Pesona Keris, Peninggalan Luhur Para Leluhur

Keris memiliki kisah sakral tersendiri. KASKUS

Kali ini, saya tertarik membahas keris. Keris di Jawa, lebih tepatnya. Dalam budaya Jawa, keris bukan sekadar senjata. Setidaknya, begitu menurut Ki Murawan.[1] Keris juga merupakan bagian dari kelengkapan busana. Keris adalah simbol maskulinitas seorang laki-laki Jawa.

Proses pembuatan keris memerlukan tingkat kedetailan tinggi. Proses pembuatannya memerlukan waktu yang cukup lama. Pembuat keris disebut sebagai Empu. Seorang Empu haruslah menguasai teknik metalurgi, yakni kemampuan mengolah beragam jenis logam, seperti besi, baja, nikel, dan lainnya. Profesi ini memprasyaratkan pengetahuan tambahan, seperti sastra, sejarah, ilmu psikologi, dan ilmu gaib (olkutisme).

Dalam proposal pengajuan keris sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage and Humanity oleh UNESCO tahun 2004, disebutkan bahwa keris secara prinsipiil memiliki lima fungsi dalam masyarakat Indonesia, yaitu fungsi tradisi, sosial, seni, filosofi, dan mistis.

Dalam dunia perkerisan, ada beberapa istilah penting sebagai dasar penilaian estetika atas keris. Pertama, Daphur, ialah istilah bahasa Jawa yang dipakai untuk menyebut model atau bentuk keris. Ada komposisi racikan atau ornamental yang memberi ciri pembeda pada keris yang satu dengan keris lainnya. Sudah tentu perbedaan ini lanctas memunculkan nama-nama Dhapur yang beragam.

Kedua, Pamor, yaitu pola dekorasi pada bilah yang muncul dari kombinasi logam berbeda sebagai konsekuensi dari teknik tempa-lipat. Bagi saya, kemampuan atau penguasaan teknologi metalurgi para Empu sangat mumpuni. Penempaan dan pelipatan yang dilakukan bisa puluhan bahkan ratusan kali dan memerlukan ketelitian tinggi dalam prosesnya.

Ketiga, Tangguh. Secara harfiah, ‘tangguh’ adalah perkiraan atau taksiran. Dalam dunia perkerisan maksudnya adalah perkiraan zaman pembuatan bilah keris, perkiraan tempat pembuatan, atau gaya pembuatannya. Tangguh ditambah awalan ‘pe’ dan akhiran ‘an’ menjadi ‘penangguhan’. Istilah ini bermakna proses interpretasi perihal asal-usul dan estimasi usia sebuah keris.

Sakral, serta Bernilai Seni dan Ekonomi Tinggi

Pada zaman dahulu, bahan pembuatan keris adalah batu meteor, karena mengandung unsur titanium yang kuat, ringan, dan tidak bisa berkarat. Hal ini telah dibuktikan melalui sejumlah riset ilmiah oleh para peneliti dari Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) pada keris-keris peninggalan kerajaan Jawa, terutama pada masa Majapahit dan Mataram era Sultan Agung. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa keris dari Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung pada abad ke-16 mengandung paling banyak unsur titanium.

Pada era modern saat ini, pembuatan keris sudah dimodernisasi dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur budayanya. Penggunaan meteor sudah digantikan dengan logam lain, seperti besi, baja, serta nikel.

Dalam prosesnya, kesulitan membuat keris dari bahan batu meteor (titanium) adalah pada titik leburnya yang mencapai 60 ribu derajat celcius, jauh dari titik lebur besi, baja, atau nikel yang berkisar 10 ribu derajat celcius.

Bukan proses pembakaran yang biasa saya kira. Bagaimana para leluhur kita bisa mencapai derajat suhu yang begitu tinggi untuk melebur batu meteorit tersebut? Apa teknologi dan bagaimana metode yang digunakan?

Tentu asumsinya, para leluhur sudah menguasai teknik metalurgi yang mumpuni. Dalam proses pembuatannya, tak jarang para Empu memasukkan unsur spiritual dalam bentuk laku (tirakat), sebelum memulai tahapan pembuatan keris. Hal ini juga akan berdampak pada munculnya nilai kesakralan keris. Keris yang telah jadi, selain bernilai sakral tentu mempunyai nilai seni dan ekonomi yang tinggi.

Keris sering dianggap sebagai pusaka dan lazim diturunkan dari generasi ke generasi. Nilai spiritualitas yang terkandung pada keris menjadikan benda ini mempuyai nilai kesakralan sendiri. Sebagai bangsa yang besar dan berperadaban logam yang tinggi maka sudah sewajarnya kita tetap menjaga dan mempertahankan nilai-nilai budaya luhur. Salam satu Indonesia.

[1] Ki Murawan. 2017. Keris Bukan Sekedar Senjata. t.k.: Wilis.