Jalan Panjang PG Gondang agar Tetap Kumandang

Foto kereta lori tebu PG Gondang yang dipublikasikan tahun 1921. UNIVERSITET LEIDEN

Pabrik Gula (PG) Gondang bukan hanya tentang produksi gula. Jejak panjang sejarah eksistensinya, sejak masa kolonial hingga sekarang, tak dapat dihapuskan oleh kerikil kecil bernama ‘kalah berkompetisi’. Pabrik yang berlokasi di Desa Plawikan, Jogonalan, Klaten, ini terakhir beroperasi pada tahun 2016, yang berarti hilang pula pekerjaan ratusan pegawai tetap di sana.

PG Gondang atau PG Gondang Winangoen atau PG Gondang Baru didirikan pada masa hampir berakhirnya Tanam Paksa, atau tepatnya 1860, oleh NV Klatensche Cultuur Maatschapij yang berkantor pusat di Amsterdam, Belanda.

Salah satu keunikannya, PG Gondang masih memakai teknologi mesin uap buatan Prancis, B. Lahaye & Brissoneau, yang dibuat tahun 1884. Untuk mengangkut tebu dari tempat penimbangan ke tempat penyimpanan juga masih menggunakan kereta lori.

Dahulu, PG Gondang dikelola oleh NV Mirandolle Vaute & Co yang berkedudukan di Semarang. Nama Gondang Winangun diambil dari kawedanan Gondang Winangun, onderdestric Jogonalan, Karesidenan Surakarta, tempat pabrik didirikan.

Kini, di dalam pabrik masih tersimpan alat-alat pembuatan gula, diorama pabrik gula dan perkebunan tebu, foto-foto bersejarah, alat-alat komunikasi lama, lokomotif kereta tebu (montit), bus karyawan, mobil pejabat saat itu, mesin-mesin produksi, bengkel, rumah dinas, ruang kerja, serta halaman depan dan belakang yang sangat luas.

Dilihat dari segi usia, sejarah, dan kondisi bangunannya, PG Gondang layak dijadikan Kompleks Benda Cagar Budaya (BCB). Sebagai BCB, pabrik ini mempunyai nilai historis, estetika, asosiatif (simbolis), sosial, ekonomi, informasi, serta individu dan komunitas. BCB dapat dimanfaatkan untuk kepentingan agama, pendidikan, ilmu pengetahuan, sosial, dan pariwisata.

Pabrik Gula Gondang Baru—perubahan nama pertama—adalah satu-satunya museum gula peninggalan Belanda di dunia. Museum didirikan pada tanggal 11 September 1982 atas prakarsa Soepardjo Roestam, Gubernur Jawa Tengah saat itu. Tujuan pendirian museum adalah untuk melihat dan mempelajari sejarah industri gula di Indonesia, penelitian tentang seluk beluk gula, serta wisata edukasi. Pabrik gula ini berganti nama setelah mengalami situasi pasang-surut, seperti krisis ekonomi dan beberapa kali pengambilalihan kuasa.

Di sebelah barat Pabrik terdapat sebuah museum yang dibangun sebagai sarana merepresentasikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan dalam produksi gula pada zaman Belanda. Seluruh teknologi yang merupakan bagian dari potongan sejarah itu diambil dari Pabrik Gula Gondang Baru.

Dari depan, bangunan museum terbagi menjadi tiga ruangan utama. Ruangan paling barat merupakan wadah yang menyuguhkan miniatur pabrik secara lengkap beserta tradisi ‘cembrengan’ yang diabadikan dalam beberapa foto.

Beralih dari ruangan paling barat, kami memasuki ruangan lain. Di dalamnya terdapat koleksi alat pertanian yang digunakan untuk bertanam tebu. Selain itu, terdapat contoh jenis-jenis tebu, lengkap dengan tanaman-tanaman pengganggunya.

Ruangan paling timur adalah ruang kerja yang di dalamnya terdapat meja dan kursi lawas, foto-foto pemrakarsa pabrik dari tahun ke tahun, hingga berbagai macam kalkulator lawas dan mesin ketik yang pernah digunakan untuk bekerja. Semua benda peninggalan tersebut disusun dengan rapi dan apik, sehingga dapat membawa kesan kita untuk kembali pada puluhan tahun silam.

Di sudut ruang kerja, ada sebuah pintu yang dapat membawa kita pada sebuah ruangan lain, di mana banyak alat tradisional yang dulunya digunakan untuk memproduksi tebu di pabrik. Seluruh alat yang ada dalam museum tersebut terlihat masih utuh dan terawat.

Ada sebuah makam bernisan datar dengan ukuran cukup panjang, sekira 2 m. Di sana, Direktur PG Gondang yang pertama, Mr. Meyer, dimakamkan.

Dari halaman belakang terlihat benda atau batu batu bersejarah masa mataram kuno, seperti yoni, Jaladsvara (jalan air), patung ganesha, patung lembu andini, beberapa batu, dan bahkan, ada patung era mataram kuno yang tergolong langka.

Sampai di halaman belakang pabrik, saya dibuat takjub karena banyaknya lokomotif, mobil operasional, rumah dinas, dan ‘tumpukan’ kereta pengangkut tebu yang tertutup rumput maupun ilalang.

Ketika memasuki ruang utama produksi, saya disuguhi alat-alat berukuran raksasa di dalam sebuah gedung yang begitu besar dan tinggi. Di sanalah proses penggilingan tebu hingga menjadi gula kristal dilakukan.

Ritual Cembrengan

Sewaktu PG Gondang Baru masih operasional—biasa disebut ‘giling’—setiap tahun, menjelang pelaksanaan giling selalu didahului dengan prosesi ‘selamatan giling’ atau sering disebut dengan istilah ‘cembrengan’.

Cembrengan dilaksanakan setelah seluruh rangkaian mesin produksi dinyatakan siap operasional melalui steam test atau tes kesiapan dan kelayakan. Demikian pula kesiapan Bagian Tanaman yang bertugas menyiapkan bahan baku tebu (BBT) beserta seluruh mitra (petani tebu binaan). Rangkaian prosesi berlangsung selama lebih kurang satu minggu. Sebelumnya diawali dengan pasar malam, berbagai lomba untuk karyawan dan batih-nya (saudara), serta acara publik seperti sepeda santai dan jalan santai, dengan membagi berbagai doorprize.

Inti acara cembrengan diawali dengan berziarah ke makam Mbah Meyer di emplasemen Gondang Baru. Pada hari yang sama, biasanya bakda Asar, juga dilaksanakan ziarah ke makam Mbah Drajat dan Tuan atau Mbah Bremen di emplasemen Ceper. Acara ziarah diakhiri dengan pembacaan yasin-tahlil seluruh peserta ziarah, yakni karyawan, petani tebu, dan unsur Pemerintah Desa setempat. Sesekali acara ziarah dilaksanakan di Girilayu dan Mangadeg, makam raja-raja Mangkunegaran di Karanganyar.

Hari berikutnya, dilaksanakan ritual ‘petik Tebu Temanten’. Tebu Temanten pria dan wanita diambil dari kebun dan wilayah yang berbeda sesuai arahan ‘sesepuh’. Tebu Temanten pria berasal dari kebun milik petani, sedangkan temanten wanita dari kebun milik PG (tebu sewa). Adapun nama dari masing-masing Tebu Temanten sesuai dengan petunjuk dari orang yang dituakan pada waktu itu. Di samping Tebu Temanten, diambil pula tebu pengiring temanten kurang lebih 20 batang yang berasal dari kebun wilayah lain.

Malam harinya, sebelum petik Tebu Temanten dilaksanakan, digelar malam tirakatan di kebun Tebu Temanten oleh pejabat dan karyawan PG, petani tebu, dan masyarakat sekitar. Tebu Temanten dan tebu pengiring dari kebun dibawa ke Kantor tebang dan angkut untuk dihias dan disemayamkan semalam.

Pada hari yang sama, saat ritual petik Tebu Temanten, sore harinya bakda Asar, dilaksanakan ritual ‘pasang sesaji’ di masing-masing stasiun atau unit mesin dalam pabrik dan tempat-tempat lain dalam emplasemen sesuai arahan sesepuh, termasuk penguburan kepala kerbau. Setelah Isya, dilaksanakan ritual doa keagamaan di beberapa tempat berbeda, sesuai agama masing-masing, kemudian dilanjutkan dengan ‘malam midodareni’.

Pagi harinya, pukul 06.00 dan harus pasaran Legi, dilaksanakan prosesi ‘resepsi selamatan giling’ diawali dengan arak-arakan Tebu Temanten ‘menuju tempat resepsi’. Sebelum Tebu Temanten dipajang di panggung tempat resepsi, diadakan ritual ‘pasrah’ atau penyerahan Tebu Temanten. Pasrah oleh petani tebu dan Bagian Tanaman diserahkan kepada Pimpinan PG dan pejabat dalam pabrik (masinis). Usai acara pasrah, Tebu Temanten dipajang di tempat resepsi.

Selesai resepsi, Tebu Temanten dan pengiringnya dimasukkan ke meja tebu untuk digiling. Sebagai simbol bahwa kegiatan giling sudah dimulai. Arak-arakan Tebu Temanten biasanya diikuti oleh Pejabat PTPN IX, Muspida, Muspika sampai Pemerintah Desa, perwakilan karyawan, serta masyarakat dan beberapa bentuk kesenian sekitar.

Tahapan Giling

Tebu yang akan digiling dimasukkan ke dalam mesin penggiling untuk dilakukan beberapa proses pemerasan agar diperoleh air tebu secara maksimal dan ampas menjadi kering. Ampas tebu yang telah kering disalurkan ke ruang ketel untuk menjadi bahan bakar mesin-mesin uap, sedangkan air tebu (nira) yang telah ditampung disalurkan ke stasiun penyaringan untuk dibersihkan dari kotoran, dengan mencampurkan susu kapur, berupa campuran air kapur gamping dan gas belerang dioksida, sampai kotoran mengendap.

Air tebu yang telah bersih kemudian dipanaskan agar dapat menguap, sehingga yang tertinggal adalah tetes tebu (molase) dan endapan gula. Tetes tebu ini kemudian dipisahkan dari endapan gula. Endapan gula lalu dijadikan kristal dengan cara diputar menggunakan mesin sentrifugal—mesin ini bekerja seperti pembuat arum manis.

Endapan gula harus diputar dengan kecepatan tinggi hingga terbentuklah kristal-kristal gula, karena jika putaran tidak cepat maka akan diperoleh gula kental, yakni semacam gula merah yang sudah dingin. Setelah kristal-kristal gula terbentuk, dilakukan tahap pendinginan dan pengayakan. Semakin kecoklatan warna gula maka rasanya semakin manis. Setelah selesai diayak, gula pun dikemas ke dalam karung-karung yang dijahit dan siap untuk didistribusikan.

Puncak prosesi ditutup dengan gelaran wayangan semalam suntuk. Lakonnya sesuai situasi yang terjadi saat itu.

Gondang Winangun memang tidak secanggih museum sepantarannya. Tidak ada teknologi canggih, tidak ada booklet, tidak ada alat peraga, tidak ber-AC, atau semacamnya. Namun, ia mempunyai peran penting dalam kehidupan masyarakat Klaten, dahulu, kini, dan hingga kapan pun. Oleh karena itu, dukungan dari warga setempat, baik berupa sejarah, kemanfaatan, sampai keberadaannya merupakan hal yang sungguh berarti agar Gondang tetap ‘kumandang’.

Add Comment