Kebudayaan Gula dan Masa Depannya

Pabrik Gula Mojo Sragen. KITLV

Aroma manis sisa pembakaran tebu menjadi gula menyeruak ketika saya memasuki Kota Sragen dari arah barat. Aroma khas setiap kota pemilik Pabrik Gula. Aroma manis itu dapat tercium dari jarak yang sangat jauh, dari Gedung Harmoni hingga alun-alun Sragen.

Salah satu penyebab aroma manis di udara dikarenakan pembuangan sisa Pabrik Gula ke selokan atau sungai kecil yang tepat dipinggir jalan raya. Apabila sungai mengalir dengan lancar tentu bukan menjadi soal, namun apabila mampat, air limbah berubah menjadi aroma yang agaknya seperti minuman keras. Bukan lagi manis, tapi masam.

Bulan Mei-Juli adalah masa awal musim Pabrik Gula. Biasanya, setiap proses giling akan atau sedang dimulai, terdapat pasar malam di sekitaran area pabrik. Sejenis acara selamatan, namun dibarengi pasar malam dengan aneka wahana khas. Pasar malam tidak hanya buka di malam hari, tapi juga siang hari.

Tebu tak seperti komoditas perkebunan lain, seperti palawija, buah-buahan, maupun hasil bumi pertanian. Tebu memiliki sejarah panjang dalam alam pikir rakyat Indonesia, terutama Jawa. Dalam manuskrip Sarjadi Soelardi Hardjosoepoetro, tebu diperkenalkan dan dijadikan komoditas dagang bernilai besar semenjak VOC masuk ke Pulau Jawa tahun 1595. Selama kurun waktu itu hingga abad ke-18, terdapat 130 gilingan tebu yang terletak di Jakarta ke barat hingga Banten.

Dinilai penempatan lokasi gilingan dan iklim area perkebunan yang tidak cocok ditanami tebu, karena area tersebut tidak terdapat kemarau yang nyata sebagai proses pematangan tebu, akhirnya, seluruh pabrik tutup, dan pada awal abad ke-19, pabrik didirikan bergeser ke timur di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan Pabrik Gula (PG) Kadipaten Majalengka terletak di paling barat.

Perpindahan Pabrik Gula dari barat ke timur membawa perubahan besar. Riset Clifford Geertz mencatat, sistem tanam paksa dan perkebunan tebu mengarahkan terjadi ledakan jumlah penduduk yang besar di Jawa.[1]

Sementara menurut Peter Boomgard, penduduk Jawa mengalami kenaikan sepanjang pengembangan Industri, terutama zaman liberalisasi dan politik etis. Meski tidak ada kejelasan pasti alasan kenaikan jumlah penduduk, namun pada tahun-tahun itu, produksi pertanian pangan dan pelayanan kesehatan meningkat yang berkontribusi terhadap panjangnya harapan hidup penduduk.[2]

Terlebih, Belanda telah mendapat keuntungan besar dari sistem tanam paksa, setelah merugi banyak dari perang besar Eropa dan peperangan melawan Pangeran Diponegoro selama lima tahun. Komoditas perkebunan dan pertanian dari Indonesia memberikan sumbangsih yang sangat besar terhadap perkembangan dan kemajuan Belanda.

Majalah Historia menyebut bahwa pada tahun 1930, ekspor gula dari Hindia Belanda merupakan ekspor terbesar kedua sedunia setelah Kuba. Bisa dibayangkan seberapa besar keuntungan yang didapat Belanda saat itu.

Salah satu lokasi perpindahan dan pendirian Pabrik Gula di Jawa Tengah adalah di Karesidenan Surakarta. Terdapat 16 Pabrik Gula di Karesidenan Surakarta. Sejumlah 10 pabrik berada di Klaten, Sragen dan Karanganyar memiliki dua Pabrik Gula, serta sisanya, Boyolali dan Sukoharjo masing-masing satu Pabrik Gula.

Namun sayangnya, hingga saat ini, hanya dua pabrik yang masih aktif dan beroperasi menghasilkan gula, yakni Pabrik Gula Tasikmadu dan Mojo Sragen. Beberapa pabrik tidak tutup dan terbengkalai begitu saja.

Ada tiga Pabrik Gula yang terkenal dan dijadikan obyek wisata, yakni Pabrik Gula Colomadu, Kartasura, dan Tasikmadu. PG Tasikmadu, meski masih beroperasi, namun mesin dan besi yang tidak trepakai dijadikan museum dan obyek wisata. Sementara seluruh areal Pabrik Gula Colomadu dan Kartasura dijadikan museum dan obyek wisata masyarakat lokal bahkan mancanegara.

Runtuhnya industri gula di Karesidenan Surakarta, juga di beberapa tempat, bukan tanpa sebab. Setelah kalah perang dari Jepang, hampir seluruh Pabrik Gula dihancurkan oleh Belanda, agar tidak dikuasai. Dalam manuskrip Sarjadi Soelardi Hardjosoepoetro juga dijelaskan, saat pendudukan Jepang, sulit untuk menemukan data mengenai industri gula di Indonesia.

Dalam manuskrip yang sama dijelaskan, untuk memulai kembali industri pergulaan di Indonesia setelah perang kemerdekaan agaknya susah untuk dilakukan. Karena perlunya modal untuk rehabilitasi pabrik yang tidak sedikit dan penataan ulang manajemen pabrik bersama dengan petani tebu yang cenderung memilih untuk menanam tanaman pangan berupa padi.

Relasi Pabrik Gula, Petani, dan Masyarakat

Industri gula tidak berhenti pengaruhnya hanya kepada petani yang dipaksa untuk menanam tebu, juga pada kebudayaan makanan mereka. Tetes tebu pengolahan pabrik bisa dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan ethanol, bahkan bisa dibikin ciu. Salah satu ciu yang terkenal, yakni Ciu Bekonang Sukoharjo. Harga ciu bekonang relatif murah, terjangkau bagi kaum murba yang ingin berekstase dalam kepenatan kerja dan ketiadaadilan kesempatan kerja.

Bahkan di beberapa tempat di pedesaan terdapat paguyuban bernama Panguci, akronim dari Paguyuban Ngunjuk Ciu (Paguyuban Minum Ciu). Biasanya, mereka minum ciu di tempat orang yang sedang memiliki hajatan, beserta dengan penari dan penyanyi khas koplo sambil berjoget ria, bahkan mengeluarkan sawerannya.

Namun, patut diingat, kebun tebu tetaplah memerlukan tanah, sama seperti padi. Mereka memiliki tantangan yang sama selain daripada ketersediaan pupuk, modal, dan sumber air, yakni pemisahan petani dari lahan yang dimiliki.

Perkebunan tebu tak lagi di pinggiran Pabrik Gula, melainkan di pinggiran, yang jauh dari kota. Tanah-tanah tersebut telah tersulap menjadi perumahan elite atau pabrik-pabrik yang hijrah dari ibu kota dan kota-kota besar.

Selain masalah tersebut, petani tebu dan Pabrik Gula menghadapi tantangan yang sama saat ini. Teringat pada Tetralogi Pulau Buru karya penulis kondang, Pramoedya Ananta Toer. Seorang petani bernama Trunodongso yang berdiri tegak melawan karena keengganannya menyewakan tanah kepada Belanda untuk ditanami tebu. Juga pada pemilik Pabrik Gula bernama Pelikemboh atas kuasanya mengawini gadis-gadis cantik anak bawahannya untuk dijadikan gundik.

Sekarang, tak lagi hitam putih relasi Pabrik Gula dengan petani dan masyarakat. Mereka dihadapkan pada gula-gula impor yang memiliki biaya produksi dan harga jual lebih rendah.

Kini, angin berbalik arah membawa keduanya ke dalam arus besar yang sama. Pelikemboh dan Trunodongso bersama-sama menghadapi perdagangan global. Bisa jadi, suatu saat, gula mereka tak lagi dibutuhkan. Pekerja murba dan masyarakat desa tak lagi bisa berekstase ria. Petani tak lagi beruntung di tengah tanah kutukan.

Apa yang bisa dilakukan? Memuseumkan pabrik, menjual tanah, dan mendaftarkan diri sebagai pekerja di pabrik terdekat.

 

[1] Deputi Bidang Pengkajian dan Pengembangan Sistem Informasi. 2004. Dinamika Konflik dalam Transisi Demokrasi: Informasi Potensi Konflik dan Potensi Integrasi Bangsa (Nation and Character Building). Jakarta: Lembaga Informasi Nasional.

[2] Irhash Ahmady dkk. 2010. Java Collapse dari Kerja Paksa Hingga Lumpur. Jakarta: WALHI.

Add Comment