Kemenangan Joe Biden, Bukti Publik AS Rindukan Kepribadian Demokratis

Joe Biden semasa menjabat Wakil Presiden berbicara dalam the 20th anniversary of the Violence Against Women Act (9/9/2014). WHITE HOUSE/David Lienemann

Kandidat dari Partai Demokrat, Joe Biden, dipastikan terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat menggantikan petahana dari Partai Republik, Donald Trump. Biden memenangi 290 suara elektoral, melebihi batasan minimal untuk memenangi kontestasi, yaitu 270 suara elektoral di 50 negara bagian Amerika Serikat. Sebuah harapan baru tentang masyarakat demokratis, pemimpin yang demokrat, dan kepribadian demokratis.

Sikap demokrat Biden ditunjukkan dengan sejumlah rencana langkah strategis, misalnya memberitahukan kepada PBB bahwa Amerika akan bergabung kembali dengan upaya mengatasi perubahan iklim, serta mencabut langkah Presiden Trump menarik diri dari Perjanjian Paris. Biden dilaporkan juga akan mencabut larangan masuk dari sejumlah negara Muslim yang diterapkan pemerintah Trump.

Biden bahkan menyerukan persatuan dan meminta para pendukungnya untuk ‘stop memperlakukan lawan kita sebagai musuh’ dalam pidato kemenangan di Wilmington, Delaware, pada Sabtu malam waktu setempat. Menurutnya, retorika kasar harus dihilangkan dan saatnya menurunkan suhu politik.

Sementara itu, Donald Trump masih menolak mengakui kekalahannya. Ia mengklaim, suaranya dicuri. Bahkan di negara kampiun demokrasi seperti Amerika, ketidakpuasan dalam pemilihan umum ternyata sulit untuk dihilangkan.

Tapi memang begitu. Untuk mewujudkan masyarakat demokratis, hal pertama yang harus diingat bahwa proses itu bertahap, meliputi periode yang sangat panjang, sehingga tidak hanya membutuhkan struktur politik formal, tetapi menyangkut sosialisasi, sinkretisasi berbagai perbedaan yang ada.

Karena itu, rekayasa psikologis, sebagai amunisi kuatnya, tidak terjadi secara tiba-tiba dan radikal, akan tetapi proses jangka panjang. Proses ini berkaitan dengan personalitas atau kepribadian.

Harold Dwight Lasswell, seorang ilmuwan politik terkemuka Amerika penganut mazhab psikoanalisis menjelaskan ciri-ciri personalitas kaum demokrat.[1] Pertama, open ego (sifat keakuan yang terbuka) yang hangat dan inklusif terhadap keberadaan orang lain. Kedua, kapasitas untuk membentuk sejumlah nilai dengan yang lain. Ketiga, lebih berorientasi pada nilai-nilai yang serba-ragam ketimbang terhadap lingkungan sosialnya. Keempat, relatif memiliki kebebasan daripada kecemasan.

Walaupun kelihatannya hubungan antara ciri-ciri dan tingkah laku demokratis yang dirumuskan Lasswell tidak secara tegas merupakan sikap dan perasaan politik, ia boleh disatukan ke dalam masyarakat berukuran besar yang strukturnya tidak demokratis.

Everett Einar Hagen, ekonom Amerika yang menggabungkan prinsip-prinsip psikologi dalam ekonomi, menggambarkan kepribadian dari sudut pandang kebutuhan, nilai-nilai, dan unsur-unsur kognitif pandangan duniawi, bersama-sama dengan tingkat intelijensia dan energi.[2]

Kebutuhan yang menjadi dimensi penting dari kepribadian dapat digolongkan menurut apakah kebutuhan itu digerakkan, agresif, pasif, atau terpelihara. Kebutuhan yang digerakkan termasuk kebutuhan untuk berprestasi, untuk mencapai otonomi, dan untuk memelihara tatanan.

Kebutuhan agresi ditujukan untuk menyerang, kebutuhan untuk menghasilkan oposisi, dan kebutuhan untuk mengungguli. Kebutuhan pasif mencakup kebutuhan untuk bergantung, berafiliasi, dan untuk dibimbing orang lain. Kebutuhan untuk dipelihara termasuk kebutuhan, baik untuk memberikan maupun menerima sesuatu sebagai sokongan, perlindungan dan belas kasihan orang lain.

Hagen lantas membedakan kepribadian inovasi (demokrat) dan kepribadian otoriter. Menurutnya, kedua jenis kepribadian ini tidak harus berbada tingkat kecerdasan dan energinya. Individu yang sangat pintar dan sangat energik mungkin saja ditemukan di antara kedua jenis kepribadian itu. Akan tetapi, dari jenis kepribadian tersebut ada perbedaan yang substantif dalam segi kebutuhan, nilai-nilai, dan kesadaran.

Selanjutnya, kepribadian demokrat antara lain memiliki ciri, pertama, kebutuhan akan otonomi dan keteraturan sangat besar. Kedua, pemahaman sendiri yang memungkinkannya tegas terhadap orang lain. Ketiga, kebutuhan yang besar untuk memelihara dan memikirkan kesejahteraan orang lain maupun kesejahteraan dirinya sendiri.

Keempat, memandang lingkungan sosialnya mempunyai tatanan logis yang dapat dipahaminya, serta meyakini bahwa lingkungan sosialnya menilai dirinya, namun penilaian itu dipandangnya didasarkan atas prestasi dirinya, yang menyebabkan dirinya sangat menginginkan pretasi itu. Oleh karena itu, kepribadian mempunyai kebutuhan yang sangat besar untuk memelihara dan meyakini nilai-nilai sendiri.

Kepribadian Demokratis versus Kepribadian Otoriter

Kepribadian otoriter membayangkan lingkungan sosialnya kurang teratur dibandingkan dengan dirinya. Ia tak yakin bahwa dirinya dinilai oleh lingkungan sosial, serta menganggap kekuasaan sebagai fungsi dari posisi yang diduduki seseorang ketimbang sebagai fungsi prestasi yang dicapainya.

Kepribadian otoriter memiliki pandangan kognitif mengenai duniawi, membangkitkan kemarahan sangat besar yang harus menundukkan, kurangnya kebutuhan untuk memelihara, dan kurangnya kebutuhan untuk berotonomi maupun berprestasi.

Kepribadian otoriter adalah sindrom kepribadian yang ditandai oleh ketegangan berpegang pada nilai-nilai konvensional, hastrat berkuasa tinggi, kekakuan hubungan interpersonal, kecenderungan melemparkan tanggung jawab pada sesuatu di luar dirinya, dan memproyeksikan sebab-sebab dari peristiwa yang tidak menyenangkan pada kekuatan di luar dirinya.[3]

Theodor Newcomb (1961) membuktikan bahwa orang-orang non-otoriter atau demokratis cenderung lebih cermat menilai orang lain, lebih mampu melihat nuansa dalam perilaku orang lain. Sebaliknya, orang-orang otoriter cenderung memproyeksikan kelemahan dirinya kepada orang lain dan menerima orang lain dalam kategori yang sempit.[4]

Dengan mengambil berbagai pendapat tersebut maka seorang demokrat adalah sosok yang mampu melembagakan nilai-nilai etis di dalam dirinya. Nilai yang diyakini lebih memiliki perspektif ke depan daripada hanya mempertimbangkan kepentingan politis. Seorang demokrat berani untuk mengadakan refleksi terhadap kecenderungan suasana yang telah berlangsung, kemudian berani mentransformasikannya ke dalam tindakan-tindakan yang memiliki dimensi ke depan.

Dengan demikian, diharapkan ada peluang yang lebih terbuka guna menghindari kekhawatiran terjadinya ‘pembusukan struktural’ atau gejala apatis kolektif yang sangat tidak sehat dalam memberikan warna terhadap kebudayaan politik. Sosok demokrat semacam ini barangkali sangat dibutuhkan dan dinantikan oleh publik Amerika. Selamat untuk Joe Biden.

[1] Harold Dwight Lasswell. 2017. Power and Personality. Abdingdon: Routledge.
[2] Everett Einar Hagen. 1975. The Economics of Development. Pennsylvania: RD. Irwin.
[3] Adorno, Theodor, dkk. 1950. The Authoritarian Personality. London: Verso.
[4] Newcomb, Theodore. 1961. The Acquaintance. New York: Holt, Rinehart, and Winston Inc.