Gagasan Seni Profetik, dari Kuntowijoyo hingga Muhammad Iqbal

Seni pewayangan, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, adalah media dakwah efektif. LAYERS OF LEARNING

Konsep atau gagasan seni profetik adalah ide yang dapat dikatakan baru. Sebab, saya belum mendapatkan referensi hasil studi tentang konsep maupun teorinya di lapangan pustaka. Meski demikian, beberapa ide pemikiran yang melandasi seni profetik dapat ditemukan dari beberapa pemikir kenamaan, mulai Kuntowijoyo hingga Muhammad Iqbal.

Maklumat sastra profetik, misalnya, adalah kelanjutan aplikasi konsep Kuntowijoyo dalam ilmu sosial profetiknya. Sebagai penggagas paradigma sosial profetik, Kuntowijoyo secara konsisten mengumumkan karya-karya sastranya yang ia maklumatkan sebagai sebuah karya sastra profetik. Kuntowijoyo menyatakan, sastra profetik mempunyai kaidah-kaidah yang memberi dasar kegiatannya, sebab ia tidak saja menyerap, mengekspresikan, tapi juga memberi arah realitas.[1]

Sidi Gazalba, dalam konsep filsafat Islam menyatakan, kedudukan seni dalam Islam adalah di bagian wilayah kebudayaan, sedangkan kebudayaan sendiri bagian dari Dien Islam. Dien Islam itu sempurna. Hal yang sempurna mengandung nilai 3B (Benar, Baik, dan Bagus). Benar ada di wilayah ilmu dan agama (Islam), Baik di wilayah etika, dan Bagus di wilayah estetika (seni).[2]

Sesuatu yang benar akan sempurna kalau ia juga baik dan bagus. Dan sesuatu yang bagus akan sempurna, kalau ia juga benar dan baik. Sesuatu dikatakan benar kalau sesuatu itu sesuai dengan obyeknya. Sesuatu itu baik, kalau ia mengandung nilai etik, dan sesuatu itu bagus, kalau ia mengandung nilai estetis.

Pendidikan seni Islam menurut Sidi Gazalba memiliki ranah yang penting di dalam wacana keilmuan, bahkan estetika atau seni menjadi salah satu unsur dari nilai kebijaksanaan universal sejajar dengan ilmu, agama, dan etika.[3] Namun perlu diakui, hingga sekarang, kebanyakan ulama masih berpendapat negatif terhadap kesenian. Hal ini perlu diluruskan kebenarannya, tentang bagaimana sebenarnya seni dalam Islam.

Tujuan ajaran Islam menurut Naquib Al-Attas harus mewujudkan manusia yang baik, yaitu manusia universal (Al-Insan Al-Kamil). Insan kamil yang dimaksud adalah manusia yang bercirikan, pertama, manusia yang seimbang, memiliki keterpaduan dua dimensi kepribadian, yakni dimensi isoterik vertikal yang intinya tunduk dan patuh kepada Allah serta dimensi eksoterik, dialektikal, horizontal, membawa misi keselamatan bagi lingkungan sosial alamnya. Kedua, manusia seimbang dalam kualitas pikir, zikir, dan amalnya.[4]

Untuk menghasilkan manusia seimbang bercirikan tersebut merupakan suatu keniscayaan adanya upaya maksimal dalam mengkondisikan lebih dulu paradigma pendidikan Seni Islam yang terpadu termasuk di dalamnya kesenian.

Cita Perubahan

Etika profetik dipaparkan Muhammad Iqbal dan menjadi landasan konsep ilmu sosial profetik Kuntowijoyo. Ia memaknai etika kenabian (profetik) sebagai etika transformatif.[5]

Iqbal menceritakan kata-kata Abdul Quddus, seorang mistikus Islam dari Ganggah, “Muhammad dari Jazirah Arab telah miraj ke langit yang setinggi-tingginya dan kembali. Demi Allah, aku bersumpah bahwa jika sekiranya aku sampai mencapai titik itu, pastilah aku sekali-kali tidak hendak kembali lagi.”

Sang mistikus tampaknya tidak memiliki kesadaran sosial. Baginya, keasyikan dan keterlenaan dalam pengalaman mistis adalah tujuan, sehingga ia tidak hendak kembali dan melihat realitas, menghadapi kenyataan.

Nabi bukanlah seorang mistikus. Nabi adalah seorang manusia pilihan yang sadar sepenuhnya dengan tanggung jawab sosial. Kembalinya Sang Nabi adalah langkah kreatif. Sehebat apa pun pengalaman spiritual yang dijalaninya, seorang Nabi tidak pernah terlena. Ia kembali memasuki lintasan ruang dan waktu sejarah, hidup dan berhadapan dengan realitas sosial kemanusiaan, serta melakukan kerja-kerja transformatif. Seorang Nabi datang dengan membawa cita-cita perubahan dan semangat revolusioner.

Untuk mengetahui kelayakan gagasan kesenian profetik dalam wacana filsafat kesenian, diperlukan pengayaan konsep tentang ilmu kesenian, yaitu seni, estetika, filsafat seni, filsafat Islam, pendidikan Islam, dan multi-disiplin ilmu yang melingkupinya.

[1] Kuntowijoyo. 2006. Maklumat Sastra Profetik. Yogyakarta: Grafindo Litera Media.

[2] Sidi Gazalba. 1988. Islam dan Kesenian, Relevansi Islam dan Seni Budaya Karya Manusia. Jakarta: Pustaka Alhusna. h. 118.

[3]ibid. h. 65.

[4] Achmadi. 1992. Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan. Semarang: Aditya Media dan IAIN Walisongo Press. h. 130.

[5] Muhammad Iqbal. 1966. Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam (The Reconstruction of Religious Thought In Islam). Terj. Osman Raliby. Jakarta: Bulan Bintang. h. 145.