Cawas, Antara Legenda dan Kesaksian Pecahnya Jawa

Tugu Tapal Batas Surakarta dan Yogyakarta. KOMUNITAS CAWAS KLATEN

Cawas, sebuah kecamatan di Kabupaten Klaten yang berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo (timur) dan Gunungkidul (selatan), menyimpan legenda menarik seputar asal-usulnya. Setidaknya ada tiga legenda yang sampai sekarang masih beredar dari mulut ke mulut warga setempat.

Kisah legenda pertama, hiduplah sepasang suami istri. Suami tinggal di rumah istrinya bersama mertua. Suatu ketika, muncullah konflik rumah tangga. Diusirlah sang suami oleh mertuanya. Tetapi, setelah kepergian suaminya, si istri justru jatuh miskin. Ia pun berkelana mencari suaminya.

Sesampainya di suatu tempat yang cukup ramai, semacam pasar, si istri mendapati suaminya yang sedang berdagang dengan cara tidak jujur. Di antara praktik licik yang dilakukan si suami, seolah-olah mampu menghidupkan kerbau mati hanya dengan menyumpal telinganya dengan kapas.

Seiring waktu berjalan, kebohongannya pun terungkap. Kapas kosong (gabug), oleh masyarakat setempat disebut dengan ‘cawas’, sebagai sarana menghidupkan makhluk yang sudah mati telanjur melegenda. Daerah ini lantas disebut dengan nama ‘Cawas’.

Kisah legenda kedua, Cawas berasal dari nama pohon cawas, satu-satunya pohon di dunia yang hanya dapat hidup di Dukuh Cawas. Sayangnya, bentuk dan wujud pohon cawas sulit dispesifikasi secara ilmiah.

Legenda ketiga, Cawas berasal dari kata Bocah Awas, anak yang mempunyai ketajaman indra batin. Julukan Bocah Awas dinisbahkan kepada Sunan Kalijaga yang sempat mampir di wilayah itu, menyebarkan agama Islam.

Bahkan ada beberapa tempat yang diyakini sebagai jejak-jejak peninggalan Sunan Kalijaga. Misalnya, sebuah batu di Dukuh Sepi, Desa Barepan, yang diyakini sebagai tempat sholat Sunan Kalijaga. Tempat tersebut banyak dikunjungi para peziarah, terutama pada malam 1 Suro atau malam tahun baru Hijriah.

Ada juga legenda tentang Pohon Walikukun di Desa Balak yang diyakini berasal dari tongkat Kalijaga yang kala itu ditancapkan, ketika menunaikan sholat. Usai menunaikan sholat, Sunan Kalijaga lupa mencabut tongkatnya, dan seiring waktu, berubahlah tongkat menjadi pohon.

Cawas dan Mataram

Hal menarik lain yang bisa ditemui dan digali lebih jauh tentang Cawas adalah adanya sebuah tugu dengan pola bangunan era Mataram di Dukuh Betro, Desa Burikan. Tugu ini merupakan tapal batas wilayah antara Kasultanan Ngayogyakarta dengan Kasunanan Surakarta Hadiningrat setelah Perjanjian Giyanti (1755).

Sebagaimana banyak ditulis dan diceritakan, Perjanjian Giyanti merupakan perjanjian yang mengakibatkan pecahnya Jawa era itu, sebagai upaya licik Belanda untuk melemahkan kekuatan Nusantara.

Dengan dalih meredam konflik antara Pakubuwana III dan Mangkubumi yang salah satunya disebabkan karena batas wilayah kekuasaan yang tidak jelas, Belanda mendorong disepakatinya sebuah perjanjian di antara kedua penguasa.

Disepakatinya Perjanjian Giyanti memang bisa meredam konflik dan peperangan antara Pakubuwana III dan Mangkubumi, tapi tidak serta merta dapat menyelesaikan persoalan pelik lain, misalnya batas kerajaan. Belanda lantas mendorong dibangunnya tugu tapal batas di antara keduanya (1830), yang kemudian disepakati antar-pihak dan juga oleh Belanda, terletak di Betro, Burikan, Cawas.

Perjanjian Klaten

Pada 27 September 1830, dua bulan setelah Perang Jawa berakhir, Belanda mendorong kedua kerajaan untuk menetapkan suatu batas di antara mereka. Diadakanlah sebuah kesepakatan yang kelak terkenal dengan sebutan Perjanjian Klaten.

Pasal pertama perjanjian itu menyatakan bahwa untuk menetapkan batas pemisah yang dibuat umum dan permanen, pada hari ini dan untuk seterusnya daerah Pajang dan Sukowati menjadi milik Paduka Susuhunan dan daerah Mataram dan Gunung Kidul menjadi daerah Paduka Sultan Yogyakarta.[1]

Bangunan yang dijadikan penanda adalah Tugu Tapal Batas yang berada di antara lereng pegunungan daerah Klaten dan Gunungkidul. Pendirian tugu ini didasari pasal ketiga yang berbunyi, “Garis batas antara daerah Pajang dan Gunung Kidul adalah lereng pegunungan selatan di sisi utaranya. Di sepanjang lereng ini sejauh mungkin dan untuk menegaskannya, tonggak dan pohon menjadi petunjuknya.”

Sampai hari ini, tugu tersebut menjadi penanda perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebenarnya, ada dua Tugu Tapal Batas. Satu milik Kasunanan Surakarta dan satu lagi milik Kasultanan Yogyakarta. Jika melihat tugu dari arah Klaten maka milik Surakarta berada di sebelah kiri dan Yogyakarta berada di sebelah kanan. Kedua tugu masih berdiri kokoh di sana. Tugu Kasunanan Surakarta didirikan terlebih dahulu daripada Tugu Kasultanan Yogyakarta. Kasunanan Surakarta mendirikan tugunya pada 22 Redjeb 1867.

Tugu tersebut, selain menjadi saksi terpecahnya Jawa-Mataram sekaligus bisa dibaca sebagai narasi tentang betapa hebatnya kekuatan Jawa pada waktu itu—sebelum Perjanjian Giyanti—dan bagaimana pula dahsyatnya akibat yang ditimbulkan dari ambisi kekuasaan dan perpecahan. Tidak heran banyak masyarakat yang kemudian berupaya ‘menggugat’ Perjanjian Giyanti dalam artian ingin menyatukan kembali Jawa secara rasa, makna, dan spiritual.

[1] Seperti dikutip LG. Jabbar dalam skripsinya di Universitas Negeri Yogyakarta (2016) berjudul Perjanjian Klaten 1830: Dampaknya pada Kasultanan Yogyakarta. h. 63.