Gondang Winangoen, Sebongkah Berlian di Belantara Kompetisi Gula Nasional

Acara Sumsuman Gora Swara Nusantara #5 di areal Pabrik Gula Gondang Baru, Selasa (17/11/2020). ARIF GIYANTO

Pabrik Gula (PG) Gondang Winangoen, atau di masa-masa akhir pengabdiannya lebih dikenal dengan sebutan PG Gondang Baru, adalah sebuah pabrik gula yang terletak di Desa Plawikan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

PG Gondang Baru berhenti beroperasi pada tahun 2016, setelah 156 tahun ikut ambil bagian dalam pemenuhan kebutuhan gula nasional. Sungguh perjalanan panjang dalam memberikan darma bakti kepada masyarakat, bangsa, dan negara. PG Gondang Baru harus menerima kenyataan, terempas dari pusaran peradaban dan menyandang predikat sebagai pabrik gula ‘beku operasi’ (BKO), sebuah istilah yang diperhalus untuk menggantikan istilah ‘tutup’.

Kata ‘tutup’ bagi karyawan PG Gondang Baru, petani tebu, maupun rakyat kecil yang menggantungkan nafkah di lingkungan pabrik merupakan keprihatinan mendalam. Namun, bagi penentu kebijakan, hanya ada satu dalih yang paling mendasar, yaitu ‘untung dan rugi’. Sementara sudut pandang, pertimbangan, dan kebijakan lainya dianggap tidak relevan, bahkan tidak profesional.

Menengok sejarah lingkup BUMN Perkebunan, sebenarnya ada nilai-nilai yang mendasari haluan kebijakan operasional. Nilai tersebut tertuang dalam Tri Dharma Perkebunan. Suatu misi pengabdian yang berorientasi pada aspek ketenagakerjaan, ekonomi, dan lingkungan hidup. Dengan kata lain, BUMN Perkebunan merupakan sumber pendapatan negara sekaligus sebagai agen pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja, motor penggerak ekonomi, dan pemelihara kelestarian lingkungan hidup.

Seiring waktu, paradigma dan sistem tata kelola BUMN bergeser ke arah profit oriented. BUMN hanya fokus pada perannya sebagai sumber pendapatan negara. Sayangnya, kebijakan ini tidak melalui pra-kondisi yang memadai. Bergulir secara spontan dan sangat cepat. Banyak komponen perusahaan lingkup BUMN, termasuk BUMN Perkebunan, satu demi satu pun berguguran, tidak mampu bertahan. Ditambah lagi, kondisi ini tidak terlepas dari kebijakan-kebijakan yang terkesan by design.

Korelasi istilah by design dengan fenomena berakhirnya operasional PG Gondang Baru dapat dimaknai cukup kentara. Konon PG Gondang Baru harus berhenti operasional karena dukungan on farm, yakni bahan baku tebu wilayah Klaten sangat minim, sehingga berdampak kerugian, karena terjadi idle capacity.

Waktu itu, petani tebu yang dipihaki oleh Pemerintah Kabupaten Klaten dan Komisi VI DPR RI sepakat mengupayakan pemulihan jumlah bahan baku tebu (BBT) sesuai kapasitas PG Gondang Baru. Konsep tersebut disepakati pula oleh Manajemen PTPN IX yang membawahi PG Gondang Baru. Dalam kesepakatan final, kewajiban penambahan BBT seluas 1000 Ha. dibagi sama antara petani tebu dan PTPN IX. Namun dalam implementasinya, PTPN IX tidak dapat memenuhi kesepakatan, karena tidak adanya ketersediaan dana.

Fenomena beku operasi ini bukan hanya terjadi di Gondang Baru. Pada tahun berikutnya, dua pabrik gula di lingkup PTPN IX mengalami nasib yang sama, yaitu PG Sumberharjo di Kabupaten Pemalang dan PG Jatibarang di Kabupaten Brebes. Ironisnya, fenomena BKO beberapa pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur disusul munculnya pabrik gula baru milik swasta. Bahkan tanpa dukungan kesiapan on farm sebagai pendukung bahan baku tebu (plasma). Pabrik gula swasta tersebut antara lain ada di Blora, Lamongan, Blitar, dan beberapa rencana di wilayah lain.

Apa pun yang dialaminya, Gondang Winangoen atau Gondang Baru sampai saat ini masih kokoh berdiri. Penuh wibawa dengan guratan-guratan bekas kejayaan masa silam. Bagi segenap kalangan, Gondang Baru adalah sebongkah berlian. Wahana bisnis yang menjanjikan, sekaligus menyimpan pesona dan potensi budaya. Sebuah prototipe perjalanan panjang peradaban manusia, dari masa ke masa.