Merayakan Sumpah Pemuda Merawat Cinta Tanah Air

Kongres Pemuda di Solo, 28 Desember 1930-2 Januari 1931, melahirkan organisasi Indonesia Moeda sebagai penggabungan Jong Java, Pemuda Indonesia, dan Jong Sumatra. Sebuah gerakan nasionalis untuk membangun kesadaran ber-Tanah Air, berbangsa, dan berbahasa Indonesia. MC.AI

Ada ungkapan lawas, kendel ngringkel, dhadag ora godhag. Sebuah ungkapan berbahasa Jawa bermakna merasa wani (berani) dan pintar, tetapi sebenarnya penakut dan minim pengetahuan. Ungkapan lawas tersebut juga memberi pengertian tentang betapa pentingnya tahu diri akan kapasitas yang dimiliki agar tidak menjadi bahan tertawaan, ketika tidak mampu mempertanggungjawabkan apa yang diucapkan.

Dalam meyakini suatu sudut pandang, rupanya pengetahuan tekstual saja tidak cukup. Membaca saja belum tentu paham, dan paham pun belum tentu benar. Maka diperlukan pengalaman, baik pengalaman pribadi maupun yang diserat dari pengalaman-pengalaman banyak orang. Belajar dari pengalaman membuat manusia tidak njelungup (terjatuh) lagi di lubang yang jeblok.

Demikian pula semangat memaknai Sumpah Pemuda. Ikrar Pemuda-Pemudi Indonesia yang digagas 27-28 Oktober 1928 rupanya hari ini banyak dipahami sebatas tekstual, tidak dengan makna panjang yang melatarbelakangi lahirnya Sumpah Pemuda; bersatunya para jiwa muda yang mencetuskan kesadaran dalam kebangsaan.

Sumpah Pemuda menjadi wadah bersatunya jiwa muda tanpa memandang suku dan golongan bertujuan menghapus belenggu kolonialisme, dan bercita-cita menjadikan tanah air negeri yang lebih bermartabat. Seperti diungkapkan Sri Sudarmiyatun dalam buku berjudul Makna Sumpah Pemuda (2012), yaitu nilai patriotisme, gotong royong, musyawarah mufakat, cinta Tanah Air, kekeluargaan, persatuan dan kesatuan, kerukunan, serta tanggung jawab.

Berkaca dari sejarah bangsa, pemuda selalu mengambil peran dalam setiap zaman. Tahun 1966, dalam Peristiwa Tritura, pemuda ikut berperan menghapus gerakan komunisme. Pada 1998, pemuda ambil bagian dalam memperjuangkan Reformasi.

Ketika peristiwa-peristiwa itu hanya bisa ditemui dalam catatan sejarah, pemuda hari ini tetap harus berperan menghadapi tantangan global, seperti menghapus ketimpangan, memperjuangkan keadilan, dan semangat membangun bangsa dengan menghilangkan kepentingan-kepentingan sempit.

Pemuda memang diwajibkan cerdas dan dewasa dalam menyikapi segala sesuatu. Bukan saling kuasa-menguasai atau berebut pengaruh tidak jelas. Dalam catatan sejarah, sebelum Sumpah Pemuda dicetuskan, Kartini, misalnya, sibuk membela hak perempuan agar mendapatkan kesetaraan pendidikan.

Peristiwa Sumpah Pemuda dijadikan pijakan, paling tidak, harus memiliki kematangan bersikap dan cita-cita yang bermutu seperti Kartini, dan atau seperti golongan-golongan pemuda pencetus Sumpah Pemuda yang awalnya bersifat kedaerahan kemudian bersatu memiliki tujuan yang sama, yaitu demi kebaikan bangsa.

Pemuda yang Cerdas dan Peduli

Di tengah krisis kesadaran kritis kebangsaan, sifat tidak ingin tahu soal apa pun agaknya memang merepotkan. Pemuda diwajibkan harus cerdas dan peduli. Bahkan dalam pidatonya, Bung Karno pernah berkata, bila ia diberi 10 pemuda, dipastikan akan mampu mengguncang dunia. Soekarno tidak berbicara angka, melainkan menyoroti peran pemuda, sekecil apa pun, sangat diperhitungkan.

Bisa dibayangkan bagaimana remuknya tatanan jika pemuda yang menjadi harapan tidak memiliki daya pikir yang baik. Pemuda wajib cerdas. Jika pemahaman ikrar Sumpah Pemuda benar-benar telah paripurna, manusia akan selesai dengan dirinya sendiri, sehingga melahirkan gagasan dan laku yang bermanfaat untuk banyak orang.

Peristiwa Sumpah Pemuda yang diperingati setahun sekali diharapkan bukan seremonial kosong belaka. Bukan perayaan tahunan yang biasa saja. Ada makna mendalam mengenai cinta Tanah Air yang perlu dirawat dari masa ke masa. Api semangat yang terus dikobarkan demi terciptanya tatanan peradaban yang pantas dibanggakan.

Membusungkan dada dibarengi tindak-tanduk dan kesadaran yang baik akan lebih kajen (terhormat), atau diam daripada cangkeman (banyak bicara); jauh api dari panggang. Kiranya, memperingati Sumpah Pemuda memang dibutuhkan minuman berenergi, bukan sekadar kopi.

Sumpah Pemuda

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.