Nglinggi Klaten Dijadikan Percontohan Desa Damai Berbudaya

Desa Nglinggi, Klaten Selatan, Klaten dipilih oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) sebagai percontohan Desa Damai Berbudaya. (Foto: Pemkab Klaten)

Klaten Selatan-Desa Nglinggi, Klaten Selatan, Klaten dipilih oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) sebagai percontohan Desa Damai Berbudaya.

Pencanangan dilakukan oleh Direktur Jendral Pembangunan Daerah Tertentu Kemendes PDTT Aisyah Gamawati.

Pada kesempatan tersebut Aisyah menjelaskan tujuan pembentukan percontohan desa damai berbudaya adalah dibangun agar masyarakat tumbuh nilai-nilai kerukunan hidup, toleransi antar warga masyarakat dapat terpelihara dengan baik, walaupun terdiri dari beragam bangsa, suku, etnis, agama dan kelompok sosial.

“Ada delapan indikator sebagai panduan desa damai berbudaya untuk dipenuhi masing-masing desa percontohan. Indikator itu meliputi komitmen masyarakat dan pemerintah desa untuk mewujudkan perdamaian; pranata bersama yang mendapat mandat untuk memantau pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan desa; sistem pencegahan, penanganan cepat, penanggulangan, dan pemulihan kekerasan; modal sosial dalam kehidupan bermasyarakat; penguatan nilai sosial budaya perdamaian melalui norma kearifan lokal; kesetaraan gender dan kelompok rentan, pendidikan dan penguatan nilai sosial budaya perdamaian; ruang berusaha/lapangan kerja bagi masyarakat di desa; lingkungan dan Infrastruktur desa yang memadai” tambah Aisyah seperti yang di release Pemkanb Klaten.

Kedepan, kata Aisyah, program pendampingan ini akan dilakukan selama tiga tahun. Harapannya desa tersebut nasyarakatnya bisa hidup mandiri, tentram, harmonis kehidupan warganya dan lancar pembangunan desa.

Kerukunan Terjaga Dengan Baik

Sementara itu, Kepala Desa Nglinggi, Klaten Sugeng Mulyadi dalam paparannya secara daring mengatakan kerukunan warga desa terjaga dengan baik walaupun beragam agama dengan mengedepankan peran Babinkatibmas baik TNI dan Polri setempat.

“Kami komitmen dengan regulasi. Misalnya Desa Nglinggi sudah ada Perdes tentang Pengaturan Pemakaman dan Ketetertiban Umum. Promosi dan edukasi masif kami lakukan kepada masyarakat dengan memberdayakan partisipasi perempuan dan PKK. Kearifan lokal melalui pentas budaya juga kami lakukan termasuk deteksi dini terhadap potensi konflik masyarakat” kata Sugeng.

Dikatakan Sugeng Mulyadi bahwa kata kunci menjaga kerukunan warga itu adalah respon cepat terhadap kejadian menonjol. Tak kalah penting adalah adanya fasilitasi pemerintah kepada masyarakat dengan prinsip keadilan agar tidak muncul konflik lebih besar.

“Kami selalu melibatkan TNI-Polri dalam menangani masalah. Peran tokoh masyarakat, petugas Babinsa dan Babinkamtibmas sangat membantu. Termasuk peran Wahid Foundation yang selalu mendampingi” tegas Sugeng.