Sabtu Surakartan #001: Permufakatan Literasi Surakartan

Sabtu Surakartan #001 di nDalem Bagus Sigit Setiawan, Kartasura, Sabtu (24/10/2020). ASTAMA IZQI WINATA

Alhamdulillah, Sabtu (24/10/2020), Sabtu Surakartan #001 berjalan lancar. Bertempat di nDalem Bagus Sigit Setiawan, Kartasura, program bulanan bincang literasi dan potensi daerah tersebut menjadi forum komunikasi para Penulis Surakartan. Berteman tahu dan keripik pohung khas Jatinom, Klaten, serta teh nasgitel racikan tuan rumah, sore yang mendung itu terasa hangat dan inspiratif.

Acara dimulai dengan paparan apik Akhmad Ramdhon, penulis buku Merayakan Negara Mematrikan Tradisi: Narasi Perubahan Kampung-Kota di Surakarta (Pandiva Buku, 2020) tentang pentingnya menemukan hal menarik dalam setiap kampung, karena kampung adalah pembentuk kota. Kaya dengan referensi, pembahasan ini menarik para penulis yang hadir untuk berdiskusi lebih dalam.

Beberapa isu menarik mengemuka dalam Sabtu Surakartan kali perdana. Pertama, literasi mendapatkan proporsi pentingnya ketika sebuah daerah hendak dinarasikan. Sayangnya, tak banyak penulis atau komunitas yang dapat bertahan lama mengawal agenda literasi. Akhmad Ramdhon bahkan menegaskan, Kota Solo sebagai Kota Kapujanggan sesungguhnya memiliki sumber data melimpah yang dapat diolah menjadi tulisan berkualitas.

Kedua, perlunya kembali merekatkan relasi semua pemerintah daerah Surakartan untuk membangun konten kedaerahan bersama. Seperti diketahui, lebih dari satu dekade yang lalu, pernah ada upaya promosi wisata dalam satu wadah, tapi tak berlangsung lama. Wadah itu bernama Solo Raya Promosi (SRP). Karena, bagaimana pun, konten Surakartan memang manunggal. Kesaling-terkaitan antar-daerah membentuk narasi besar tentang sejarah dan dinamika kekinian yang bisa jadi, tidak dimiliki oleh daerah lain.

Rekomendasi ketiga menyoal dukungan pemerintah pada setiap pembangunan konten kedaerahan. Belajar dari Kota Yogyakarta, misalnya, setiap kali program konten kedaerahan diluncurkan warga, dukung pemerintah sangatlah kuat. Dengan begitu, masyarakat dan pemerintah dapat berada dalam frekuensi yang sama untuk terus mendokumentasikan daerahnya.

Isu keempat tentang pentingnya mendatangi semua kantong Penulis Surakartan untuk memaksimalkan sumberdaya yang ada. Teknisnya, Sabtu Surakartan dapat digelar berpindah-pindah, dari satu tempat ke tempat lain. Terlebih, secara geografis, untuk berkumpul di satu tempat dan menghadirkan semua penulis, bukanlah hal mudah.

Terakhir, melibatkan perguruan tinggi dalam gerakan literasi. Maksud dari poin ini bukan pada kerja sama formal untuk melahirkan konten akademis, tapi lebih pada membawa sumberdaya kampus ke dalam kehidupan masyarakat agar dapat menemukan banyak hal bermanfaat untuk dipelajari. Mahasiswa lantas menjadi terbiasa pada persoalan di tengah warga, karena pada praktiknya, mereka memang belajar dari cara warga berkehidupan.

Oktober 2020, rencananya digelar Sabtu Surakartan #002 yang tentu lebih menarik. Menuju agenda tersebut, dua naskah buku siap diterbitkan. Naskah pertama ditulis Muhammad Ansori, berjudul Gacuk, Merajut Cerita Bersama Sanggar Sayuk Rukun. Buku berkisah tentang serunya pembelajaran warga Girimulyo Klaten—sekira 15 km dari Gunung Merapi—bahkan hingga kegotongroyongan di masa pandemi Covid-19.

Naskah kedua ditulis Bagus Sigit Setiawan tentang Gerakan Syiar Islam di Nusantara, mulai dari kesejarahan hingga respons isu-isu kekinian. Buku dikemas bertutur dan menyentuh sisi humanis yang sangat personal, sehingga terasa emosional dan menggelitik. Mengkompilasi beberapa isu besar, kekuatan tulisan tampak pada keberaniannya untuk lugas pada ‘kesesatan pikir’ lantaran tidak berbasis literasi cukup.

Lebih dari semua itu, Sabtu Surakartan sebenarnya diniatkan pada ikatan silaturahmi yang harus menguat, di tengah berbagai masalah yang sekarang ada. Semoga tetap begitu, sampai kapan pun.