Setengah Lima, Secarik Kisah di Kaki Merbabu

Pawon. WIBOWO DJATMIKO

Meliuk-liuk kami melewati lembah, bukit, dan hamparan ladang sayuran. Disambut hawa dingin dan pipi kemerahan yang tersenyum manis sekali. Sore itu, kami sampai di kaki langit bernama Samiran, Selo, Boyolali.

Secangkir teh panas, suara sengau karena hawa dingin, dan sepiring nasi pecel hangat dengan imbuhan daun adas di atasnya… sempurna. Sanggup menarik mentari kembali ke peraduan. Dari sudut meja terdengar dendang band Ibu Kota, Efek Rumah Kaca. Mulut berkerut ikut merapal lirik lagu yang pedih. Kebetulan saja indah.

Tujuan kami bukan sekadar ‘menyapih howo’ di warung pecel itu, atau di warung jadah bakar di pengkolan jalan sebelah barat itu. Tujuan kami adalah untuk menunjukkan pada tua-muda, anak-anak kampung kaki Merbabu, tentang bagaimana menikmati hidup. Bagaimana hidup dengan tanpa beban, bertamasya tiap akhir pekan, dan membicarakan hal-hal besar yang meragukan dengan cara meyakinkan.

Dan kami berhasil. Tua-muda dan anak-anak terlihat sumringah mendengar kami datang merepotkan. Senyum lugu mereka adalah bekal tak mati untuk kunjungan kami selanjutnya. Duh, mulia sekali kami saat itu.

Melihat mereka bekerja keras, membersihkan sayuran kotor yang tak ada harganya, mewadahi sayuran, menghitung timbangan, menimbang laba-rugi yang lebih banyak ruginya itu dan menyisihkan sebagian banyaknya untuk kami bawa pulang.

Sesekali kami menengok ladang dan ternak mereka, sekadar menegaskan bahwa kami sedang berada di sebuah desa yang benar-benar desa dengan segala perniknya. Kami pura-pura merasa tidak enak dengan suguhan yang mereka berikan.

Tentu Mbok Yem orang yang paling ikhlas menyambut kami. Untuk kami, Mbok Yem rela menyisihkan sayur dagangannya yang paling baik untuk dimasak.

Saya yakin sayuran baik itu dihidangkan bukan karena menurut Mbok Yem, kami orang kota (kota?) yang kurang dapat jatah makanan sehat, sehingga perlu mendapat asupan makan sehat. Saya yakin, Mbok Yem dengan tulus menyuguhkan itu. Lihat saja, dia harus menyelesaikan pekerjaannya lebih awal hanya untuk menyambut kami. Menantu dan anak perempuannya juga diajarkan untuk menghormati kami dengan senyum renyahnya, dan pandangan bersih kepada kami.

Untuk menghindari kesan kurang ajar, kami menyempatkan diri untuk membawa oleh-oleh sekadarnya, seperti gula, teh tubruk, dan sedikit makanan ringan untuk cucunya. Kami tidak menyiapkan oleh-oleh itu dari rumah. Ada toko kelontong langganan kami di sana. Jika kebetulan toko kelontong andalan kami itu tutup, kami tetap pergi ke rumah Mbok Yem tanpa membawa oleh-oleh, dan itu sudah biasa.

Menjelang senja, hawa mulai dingin. Di luar, sepi. Kami berkumpul mengitari tungku masak, memperhatikan Mbok Yem mengolah makanan. Tungku itu masih menggunakan kayu kering untuk menghasilkan api. Minyak goreng garing membeku, berwarna putih susu seperti margarin. Teh panas dengan gula lempengan juga ada.

Jangan membayangkan seperti apa susahnya hidup di sana. Dengan tambahan beban, setiap ada tamu seperti kami yang datang berombong.

Entah bagaimana keadaan Mbok Yem malam ini. Di sini terasa dingin menusuk. Di sana tentu lebih dingin. Kamar Mbok Yem kecil, berada di sebelah kandang sapi penghasil pupuk kandang. Berada tepat di pojok sudut dapur sebelah barat. Hangat tapi gelap, dan bau kotoran sapi.

Setengah lima waktu itu. Dengan mata nanar kami tersenyum dan belajar bahwa yang baik tak selalu apa yang menjadi selera kami. Seperti sayur sehat yang dimasak Mbok Yem sore itu, yang malah terasa getir di lidah kami.

Ah, Mbok Yem. Kami rindu….

Add Comment