Tahu Goreng Hangat Wiharjo, Teman Setia Jogo Tonggo di Pos Ronda

Wiharjo saat menggoreng tahu dalam wajan penggorengan. (Foto: Pemkab Klaten)

Katen Utara-Cemilan tahu goreng adalah makanan yang memasyarakat dan banyak digemari banyak lapisan. Selain mudah didapat, rasanya gurih, harganya pun relatif murah. Namun makanan berbahan dasar kedelai itu paling nikmat digigit selagi hangat apalagi pada malam hari sambil ngobrol atau ngopi di pos ronda jaga keamanan lingkungan.

Bagi para penggemar tahu yang pengin menikmati dalam keadaan panas di malam hari, bisa mengunjungi rumah Wiharjo, pengerajin tahu yang tinggal di Jetis, Belangwetan, Klaten Utara, Klaten sebagai teman di waktu sunyi. Biar pun malam telah sunyi, tahu goreng Wiharjo tetap ready siap menemani.

Usaha tahu goreng Wiharjo agak unik. Ia menggorengnya di waktu malam hari, bahkan semalam suntuk sampai dini hari. Tahu gorengnya selalu ready dan hangat setiap malam. Jadi warga tak perlu kuartir ketika perut keroncongan, maka tahu hangat Pak Wiharjo bisa jadi teman di waktu sendirian sambil duduk di teras menikmati kopi atau teh hangat di tengah malam.

Pria 66 tahun ini didampingi sang istri tampak sedang menata potongan tahu di atas tampah (nampan bambu) tersusun rapi bersama ember putih berjajar berisi tahu. Tungku tanah setinggi 1 meter siap menyala menyangga wajan ungkuran jumbo penuh dengan minyak goreng yang panas.

Saat tahu-tahu itu dimasukan ke dalam wajan penggorengan, seketika aroma gurih menyeruak menusuk hidung, mengundang hasrat tak sabar untuk menggigit tahu hangat yang ditiriskan dari atas penggorengan.

Sejak Tahun 1991

Hawa yang dingin di malam hari tak dirasakan Wiharjo. Tungkunya yang selalu menyala dan minyak penggorengan yang panas menjadi teman setia bersama radio transistor jadul yang digantung di tiang teras rumah menyajikan tembang-tembang dangdut kesukaannya seyampang mengusir sunyi.

“Saya usaha penggorengan tahu sejak tahun 1991. Jadi sampai sekarang sudah 29 tahun bersama istri. Selain dijual ke pasar, sebagian besar tahu goreng saya ini sudah laku dibeli warga sekitar. Biasanya paling ramai itu setelah isya. Karena berbarengan (datang untuk beli) jadi terpaksa pembeli kadang harus mengantri” tutur Wiharjo sambil memasukan potongan tahu ke wajan penggorengannya.

Dalam semalam Wiharjo bercerita menghabiskan 50 kg kedelai untuk menghasilkan tahu goreng yang enak. Di masa pandemi ini tak berpengaruh terhadap usahanya. Stok bahan baku secara mudah didapat dari pemasok. Lockdown kemarin juga tidak mengganggu karena tutur Wiharjo warga pelanggan sudah tahu alamat rumahnya walaupun di apit gang – gang sempit.

Wiharjo mengaku tidak menggunakan gas untuk memasak. Ia mengandalkan grajen (serbuk kayu) untuk menyalakan api tungku penggorengannya. Maklum saja, di Desa Belangwetan melimpah grajen karena dikenal sebagai daerah penghasil mebel yang menjamur merata di setiap wilayah.

Namun kini Wiharjo mengeluhkan harga grajen yang terus merangkak naik. Baginya harga grajen menjadi pengeluaran yang banyak dari hal produksi

“Sekarang harga grajen terus naik. Satu armada sedang harganya sudah 80 ribu. Dengan grajen kayu glugu panas bisa maksimal. Kalau pakai gas, nanti panas berkurang dan biaya produksinya lebih tinggi. Mungkin dengan kayu rasanya (tahu gareng) itu jadi lebih enak” ujar Wiharjo.

Walaupun usianya tidak lagi muda, Wiharjo memilih setia dengan pekerjaanya sebagai pengerajin tahu goreng. Di usianya 66 tahun, Wiharjo masih terlihat kuat walaupun semalam suntuk harus menggoreng tahu demi menjaga kepercayaan pelanggannya yang berharap ada cemilan hangat teman ngobrol di pos ronda Jogo Tonggo, menjaga ketentraman warga di masa pandemi.

Tahu goreng tungku tanah milik Wiharjo warga Jetis, Belangwetan, Klaten bisa jadi kalah menarik dengan makanan modern ala cafe di kota besar. Wiharjo dan tahu gorengnya tetaplah punya segmen. Ia akan tetap mencoba bertahan diantara modernisasi cita rasa lidah masyarakat masa kini terus bergeser. Jelaga hitam yang melekat pekat di dinding dan atap genteng rumahnya akan menjadi saksi kesetiaan Wiharjo kepada pelanggannya, yakni cemilan tahu hangat teman ngobrol dan ngopi di pos ronda.

Berapa lama Wiharjo akan bertahan? Biarlah tunggku tanah penyangga wajan penggorengan itu yang akan menjawabnya bersama radio tarnsistor jadul yang menggantung di tiyang rumah yang setia menyanyikan lagu-lagu dangdut kegemaran Wiharjo di malam sunyi.

 

Add Comment