Bengawan Solo, Sebuah Warisan Budaya Masa Lalu untuk Masa Depan

Potret Bengawan Solo yang dipublikasikan 1925 berjudul ‘Brug over de Bengawan Solo op Midden-Java’. UNIVERSITET LEIDEN

Setelah semalaman hujan deras tak berhenti, mulai pukul 21.00 hingga hampir pukul 03.00, Sungai Bengawan Solo pun kembali terisi. Musim kemarau berakhir. Bak tenggorokan kering usai memakan makanan cepat saji tak berkuah yang terisi oleh air minum. Mengalirkan sisa-sisa limbah air yang mampat di sungai-sungai kecil cabang Bengawan Solo.

Sore itu, tatkala pulang dari Kota Solo untuk urusan pekerjaan, sebuah keharusan untuk melewati Bengawan Solo. Dari jarak cukup dekat, yakni jembatan yang melintasi Bengawan Solo, tercium aroma amis, sedikit bacin, dengan warna sungai coklat kehitaman dan berbuih. Fenomena sungai seperti ini, oleh masyarakat sekitar, disebut sebagai ‘pladu’.

Limbah dari pabrik tekstil, peternakan babi, atau pabrik tahu mengalir dan mengikuti aliran sungai, menyebabkan aroma yang kurang sedap dan membikin ikan-ikan mabuk melayang, timbul-tenggelam ke permukaan air.

Aroma yang tak jarang tercium ini bersamaan dengan kegiatan warga di pinggiran sungai yang juga tak jarang dijumpai. Terlihat belasan orang berdiri membawa jala di ‘tambangan’ atau sejenis dermaga penyeberangan sungai pada zaman dahulu yang menggunakan tali tambang agar tidak terseret oleh arus sungai.

Tidak sedikit yang bisa didapat oleh para nelayan dadakan tersebut. Berkilo-kilo ikan bisa mereka dapatkan ketika pladu merebak di Bengawan Solo. Beberapa ikan dikonsumsi pribadi atau dijual kembali untuk membeli kebutuhan pokok lain.

Telah lama Bengawan Solo menjadi sumber kehidupan masyarakat pinggiran sungai, bahkan sejak zaman manusia purba. Hal ini dapat diketahui dari penemuan-penemuan yang kini menjadi koleksi Museum Besar Trinil dan Sangiran, berupa perkakas dan tulang belulang manusia dari endapan Sungai Bengawan Solo. Sungai pada masa lampau menjadi oukemene atau habitat yang layak untuk dijadikan sumber kehidupan manusia purba.

Sejarawan terkenal Jared Diamond mengungkap masa awal kehidupan manusia modern berawal dari habitat yang layak untuk ditempati dengan dukungan dari sumber air dan tanaman pangan yang berhasil didomestifikasi. Ketika perkakas saat itu belum mampu untuk menggali sumur dan mengairi sawah, sungai menjadi sumber pokok penting dalam kehidupan.

Sumber Penghidupan

Sungai Bengawan Solo terbentuk sejak ribuan tahun lalu, memanjang dari Wonogiri hingga Tuban, dan laut menjadi titik akhirnya. Selain sebagai sumber penghidupan, Bengawan Solo menjadi saksi hidup dan dapat berbicara melalui artefak hasil kebudayaan di masa lampau. Begitu penting Bengawan Solo secara ekonomi di masa lampau.

Menurut Bambang Sumardjoko, seorang akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dalam tulisan berjudul ‘Historiography & Mythology of Bengawan Sala’ yang dipublikasikan Universitas Pendidikan Indonesia, pada tahun 1916, Sungai Bengawan Solo mengalir dari Kedhuwang (Wonogiri) melewati Pajang, Sukawati (Sragen), Jagaraga (Ngawi), Madiun, Blora, Jipang, Tuban, Sedayu, dan Gresik. Secara umum, Bengawan Solo memiliki panjang sekitar 634 kilometer jika diukur dari Kota Solo hingga Gresik.

Bambang mengutip penjelasan Sebalt Wonderer dan Ryckloff van Goens, semasa Amangkurat I (Juli 1648), produk pertanian dari Mataram dibawa ke Gresik, Surabaya, dan dermaga sekitarnya untuk dijual melalui Bengawan Solo. Orang-orang membeli merica, kapas, dan kulit kerbau yang merupakan hasil alam kawasan pedalaman. Aktivitas perdagangan menguatkan pusat industri pedalaman seperti Baturana dan Gambudan di mana tempat pelayan kerajaan tinggal. Mereka membuat pernak pernik seperti permadani.

Pertahanan Strategis

Lain Kota Solo, lain pula Surabaya. Di Kota Pahlawan, sungai menjadi pertahanan strategis dalam peperangan, tatkala tahun 1620 Kerajaan Mataram dengan 70 ribu pasukan tentaranya menyerang Surabaya. Mataram mengalami kekalahan karena Surabaya memiliki benteng alami untuk menahan arus pergerakan tentara musuh dan jalur distribusi persediaan bahan makanan, yakni sungai dan laut.

Penggunaan sungai sebagai batas demarkasi, benteng, dan kekuatan politik-militer menjadi hal wajar di masa lalu. Surabaya, Mataram, Kartasura, dan Pajang yang dikelilingi sungai menggunakan batas alami itu sebagai strategi peperangan mereka.

Sebagai jalur transportasi di masa lalu Bengawan Solo memiliki legenda unik yang menjadi warisan tradisi untuk diperingati. Salah satunya, peringatan perjalanan Jaka Tingkir ke Demak melewati Bengawan Solo menggunakan perahu kecil. Jaka Tingkir dikenal sebagai pengambil alih kekuasaan Demak yang lantas berpindah ke Pajang selepas wafatnya Sultan Trenggono. Tradisi Larung Jaka Tingkir menjadi peringatan atas perjalanan Jaka Tingkir waktu itu.

Sungai hari ini tidak lagi menjadi jalur distribusi, kekuatan politik, maupun sumber cerita dan budaya. Ia hanya menjadi batas wilayah, jalur pembuangan limbah pabrik, tempat mencuci jeroan saat Hari Raya Qurban dan tempat masyarakat memperoleh ikan mabuk. Aktivitas kita yang kian menjauh dari sungai membuat semakin parah ketidakmengertian dan keterasingan kita tentang kondisi kekinian alam dan lingkungan sekitarnya.

Barangkali suatu saat, di masa yang jauh ke depan, apabila peradaban kita hancur, seperti yang pernah dialami manusia purba, bukan tulang belulang dan tengkorak atau perkakas yang ditemukan dan diteliti, melainkan botol minuman air mineral, bungkus sampo, dan sedimen limbah pabrik tekstil. Semua itu akan menjadi artefak abadi warisan kebudayaan kita di masa depan.