Ketika Kesenian, Etika, Agama, dan Ilmu Tidak Terpisahkan

Lukisan tarian sufi. ASHRAF ALAZHARY

Sebagian besar wajah kesenian abad ini cenderung dikaitkan dengan hal yang negatif, seks, dan berbagai fantasi yang tidak baik. Maksud dari ‘fantasi tidak baik’ adalah fantasi yang mengundang imaji pornografis, menimbulkan bentuk-bentuk pemanjaan diri sendiri, tidak etis, dan yang biasanya menghasilkan berbagai nilai yang salah, seperti pemujaan pada kekuasaan, status, dan kekayaan.

Brian Magee dalam karyanya berjudul Men of Ideas: Some Creators of Contemporary Philosophy (1982) mengetengahkan pendapat Irish Murdoch, seorang novelis dan filsuf Irlandia-Inggris bahwa memang benar bahwa lebih banyak seni yang buruk daripada seni yang bagus di sekitar kita. Ironisnya, orang justru lebih menyukai seni yang buruk itu daripada yang baik. Bahkan Plato, Bapak Filsafat Yunani, berkeyakinan, seni pada hakikatnya adalah fantasi pribadi; suatu bentuk perayaan terhadap hal-hal tanpa nilai atau suatu bentuk penyelewengan dari hal-hal yang baik.[1]

Magee dalam dialognya di buku itu mempertanyakan, apakah kritik semacam itu hanya berlaku untuk seni yang buruk. Bagaimana halnya dengan seni yang baik? Menjawab pertanyaan ini, Murdoch mengatakan bahwa seorang penikmat seni bisa saja menggunakan hasil seni untuk melayani tujuannya sendiri, dan hanya seni yang bagus sanggup menolak tujuan-tujuan yang tidak baik dengan lebih berhasil.

Maksudnya, seseorang mungkin saja mengunjungi satu galeri hanya untuk menyaksikan citra (image) yang pornografis, padahal karya seni yang dipamerkan di sana barangkali tidak semuanya bisa menimbulkan citra pornografis. Kemungkinan suatu karya seni ditafsirkan secara tidak baik bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi.

Murdoch secara tegas menolak pornografi. Ditandaskannya bahwa pornografi mendatangkan akibat yang benar-benar merusak dan memerosotkan nilai seni, dan disayangkannya pula bahwa lebih banyak orang justru menyukai, seperti yang dikatakannya sendiri, karya seni picisan itu.

Karya Seni yang Baik

Lalu karya seni bagaimana yang dinilai baik oleh Murdoch? Menurutnya, karya seni yang baik adalah karya seni yang mengandung imajinasi bukan fantasi. Karya itu hendaknya mampu mematahkan kebiasaan kita untuk berfantasi, sekaligus mendorong kita berusaha untuk mendapatkan pandangan yang benar tentang hidup dan kehidupan.

Kita sering kali tidak berhasil melihat kenyataan dunia yang luas ini, karena pandangan kita dibutakan oleh obsesi, kekhawatiran, rasa iri, kejengkelan, dan ketakutan. Kita membangun dunia kecil kita untuk diri kita sendiri dan terkungkung di dalamnya.

Seni yang bagus, karya seni yang besar, kata filsuf perempuan itu pula, adalah karya seni yang bersifat membebaskan, serta memungkinkan kita untuk melihat dan mendapatkan kesenangan dari sesuatu yang bukan melulu kepuasan kita akan diri kita sendiri.

Karya sastra yang baik, tambah Murdoch, yakni karya sastra yang sanggup mendorong dan memuaskan rasa ingin tahu kita, serta yang mampu membuat kita menaruh perhatian kepada orang lain dan masalah-masalah lain, juga sanggup membuat kita bertenggang rasa dan lapang dada.

Beberapa ulasan para filsuf tersebut mengembalikan kesenian menuju tujuan dasarnya menurut falsafahnya, yakni kesenian yang baik selalu menghasilkan estetika yang baik pula, dan puncak estetika platonis adalah keindahan mutlak, yaitu keindahan Tuhan. Kecenderungan kesenian mengarah kepada hal yang positif memang sangat terasa diungkapkan para bapak-bapak filsuf kuno di Yunani. Selebihnya, kalau ada estetika platonis yang menuju keindahan Tuhan, Plato juga menyebut watak dan hukum yang indah.

Aristoteles mengatakan, keindahan adalah sesuatu yang menyenangkan dan baik. Plotinus bicara tentang ilmu dan kebajikan yang indah. Orang Yunani membincangkan tentang buah pikiran dan adat kebiasaan yang indah. Dalam pengertian yang luas, keindahan itu tidak hanya terbatas pada seni atau alam, tetapi juga pada moral dan intelektual. Moral yang indah tentulah moral yang baik dan intelek yang indah adalah intelek yang benar.

Jadi, tentu kita sepakat bahwa bagus, baik dan benar merupakan serangkaian nilai positif yang relasinya selalu bersifat holistik dalam keharmonisan.[2]

Menurut Sidi Gazalba, ‘bagus’ merupakan bagian dari aspek kesenian dan estetika, ‘baik’ dalam ranah etika, dan ‘benar’ lebih condong mengarah kepada ilmu dan agama. Tetapi semuanya itu menurut Sidi dalam filsafat pengetahuannya, agama pada dasarnya melingkupi ketiga-tiganya, baik itu bagus, baik, dan benar secara holistik dan komprehensif.

Kesenian Profetik

Kita perlu menyelisik kembali makna-makna kesenian positif tersebut yang saat ini terasa sudah tercerabut dari karya-karya seni dan bahkan dalam wacana filsafat seni. Selayaknya agama dan juga filsafat yang mempunyai arah dan tujuannya yang jelas dan pasti, konsep seni dalam filsafat seni dapat dikuak dan didapati arah dan tujuan berkesenian yang mencerahkan. Visi dan misi seni perlu dikembalikan kepada jalannya yang ‘lurus dan benar’.

Konsep kesenian profetik yang penulis tawarkan tentu akan lebih mewarnai dan menguatkan arah tujuan kesenian dan filsafat seni yang telah dirumuskan oleh para filsuf dan pemikir seni abad kuno Yunani-Romawi.

Kesenian dan Islam sangat erat hubungannya. Karya seni sering dijadikan alat untuk berdakwah dalam pengenalan tentang keindahan Sang Pencipta. Filsafat Islam mengajarkan bahwa konsep pengetahuan di dalam Islam tidak mengenal batas-batas parsial atau pun dualisme pengetahuan yang memisahkan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu dunia. Bagi Islam, semua ilmu pengetahuan satu dengan lainnya memiliki hubungan sinergitas yang sangat erat dan tidak bisa dipisah-pisahkan secara mutlak.

Apa yang dirumuskan Sidi Gazalba bahwa kesenian, etika, agama, dan ilmu mempunyai relasi sinergitas yang tidak terpisahkan adalah benar adanya bagi konsep Islam.

Dalam Islam, manusia diajarkan sikap hidup, tindakan, keputusan, dan pendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan. Mereka dipengaruhi sekali oleh nilai spritual dan sangat sadar akan nilai etis Islam, atau Islam mengantarkan manusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada syariat Allah.[3]

Searah dengan filosofi Islam, seni adalah hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya. Seni merupakan ekspresi jiwa seseorang. Hasil ekpresi jiwa tersebut berkembang menjadi bagian dari budaya manusia.

Seni identik dengan keindahan. Keindahan yang hakiki identik dengan kebenaran. Keduanya memiliki nilai yang sama, yaitu keabadian. Benda-benda yang diolah secara kreatif oleh tangan-tangan halus sehingga muncul sifat-sifat keindahan dalam pandangan manusia secara umum, itulah sebagai karya seni.

Seni yang terlepas dari nilai-nilai ketuhanan tidak akan abadi, karena ukurannya adalah hawa nafsu bukan akal dan budi. Seni mempunyai daya tarik yang selalu bertambah bagi orang-orang yang kematangan jiwanya terus bertambah. Di sinilah arti penting mengungkapkan gagasan orisinal mengkaji kesenian profetik, kajian seni, dan Islam.

[1] Ridwan Pinat meresensi buku Brian Magee dalam artikel berjudul ‘Men of Ideas’.

[2]  Sidi Gazalba. 1988. Islam dan Kesenian: Relevansi Islam dan Seni Budaya. Jakarta: Pustaka Alhusna. h. 118.

[3] Abdurrahman An-Nahlawi. 1995. Prinsip-prinsip Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga, di Sekolah, dan masyarakat. Bandung: Diponegoro. h. 26.

Add Comment