Balada Sore Kartasura Bulan Oktober

Aksi demonstrasi mahasiswa menolak Undang-Undang Cipta Kerja di Bundaran Kartasura, Kamis (8/10/2020). DENI AGUNG

Kamis sore (8/10/2020), seorang bapak sepuh menghampiri saya. Dengan suara agak keras seraya menunjuk sebuah bangunan, tepat di seberang jalan kami berdiri, beliau berpesan, “Pak, tolong kalau pendemo sudah membakar tempat itu, tolong ditangkap saja.”

Si Bapak mungkin mengira saya aparat keamanan yang sedang menyamar menjadi marbot masjid atau semacamnya. Kebetulan saya datang ke titik demonstrasi mengenakan songkok hitam, baju koko putih, dan celana kain hitam. Ditambah sarung yang saya kalungkan di leher.

Kebetulan, saya memang ada jadwal berjumpa dengan petugas BPN untuk mengukur ulang tanah Madrasah Al-Mustaqim Purwogondo, tak jauh dari Tugu Kartasura, tempat para demonstran berkumpul.

Cak Dullah, kawan baik saya, penjual sate di pojok pertigaan sebelah selatan Tugu Kartasura meminta saran kepada saya, apakah warungnya musti ditutup. Saya sampaikan, tidak perlu. Sebab, kawan-kawan pendemo cukup mengerti, mana yang tidak boleh dilakukan dan mana yang boleh. Menyasar pedagang yang ada di sekitar aksi demonstrasi jelas perbuatan yang tidak mungkin dilakukan.

Cak Dullah juga bercerita, sebelumnya, ia diwanti-wanti seorang mahasiswa agar berhati-hati jika nantinya ricuh.

Kekhawatiran bapak sepuh dan banyak warga lain cukup beralasan dalam soal ini. Kami masih ingat, betapa kacaunya aksi massa pada tahun 1998 dulu.

Selain Solo, Kartasura sebagai pusat ekonomi menjadi sasaran empuk pembakaran pertokoan dan penjarahan. Warga tidak ingin peristiwa itu terulang lagi, yang berdampak pada lumpuhnya perekonomian di Kartasura, sebab banyak fasilitas publik rusak terbakar, toko terbakar, dan lainnya.

Saya ingat, setelah peristiwa huru-hara 98, banyak sudut kota yang lengang, kosong, tidak berdaya hidup, dan itu berlangsung cukup lama.

Kekhawatiran natural atau naluriah inilah yang kemudian sering dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk membenturkan massa aksi dengan massa warga di lingkungan tempat aksi itu digelar. Ini sering terjadi, seperti dulu Jagoan Ibu Kota yang merasa perlu turun untuk menghalau massa Pasukan Berani Mati pendukung Gus Dur, menjelang Gus Dur dilengserkan.

Kekhawatiran yang juga sering diantisipasi oleh Koordinator Lapangan (Korlap) aksi untuk selalu waspada dengan terus menyeru melalui megaponnya, agar berhati-hati pada provokasi.

“Hati-hati… hati-hati provokasi.”

Jika kemungkinan buruk ini diabaikan dan tidak diantisipasi maka tujuan aksi menjadi tidak berarti lagi. Mereka akan mendapat cap buruk dari masyarakat. Lebih jauh, mendapat perlawanan, dan tujuan sebenarnya tidak akan sampai. Kepentingan bersama menjadi ambyar. Kepentingan pihak tertentulah yang ada.

Kemarin, sejumlah massa mulai membakar barang juga menggulingkan pembatas jalan di depan Pasar Kartasura. Malamnya, setelah aksi rampung, sejumlah relawan masyarakat Kartasura bergotong royong menata pembatas jalan itu lagi, serta membersihkan sampah di seputaran Tugu Kartasura.

Sebelum pulang, saya berjumpa dengan kawan dari UMS yang aktif di HMI. Lama kami tak berjumpa. Kawan ini sudah tidak lagi berjas almamater, tapi saya lihat ia sibuk mengatur barisan. Saya juga melihat kawan mahasiswa UMS banyak yang hadir dengan jas biru mudanya.

Sebelumnya lagi, saya berjumpa dengan kawan dari IAIN. Saya bertanya, “Apa kawan PMII ikut?”

Dia menjawab, “Hanya sedikit di Kartasura. Sebagian besar bergabung di titik aksi lain, di Gladak Solo.”

Kepada keduanya, saya titip pesan, “Hati-hati.”

Beberapa mahasiswa meneriaki kawannya yang mengambil foto atau video menggunakan ponsel.

Nek arep melu, melu wae. Aja malah njupuk video. Mesakke wajahe kancamu kerekam. (Kalau mau ikut, ikut saja. Jangan malah merekam. Kasihan wajah kawanmu terekam)”

Ini bentuk aksi antisipasi. Banyak yang tidak sadar, mengambil gambar di tengah demonstrasi, yang nantinya justru merugikan barisan aksi. Gambar-gambar itu bisa jadi merekam wajah para demonstran, yang bisa jadi juga menjadi bahan bagi aparat untuk mengenali demonstran.

Saya juga melihat sebagian pendemo ikut mengatur jalan yang tadinya macet. Bahkan ada yang berteriak memarahi kawannya sendiri, yang karena alasan tidak jelas malah menduduki bemper truk kontainer.

Dibantu warga mereka mengurai kemacetan, menyeberangkan bapak tukang becak dan ibu-ibu. Sebelum pulang ke rumah, karena istri saya sepertinya khawatir kok suaminya belum pulang-pulang, saya pamit ke Cak Dullah.

Bersyukur, saya dicarikan jalan dan diseberangkan oleh kawan mahasiswa. Malam kemarin Kartasura macet, tapi tetap aman. Alhamdulillah.

Perjalanan pulang ke rumah, saya melewati banyak kerumunan orang. Ada yang berpakaian hitam-hitam, di depan pertokoan, di mulut gang, di tengah kampung, di banyak tempat. Saya tidak mengenali mereka dari mana. Dari tampang mereka, saya kira mereka mahasiswa baru, masih muda.

Di sudut lain, saya melihat ibu-ibu bersiap untuk mendatangi Majelis Yasinan Malam Jumuah. Sedang bapak-bapak asyik berjanjenan membaca kitab Al Barzanji di langgar dan masjid-masjid. Lantunan salawatan Al-Barzanji yang keluar dari toa-toa tidak kalah dengan suara dentuman senapan pelempar gas air mata. Malam Jumat yang komplit.

Add Comment