Tidak Lebih Berat dari Nyamuk

(Foto:piterest.com)

Selalu ada nasihat dan ilmu yang bisa dibawa pulang setiap kali sowan ke rumah Kiai Mukhlis. Di rumah beliau, di Klaten. Nasihatnya cukup sederhana namun sudah cukup untuk membuat saya mawas diri. Bagaimana tidak?

Pesan beliau kemarin bertutur bahwa ada 3 amalan yang pahalanya tidak lebih berat dari sayap seekor nyamuk. Seberapa berat sich sayap nyamuk? Tentu sangat ringan. Seekor nyamuk utuh saja amat ringan apalagi hanya sayapnya saja. Lha ini ada 3 amal yang ternyata kalau ditimbang, pahalanya tidak lebih berat darinya.

Pertama, shalat yang tidak ada khusyuk. Wah lha ini, saya sudah pasti kena. Padahal tiap hari kita shalat, pikiran kita ke mana-mana. Raga kita sedang shalat namun pikiran entah terbang ke mana. Bisa di kantor, di rumah atau bahkan sedang berkeliling mengembara ke mana-mana. Contoh yang pernah bahkan mungkin sering kila alami. Saat sebelum sholat kita sedang mencari kunci motor yang kita lupa entah di mana menaruhnya. Anehnya, saat sholat muncullah kunci itu. Selepas shalat dengan serta merta kita menuju tempat di mana kita ingat menaruh kunci motor tersebut.

Patut kita renungkan kisah dari seorang ulama besar bermana Hatim al Ashami untuk kemudian menjadi bahan introspeksi kita terkait shalat khusyuk ini. Suatu hari, seorang ibu bertamu menghadap sang ulama tersebut. Karena berhadapan dengan ulama besar yang sangat disegani, ibu ini dengan hati-hati menyampaikan maksud kedatangannya. Namun malang, di saat itu ibu ini malah mengeluarkan angin alias kentut. Tentu jadi merah padamlah wajah si ibu ini menahan malu.

Namun tiba-tiba sang ulama berkata, ”Maaf ibu, sudah beberapa hari ini telinga saya ada gangguan. Saya tidak mendengar semua yang ibu sampaikan dari awal hingga akhir tadi. Bisakah Ibu ulangi dengan lebih keras lagi?”

Mendengar itu legalah hati ibu ini. Dia merasa aman. Dia yakin bahwa suara kentutnyapun tidak terdengar oleh sang ulama. Maka diulanginyalah apa maksud kedatangannya dengan lebih keras lagi hingga Hatim al Ashami mendengarnya.

Rupanya peristiwa ini dipendam dan tidak seorangpun mengetahuinya hingga sang ibu tadi meninggal dunia selang 5 tahun kemudian. Sejak saat ini Hatim mendapat gelar atau julukan Hatim al Ashami, Hatim yang tuli, tuna rungu. Subhanallah, dengan tujuan menjaga perasaan seorang tamunya agar tidah jadi malu sang ulama rela berpura-pura tuli. Amal seperti apakah yang menjadikan Hatim al Ashami ini sedemikian mulianya? Jawabnya ternyata adalah shalat khusyuk dari sang ulama tersebut.

Pernah suatu waktu di kampung di mana Hatim al Ashami tinggal, robohlah sebuah pohon besar yang mengakibatkan suara yang menggelegar. Akibat dari suara itu semua penduduk berlarian ketakutan. Jadilah heboh seisi kampung tersebut. Saat para tetangga mendatangi rumah Hatim, menjadi heranlah para tetangga tersebut karena ternyata Hatim tidak mengetahui peristiwa itu.

“Ada apa ini wahai saudaraku,” tanya Hatim kepada para tetangganya. Mendengar pertanyaan tersebut para tetangganya menjawab,”Wahai Tuan Hatim apakah engkau tidak mengetahui bahwa pohon terbesar yang ada di kampung kita ini telah roboh? Bagaimana Tuan tidak mendengarnya?”

Menjawablah sang Hatim bahwa dia saat itu sedang sholat. Bertambah heranlah para tetangga mendengar itu. “Bagaimana bisa Engkau tidak mendengar suara yang begitu menggelegar wahai Tuan?”

Hatim al Ashamipun menjawab, ”bagaimana aku mendengarnya wahai saudaraku? Saat sholat, seakan aku sedang meniti jembatan shirathal mustaqim. Allah tampakkan surga ada di sebelah kananku. Dan neraka dengar api yang membara ada di sebelah kiriku,”.

Rupanya seperti itu kualitas sholat sang imam ini. Pantas saja beliau mempunyai akhlak yang begitu mulia. Begitu indah. Bagaimana dengan shalat kita?

Lain lagi dengan Ali bin Abi Thalib. Sahabat sekaligus menantu Nabi SAW ini begitu memesona kualitas shalatnya. Saat beliau selesai mengambil air wudhu maka bergeterah badannya. Melihat hal tersebut maka bertanyalah para sahabatnya,”Wahai Tuan Ali, mengapakah badanmu bergetar? Apakah engkau sedang sakit?”

Alipun menjawab, ”Aku tidak sakit wahai sahabatku, aku baik-baik saja. Mengapa badanku bergetar setiap mengambil air wudlu? Hendak menghadap siapakah kita sebentar lagi?” Subhanallah.

Dengan mengetahui kualitas shalat kita yang masih belepotan, jauh dari kata khusyuk maka makin jelaslah bahwa sangat tidak cukup mengandalkannya untuk bekal kita kembali ke Allah. Masih harus berjuang keras untuk memperbaikinya. Menambahnya dengan amal-amal lainnya.

Amal kedua yang pahalanya tak lebih berat dari sayap nyamuk adalah membaca shalawat namun tidak disertai rasa ta’dzim kepada Rassulullah SAW. Boleh jadi hanya lisannya saja yang bershalawat. Namun shalawat tersebut tidak tembus dan tidak disertai hati di dalamnya. Jadilah dia tetap seorang yang masih mudah marah, mudah mengeluh dan bahkan masih saja tinggi hati. Jauh dari sifat-sifat yang dimilik oleh Rasulullah SAW.

Membaca shalawat sebenarnya salah satu amalan yang amat mulia. Allah tidak hanya memerintahkan ke hambaNya. Namun Allah juga mencontohkan. Melakukannya, luar biasa bukan?

Ketiga adalah berdoa tanpa ada kesungguhan di dalamnya. Berapa banyak yang melakukan seperti ini? Sepertinya kita masih termasuk juga. Berdoa hanya sekadar berdoa. Jarang kita berdoa penuh harap Allah akan mengabulkan permohonan kita. Doa yang memposisikan Allah saja yang Maha Berkehendak. Hanya Allah saja yang maha mengabulkan permohonan hambaNya.

Kapan kita bisa berdoa dengan penuh harap? Sampai disertai dengan tangisan? Biasanya saat kita sedang tertimpa masalah dan sedang diuji Allah bukan? Entah itu saat ada keluarga kita yang sedang sakit keras. Usaha sedang goncang. Terlilit hutang yang menggunung dan lain sebagainya. Hendaknya mulai sekarang kita rubah kebiasaan ini. Mulai kita rancang redaksi doa yang lebih baik. Dengan menyertakan hati kita saat berdoa. Doa yang penuh dengan kesungguhan.