kisah hancurnya Abrahah terkandung hikmah. Bahwa sebuah pasukan besar nan perkasa dengan tunggangan gajah-gajah raksasa luluh lantak oleh Pasukan Ababil. Konon ada yang menafsiri Ababil adalah burung-burung yang terbang berbondong-bondong membawa kerikil-kerikil neraka. Ada pula yang menafsiri Ababil adalah lalat-lalat pembawa wabah cacar. Wallahu a’lam.

Yang jelas, Ababil adalah pasukan yang dikirim Allah SWT untuk melindungi Baitullah dari makar musuh-Nya. Selama 50 hari tentu masih menjadi hot issue seantero jazirah. Berita itu menjadi trending topic dunia. Dibicarakan di Timur juga Barat.

Maka saat fokus perhatian dunia tertuju ke Kota kecil di lembah tandus nan panas itulah terlahir Nabi yang namanya disebut-sebut dalam kitab-kitab terdahulu. Ismuhu Ahmad. Demikianlah cara Allah mengabarkan kelahiran Nabi-Nya.