Seberapa Pokrol-kah Kita?

Gus Dur dan Mahatma Gandhi, dilukis oleh Djoko Susilo. MAHFUD MD

Beberapa kali saya terlibat diskusi tak berujung dengan kelompok ‘pokrol’. Kata ‘pokrol’ diambil dari istilah ‘pokrol bambu’, sebutan profesi hukum pada zaman Kolonial Belanda. Pokrol bambu adalah penasihat hukum yang belum memperoleh kualifikasi atau pendidikan hukum. Dahulu, pokrol bambu menjadi aktor penting dalam pelayanan hukum, karena masyarakat umum merasa berjarak dengan advokat yang berizin.

Kebencian menjadi bahan bakar utama penggerak kelompok pokrol ini. Sudah tak terhitung olokan mereka kepada Tuhan, kepada Utusan Tuhan, kepada firman Tuhan, dan kepada umat beragama lainnya. Sepertinya mereka pernah mendapat ‘pengalaman buruk’ berkenaan dengan Tuhan, Utusan Tuhan, firman-firman Tuhan, atau umat beragama.

Beberapa dari mereka mengunggulkan keyakinannya dengan meremehkan keyakinan orang lain. Tidak sedikit yang berkelakuan seperti bocah yang ribut sendiri tanpa alasan jelas. Padahal, jasad mereka sudah tidak muda lagi, tua dimakan usia.

Ada yang sok-sokan; yang muda sok tua, yang tua sok muda, yang bersih sok kotor, yang kotor sok bersih. Satu-dua orang merasa dirinya hebat dengan merendahkan lawan diskusinya. Saya sendiri pernah disebut sebagai ‘orang miskin bacaan’ gara-gara berpendapat lain. Padahal, menurut saya, yang paling penting dan yang paling dituntut dari setiap individu adalah mereka tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Artinya, sadar.

Saya berpikir, seperti apa kehidupan mereka sehari-hari. Penuh kebencian kah atau bagaimana? Jika demikian, lantas bagaimana mereka menjalin hubungan dengan lingkungannya. Saya berharap sikap merasa ‘paling segalanya’ itu hanya pada kelompok diskusi, tidak diluar, di kehidupan sebenarnya, di lingkungannya.

Gus Mus menulis, salah satu hak manusia paling asasi adalah keyakinan. Kita bisa mengajak orang untuk meyakini apa yang kita yakini, tetapi tak bisa memaksakannya. Nabi Ibrahim a.s. dengan segala kebijaksanaan yang ia miliki tidak bisa membuat sang ayah turut dalam keyakinannya, meski keyakinannya itu benar. Nabi Luth a.s. dengan kesantunannya atau Nabi Nuh a.s. dengan segala kewibaannya juga tak dapat membuat istrinya beriman.

Sebaliknya, Firaun dengan segala kekuasaan dan keganasannya tak mampu memaksakan kepercayaannya kepada Asiya, istrinya. Sepertinya, kelompok pokrol ini hendak mengulangi apa yang Firaun sudah lakukan.

Ke-Mahatma-an Gandhi

Patut jika kita mengenang Mohandas Karamchand Gandhi, tokoh besar India yang namanya mendunia. Mantan penasihat hukum yang kemampuannya melampaui disiplin ilmu yang digelutinya. Kawan karibnya, sastrawan besar dari Bengali, Rabindranath Tagore, menjulukinya ‘Mahatma’ yang berarti ‘Jiwa Besar’. Sejak saat itu, julukan Mahatma selalu ada dan bersanding dengan namanya, menjadi ‘Mahatma Gandhi’.

Nama Mahatma Gandhi mulai mendunia saat pecah perang saudara di India. Perang antara pemeluk Hindu dan Muslim. Gandhi berada di garis depan dalam upaya mendamaikan perang saudara itu. Perang yang membelah India menjadi dua negara, akibat perbedaan dan pertentangan agama. Berkali-kali Gandhi melakukan puasa dan berbagai usaha untuk mencegah terjadinya perpecahan itu, yang disebutnya ‘tragedi spiritual’.

Gerak-tindak Gandhi konsekuen dengan keyakinan dan ucapan-ucapannya, atau meyelaraskan tindak-geraknya dengan keyakinan yang dianutnya. Baik sebagai pemimpin gerakan sosial maupun tokoh gerakan politik, Mahatma Gandhi selalu menekankan perlunya manusia mendasarkan diri pada kebenaran dan kemurnian sarana-sarana yang dipergunakan.

Tidak banyak pemimpin masyarakat, dan hanya sedikit pemimpin politik sekarang ini yang pribadinya bisa tampil sebagai ‘kekuatan moral’ sehingga mampu menumbuhkan inspirasi yang berdaya gerak, seperti halnya Mahatma Gandhi.

Sebaliknya, kebanyakan mereka hanya pandai bicara, pandai menganjurkan, mahir menyusun kata-kata mutiara dan menggantungkan cita-cita setinggi langit, tetapi tindakan serta praktik mereka dalam kehidupan sosial dan permainan mereka di bidang politik, ternyata diametral bertentangan dengan apa yang mereka suarakan.

Inilah sebabnya, anjuran dan cita-cita yang mereka kumandangkan terasa hampa dan pidato-pidato mereka seperti ocehan pelawak di panggung pertunjukan. Almarhum Gus Dur melabeli kelompok seperti ini dengan sebutan ‘hipokrit’ atau munafik.

Gagasan-gagasan Gandhi didasari oleh prinsip humanitas atau perikemanusiaan. Dari titik tolak inilah ia mengusung gerakan untuk tidak menggunakan kekerasan (non-violence) dalam setiap aksinya.

Menurut Gandhi, kekuatan perjuangan dan tindak-gerak manusia harus disumberkan pada kebenaran dan cinta kasih. Perikemanusiaan selalu mengandaikan kebersamaan. Tidak hanya kebersamaan dalam memikul tanggung jawab, tetapi juga kebersamaan dalam menikmati hasil usaha pengembangan tanggung jawab itu. Tidak terlaksananya perikemanusiaan itulah yang menjadi sumber terjadinya berbagai macam tindakan kekerasan (violence).

Pemimpin Sejati

Bung Hatta, dalam tulisannya mengenang Sjahrir, menyinggung perjuangan Gandhi. Ia menulis, “Saya dari jauh membantu mereka. Saya pandang pembubaran PNI memalukan dan perbuatan itu melemahkan Pergerakan Rakyat. Di India terjadi yang sebaliknya. Tatkala Gandhi menyerukan kepada rakyat bergerak ke pantai untuk membuat garam sebagai aksi menentang suatu peraturan Inggris, 56 ribu rakyat ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Tetapi gerakan rakyat ke pantai itu berjalan terus, sehingga Pemerintah Kolonial terpaksa mencabut peraturan yang menjadi sebab oposisi yang hebat itu. Di Indonesia hanya empat orang pemimpin yang dipenjarakan, partai sudah dibubarkan karena takut Pemerintah Kolonial yang akan membubarkannya.”

Waktu itu, Hatta mengkritik pimpinan-pimpinan yang membubarkan PNI atas tertangkapnya Soekarno dan tiga orang temannya, dihukum penjara oleh Pengadilan Bandung. PNI dibubarkan oleh pengurus besarnya atas anjuran Mr. Sartono. Sebagai gantinya, mereka mendirikan Partai Indonesia. Bung Hatta menyebut mereka sebagai orang yang lemah dan tidak bersedia berkorban, hanya karena ancaman yang tidak lebih gawat jika dibandingkan dengan apa yang diterima oleh Gandhi dan pengikutnya.

Seorang pemimpin masyarakat sejati hanya bisa menginspirasi, apabila segala cita-cita yang dianjurkannya ia dahului dengan menerapkannya pada kehidupan pribadi. Dan baginya, ‘mengetahui adalah bertindak’.

Konon, setiap Senin, Sang Mahatma memaksakan diri untuk tidak bicara dan menggunakan hari itu untuk melakukan introspeksi, menulis, dan menilai kembali gagasan-gagasannya. Guna menghindari gaya pokrol.

Hari Jumat, 30 Januari 1948, sekitar jam lima sore, Sang Mahatma menuju tempat upacara doa, di mana hadir pula banyak orang. Sewaktu ia menaiki tangga ke panggung upacara, terdengarlah suara tembakan tiga kali, dan rebahlah tokoh India yang dihormati di seluruh dunia itu. “He Rama (Oh Tuhan),” begitu ucapnya sebelum mengembuskan napas yang terakhir.

Penembaknya seorang Hindu fanatik pokrol yang tidak menyetujui usaha Gandhi mencegah berkobarnya permusuhan. Orang yang gagal menerima fitrah perbedaan.

Add Comment