Mengapa Saya Menjadi Penulis, Sebuah Esai Eduardo Galeano

Eduardo Galeano. TOWARD FREEDOM

Adalah Eduardo Galeano, seorang penulis, jurnalis, dan kartunis asal Uruguay. Ia terkenal sebagai maestro penulisan kronik sejarah Amerika Latin. Tulisan-tulisannya selalu berperspektif ‘kiri’ dan memuat tentangan terhadap imperialisme Amerika Serikat. Gaya penulisannya menggabungkan pendekatan jurnalisme, prosa, puisi, dan sejarah. Sampai saat ini, buku-bukunya belum ada yang diterjemahkan ke dalam Bahasa.

Saya merasa perlu untuk menyajikan esai Galeano, salah satunya saya nukil dari buku Hunter of Stories terbitan Hachette Inggris pada tahun 2018. Berikut sebagian naskahnya yang menurut saya penting diketahui publik Indonesia.

Saya ingin menuturkan kepada Anda, kisah awal saya menghadapi tantangan nyata sebagai seorang pencerita. Masa-masa awal yang membuat saya sempat khawatir, tidak mampu menjalani tugas itu.

Kisah ini terjadi di sebuah kota di Bolivia bernama Llallagua. Saya menghabiskan beberapa waktu di sana, tidak jauh dari sebuah lokasi pertambangan. Tempat di mana pembantaian San Juan terjadi, saat diktator René Barrientos Ortuño memerintahkan pasukannya untuk melepaskan tembakan dari ketinggian bukit-bukit yang mengelilingi para penambang yang sedang minum-minum dan menari-nari pada perayaan Malam San Juan.

Saya tiba di Llallagua sekitar setahun kemudian, pada 1968, dan dapat bertahan sementara waktu dengan mengandalkan kemampuan saya sebagai seorang seniman. Anda tahu, saya selalu merasa punya dorongan untuk menggambar, dan sebuah gambar tidak pernah dapat memisahkan saya dengan kenyataan di sekitar saya.

Kelemahan terbesar saya tampak di antara keterampilan dan ambisi, padahal beberapa lukisan saya sejauh ini memuaskan dan saya pun andal dalam penulisan. Di Llallagua, saya menggambar anak-anak penambang, membuatkan poster untuk karnaval, untuk acara-acara umum, dan untuk apa pun yang dibutuhkan. Jadi, kota mengakui keberadaan saya, dan faktanya, saya bersenang-senang di lingkungan beku yang menyedihkan ini, di mana hawa dingin semakin menebalkan kemiskinan.

Malam kepergian saya pun tiba. Teman-teman penambang saya mengadakan pesta perpisahan yang dipenuhi minuman. Kami menghabiskan chicha (com beer) dan singani, yang rasanya menyerupai Anggur Bolivia versi mengerikan. Kami merayakannya, bernyanyi, dan melempar lelucon yang membuat tiap-tiap mereka jadi lebih jahat dari sebelumnya.

Sementara itu, saya tahu bahwa pada pukul lima atau enam pagi, saya tidak ingat yang mana tepatnya, sirene akan memecah keheningan untuk memanggil mereka bekerja di tambang, dan semua ini akan berakhir. Lalu kami akan mengucapkan selamat tinggal.

Ketika saat itu semakin dekat, mereka mengitari saya seolah-olah hendak menodongkan sesuatu pada saya. Ternyata itu bukan todongan, melainkan sebuah pertanyaan, “Sekarang, beri tahu kami tentang laut.”

Saya terdiam. Para penambang divonis mati dini karena silikosis di perut bumi. Di masa itu, usia harapan hidup di tambang tidak lebih dari 30 atau 35. Mereka tidak akan pernah mengunjungi laut, mungkin akan mati tanpa ada kesempatan untuk melihatnya, serta ditakdirkan oleh kemiskinan untuk tetap tinggal di kota kecil Llallagua yang rawan dilanda bencana. Tugas saya adalah membawa laut kepada mereka dan menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya.

Itu merupakan ujian pertama saya sebagai pencerita, dan memberi keyakinan pada saya bahwa upaya ini sungguh merupakan hal yang berarti.