Ki Wongso Ijoyo, Ulama Patriot Penentang Perjanjian Giyanti

Lukisan berjudul ‘Aankomst van Dipo Negoro te Magelang’ karya J.P. de Veer yang menggambarkan pencarian pasukan Diponegoro oleh serdadu Belanda. GL KEPPER

Suatu ketika, semasa Orde Baru, seseorang datang pada Mbah Joyo Sentiko, warga Desa Gemampir, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten. Ia bermaksud menyelisik jejak Ki Wongso Ijoyo, ulama sekaligus pejuang yang melawan penjajahan Belanda di wilayah Kasultanan Mataram.[1]

Tanpa penjelasan berarti, oleh Mbah Joyo Sentiko, sang tamu dipersilakan kembali pulang. Tak ada informasi yang didapat tentang Ki Wongso Ijoyo.

Beberapa saat setelahnya, Nyai Joyo Sentiko mengumpulkan anak-cucunya. Ia berpikir, telah saatnya membuka rahasia keluarga yang selama ini tertutup rapat. Kepada anak-cucunya, ia mengaku sebagai keturunan Ki Wongso Ijoyo.

Beban trauma yang dialami oleh Nyai Joyo Sentiko rupanya cukup dalam. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikannya, “Kowe mengko ngulon, dibeleh Kraton. Sing penting kowe kabeh ngerti lan ojo lali perjuangane Mbahmu (Kalian nanti kalau pergi ke ‘barat’ hanya akan dibunuh oleh pihak Kraton. Yang penting, kalian, anak-cucu, tidak lupa pada perjuangan kakek kalian).”

Berasal dari Somopuro, Jogonalan, pada masa Kasultanan Mataram, Kiai Wongso alias Ki Jodongso alias Kiai Banteng adalah tokoh dakwah Islam di wilayah Gantiwarno, Klaten. Ketika Perang Jawa meletus (1825-1830), Kiai Wongso Ijoyo menjadi pengikut Pangeran Diponegoro. Ia menggerakkan santri-santrinya untuk melawan penjajahan Belanda. Salah satu santrinya yang cukup terkenal waktu itu adalah Kiai Mas Manshur (Babad Lotekol) yang juga syahid dalam perjuangan melawan Belanda.

Kiai Wongso tertangkap karena siasat yang dibuat oleh Mangkunegaran, yakni dengan dipanggil menghadap Raja untuk diberi anugerah, sehingga tidak boleh membawa persenjataan maupun prajurit. Setelah memenuhi panggilan, Kiai Wongso justru dijatuhi hukuman mati dengan cara dipenggal agar jejak dan ceritanya ‘hilang’. Bahkan keluarga dan keturunannya dihukum ‘tumpes kelor’, tidak ada yang diperbolehkan hidup.

Meski demikian, masih ada keturunan Kiai Wongso yang berhasil selamat dan melarikan diri ke wilayah Karangnongko. Demi keselamatan, keluarga sekuat mungkin menjaga rahasia ini.

Makam Kiai dan Nyai Joyo Sentiko di Gemampir, Karangnongko. MUHAMMAD ANSORI

Dalam kisah yang diceritakan Nyai Joyo Sentiko, Ki Wongso Ijoyo dipenggal kepalanya oleh Belanda yang bekerja sama dengan Keraton Yogyakarta. Ia menggunakan istilah ‘kulon’ atau barat. Setelah dipenggal, kepala Kiai Wongso Ijoyo ditancapkan di atas tombak dan dipamerkan di Alun-alun Klaten dengan maksud menakuti perjuangan rakyat yang memihak Pangeran Diponegoro.

Dalam kisah versi lain, kepala yang tertancap di ujung tombak masih bisa bersuara, “Hamuk-hamuk wong mangkunegaran,” berulang kali, sehingga rakyat di sekitar alun-alun ketakutan dan berlarian tak tentu arah. Konon, hal itulah yang menyebabkan orang sering buta arah di Kota Klaten sampai dengan saat ini.

Kepala tersebut masih terus berbicara sampai disatukan kembali dengan badannya dan dikebumikan di Desa Gesikan, Gantiwarno.

Menurut cerita tutur yang beredar di penduduk setempat penangkapan Kiai Wongso Ijoyo melalui pertempuran sengit. Ki Wongso terkena tembakan meriam, sehingga senjata andalannya, Tombak Kiai Banteng, terlepas, dan ia pun dapat ditangkap.

Menentang Perjanjian Giyanti

Ki Wongso Ijoyo merupakan seorang patriot. Sebelum Perang Jawa terjadi, ia konsisten menentang Perjanjian Giyanti (1755). Perjanjian ini membelah dua Negara Mataram menjadi Surakarta dan Ngayogyakarta. Bagi Ki Wongso, Perjanjian Giyanti hanya sebuah taktik penjajah untuk melemahkan kekuatan Mataram.[2]

Dari pemisahan tersebut, wilayah Gantiwarno secara geografis masuk wilayah Keraton Surakarta, sementara Ki Wongso lebih memihak ke Ngayogyakarta.

Makam Kiai Wongso Ijoyo di Gesikan, Gantiwarno. MUHAMMAD ANSORI

Karena alasan ideologis serta berbarengan dengan momentum Perang Jawa, Ki Wongso kemudian melakukan perlawanan dan akhirnya tertangkap dalam satu serangan yang dilakukan oleh prajurit Keraton Surakarta. Setelah tertangkap, karena dianggap memberontak maka dipenggallah kepalanya. Badannya dimakamkan di Gesikan dan kepalanya dibawa ke Surakarta.

Dalam versi lain, sebagaimana tertulis dalam buku Jawa Bandit-bandit Pedesaan, nama Jodongso disebut sebagai ‘bandit dari Surakarta’.[3]

Demikianlah, sejarah sering kali milik para penguasa. Tidak sedikit para pahlawan kemerdekaan yang kemudian dicap sebagai bandit, berandal, kecu, pemberontak, atau nama sejenis, terutama oleh penjajah Belanda waktu itu, sehingga banyak sejarah yang kabur atau dikaburkan, bahkan hilang.

 

[1] Wawancara dengan Purwaka Hari Setiawan berdasarkan cerita tutur dari para sesepuh pada trah keluarganya.

[2] Wawancara dengan Krasno Hernowo, warga Gesikan, Gantiwarno, yang sekarang tinggal di Yogyakarta. Kisah ini disampaikan ayahnya, Suharno, yang pernah menjabat Kepala Desa Gesikan periode tahun 1968-1985.

[3] Suhartono W. Pranoto. 1995. Bandit-bandit Pedesaan: Studi Historis, 1850-1942 di Jawa. Yogyakarta: Aditya Media.

Add Comment