The Merapi Within

Suasana Desa Samiran, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. ARIF GIYANTO

Kalau tidak keliru, sudah empat kali saya mendaki Merapi. Satu kali sampai puncak, dua kali sampai Pasar Bubrah, dan satu kali hanya sampai Pos Satu, karena dihantam badai dari malam sampai pagi. Dibanding dengan gunung di sekitarnya, Merapi tidak terlalu tinggi. Masih kalah tinggi dengan Gunung Merbabu yang berada tepat di sebelah utaranya, atau Gunung Lawu di sebelah timurnya.

Jalur tempuh pendakiannya pun terasa mudah. Mudah karena kita hanya melalui punggung gunung, atau hanya sedikit menyusuri hutan. Itu pun tidak lebat. Jika cuaca sedang baik, sinar bulan hampir menerangi jalur pendakian kita dari bawah sampai puncak. Itu bagi pendaki malam hari.

Untuk pendaki siang hari, kita akan disuguhi pemandangan menakjubkan dalam perjalanan. Di sisi utara, kita dapat melihat kemegahan Gunung Merbabu. Memandang ke arah barat, kita bisa melihat liukan jalur lahar, dan lembah-lembah. Di sebelah Timur, kita dapat melihat titik-titik kecil wilayah Surakartan dan batasan cakrawala.

Saya memaparkan jalur pendakian melalui Selo, Kecamatan Samiran, Boyolali. Artinya, jalur pendakian pada sisi utara Gunung Merapi.

Seingat saya, ada dua jalur bercabang, yang pertama melalui Pos Satu, dan yang kedua, melalui Jalur Kartini. Jalur Pos Satu menggiring pendaki pada posisi punggung gunung. Sementara Jalur Kartini, memungkinkan kita melewati lembah dan sedikit hutan Gunung Merapi yang memang tak cukup lebat. Bagi pendaki yang menghendaki ‘bonus’ jalur sedikit landai, bisa memilih Jalur Kartini.

Jalur Pos Satu dan Jalur Kartini berujung atau bertemu pada titik Pos Watu Belah. Watu Belah yakni titik daki dengan gundukan-gundukan batu besar, dan salah satu gundukan bebatuannya terbelah. Lokasi itu biasanya digunakan untuk rehat sejenak, atau untuk berlindung dari badai.

Selain gundukan batu, di sana terdapat banyak pohon yang dapat melindungi kita dari paparan sinar matahari. Pendaki Merapi pada musim kemarau sering dihadapkan pada debu dan terik sinar matahari yang menyengat kulit.

Setelah Pos Watu Belah kita menyusuri jalur pendakian melalui punggung gunung sampai puncak. Entah di lokasi apa namanya, jika cukup waktu, kita bisa berbelok ke kiri dan mendapati gua kecil yang sekira cukup untuk dimasuki empat sampai lima orang. Saya pernah bermalam di gua itu.

Menjelang titik bernama ‘Pasar Bubrah’, kita harus melewati Geger Boyo (Punggung Buaya). Geger Boyo adalah bukit yang menjembatani punggung gunung yang sudah kita lalui sebelumnya dengan tanah lapang yang biasa disebut dengan Pasar Bubrah.

Geger Boyo berupa bukit kerikil dan pasir. Lebih aman jika kita melewati bekas jalur air yang ada di sana, untuk menjaga diri dari kemungkinan terpeleset atau terpelanting ke samping. Hal ini lebih aman ketimbang melewati punggung sebelah atas, yang tentu saja lebih berisiko terpelanting ke kanan atau ke kiri.

Oh, ya. Jalur-jalur punggung gunung yang kita lalui kira-kira dimulai dari Pos Watu Belah sampai dengan Geger Boyo adalah punggung gunung yang berada di tengah-tengah jurang dalam. Jadi, sebaiknya mengambil jalur agak ke tengah, karena punggung yang paling luas saja kira-kira hanya seukuran 5 meter. Itu pun tidak rata.

Setelah melewati Geger Boyo, kita bisa menjumpai lokasi paling menakjubkan dari gunung ini, yaitu Pasar Bubrah. Sebuah tanah lapang kira-kira seluas empat kali lapangan sepak bola dan terdiri dari pasir dan batu-batu besar. Jika mendaki pada musim libur, kita bisa merasakan kemeriahan Pasar Bubrah dengan ratusan tenda yang didirikan para pendaki, seperti layaknya perkampungan suku Indian.

Pasar Bubrah menjadi titik istirahat meregangkan otot bagi yang hendak melanjutkan pendakian ke puncak. Pasar Bubrah merupakan gerbang menuju puncak Gunung Merapi. Kira-kira butuh waktu dua sampai tiga jam untuk sampai ke Puncak Merapi, dengan terlebih dahulu melewati bebatuan besar, dan batuan-batuan kecil yang labil.

Waktu tempuhnya juga relatif. Tergantung kondisi badan dan kemahiran kita melewati gundukan bebatuan. Karena selepas Geger Boyo, kita tidak mendapati tanah dan pepohonan; yang ada hanya pasir, kerikil, dan bebatuan raksasa.

Menuju Puncak

Puncak Merapi terlihat seperti tumpukan bebatuan cadas. Banyak bebatuan sebesar kepala di sana. Jika keliru menginjaknya, kita bisa terpeleset atau terpelanting jatuh. Celakanya, batu itu bisa menggelinding ke bawah dan menimbulkan efek seperti Bola Salju. Satu batu kecil menghantam batu lainnya, dan batu lainnya menghantam batu di bawahnya, begitu seterusnya.

Paling tidak, ada dua jalur, atau dua bagian jalur, menuju Puncak Merapi, dari Pasar Bubrah. Pertama, jalur yang lebih aman, yaitu jalur tempuh bagian kiri. Jalur Kiri adalah jalur dengan bebatuan kecil dan tidak terlalu curam.

Dari jalur ini kita dapat melihat Kawah Mati. Bekas kawah yang dulu berbentuk kotak persegi panjang. Beberapa pendaki yang longgar waktu dan tenaganya bisa menyempatkan turun. Kawah Mati terasa lembap, karena kurang terkena sinar matahari, tidak berair, dan dikelilingi dinding tebing curam di sekelilingnya. Hanya satu jalur untuk bisa turun ke sana. Dasar Kawah mati berupa tanah berwarna coklat dan dingin.

Jalur kedua menuju puncak adalah jalur sebelah kanan, atau Jalur Utara. Jalur ini kebalikan dari jalur sebelah kiri. Jalur yang sangat curam dan di sepanjang jalur pendakian kita melewati lempengan-lempengan bebatuan raksasa yang menempel. Beruntung jika kita bisa melewati celah dari lempengan-lempengan itu. Jalur inilah yang pertama dan terakhir saya lalui untuk menuju puncak.

Jika di jalur sebelah kiri kita dapat berjalan tegak, di jalur sebelah kanan hampir mustahil untuk berdiri tegak. Kita hanya bisa merangkak atau merayap. Cukup menyiutkan nyali. Pendaki yang melewati jalur ini dapat lebih cepat sampai di puncak, karena menempuh jalur yang lurus tegak ke atas, tidak melingkar, dan landai.

Sampai di puncak, kita bisa melihat sekujur Gunung Merapi sebelah utara, Gunung Merbabu, Gunung Lawu, juga kota-kota di sebelah timur, barat, dan utara gunung. Puncak Merapi menyisakan tanah lapang yang tak cukup lebar, sekira 7-8 meter persegi, dan di sana-sini tercium bau belerang yang menyengat. Asap belerang keluar di sela-sela bebatuan.

Tanah lapang di Puncak Merapi dikelilingi batuan cadas yang tajam dan runcing. Di sebelah selatan dari puncak itulah jalur lahar berada, yang mengarah pada kampung Mbah Marijan. Waktu itu, saya kurang tahu, apa yang ada di balik tembok batu sebelah selatan puncak. Asap pekat belerang atau asap kawah mengaburkan pandangan. Dengan posisi tiarap, saya sempat melongok ke bawah. Kawan saya hanya mengatakan bahwa itu titik Kawah Merapi.

Nah, tepat di ujung sebelah utara, di antara tembok bebatuan curam yang mengelilingi Puncak Merapi, berdiri dinding bebatuan paling tinggi bernama ‘Puncak Garuda’. Puncak yang dinanti oleh pendaki bernyali.

Dunia itu seluas langkah kaki. Jelajahi dan jangan takut melangkah. Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya, dan kelak semua akan terlihat kecil di hadapan Tuhan. (Kawan Erri Yunanto)