Jangan Meludahi Sumur

(Foto: Pinterest.com)

Dulu, saat kita lahir di dunia ini, orang yang ada di kanan kiri kita tersenyum. Kini, saat kita sudah dewasa ada yang harus kita perjuangkan dalam hidup ini. Yakni saat kita meninggal dunia kelak, bagaimana agar orang yang ada di  kanan kiri menangisi kita. Sementara kita dalam keadaan tersenyum.

Kaidah ini bisa juga kita terapkan di tempat di mana kita bekerja saat ini. Bila suatu saat nanti, entah karena keadaan, situasi dan kondisi, atau sebab apapun sehingga kita tidak bekerja di tempat di mana sekarang kita bekerja, mesti kita upayakan dengan maksimal agar meninggalkan kesan yang baik. Kita jaga jangan sampai dulu saat kita bergabung dalam kondisi baik, saat berpisah kurang baik. Atau tidak baik, apalagi sangat tidak baik.

Jangan sampai dalam hidup yang singkat ini kita melakukan kesalahan, yang mana kesalahan tersebut termasuk yang fatal sehingga kita dikenang sebagai orang yang tidak baik. Istilah bahasa dosa itu hampir-hampir termasuk dosa yang tidak terampuni. Walaupun semua dosa bisa diampuni. Dalam hidup ini, ada kesalahan yang jika kita lakukan akan sangat susah untuk menghapusnya. Jangan sampai sesuatu yang sudah sekian lama kita perjuangkan lantas terhapus begitu saja oleh kesalahan tersebut. Pada akhirnya kesannya kita menjadi orang yang tidak baik.

Berikut ini saya tuliskan contohnya. Yang bisa saja terjadi tidak jauh dari lingkungan di mana kita tinggal. Ada seorang pria dan wanita menikah. Rupanya sang pria ini belum sempat kuliah karena beberapa alasan. Setelah menikah, sang mertua yang ekonominya termasuk berkecukupan menawari sang menantu agar kuliah.

“Bagaimana nanti untuk biaya semesteran dan lainnya,” tanya sang menantu.

“Semua biaya biarlah kami yang menanggungnya. Yang penting kamu sungguh-sungguh dalam kuliahnya,” jawab sang mertua

Benar saja, akhirnya sang menantu ini kuliah. Namun ternyata dia menyalahgunakan kepercayaan dan support dari mertua dan pasti juga dari istrinya. Dia malah berbuat serong dengan teman kuliahnya. Pada akhirnya perbuatan tersebut diketahui oleh mertua dan istrinya. Ini contoh perbuatan yang sudah terlewat batas. Kebangeten. Sudah dicukupi semuanya malah berbuat yang tidak benar.

Pada akhirnya dia harus berpisah dengan istri dan anaknya. Si menantu ini sudah melakukan suatu kesalahan yang sulit dihapus. Akhirnya dia harus hidup sendiri. Akhir dari kehidupannya karena melakukan kesalahan dan dosa yang susah dihapus. Istri dan mertuanya tentu tidak mudah begitu saja untuk memaafkannya.

Kalau kita menghadapi permasalahan seperti itu memang ada kaidah yang harus dipegang. Dalam kehidupan rumah tangga, sekali mengatakan ya, bagaimana ya itu bisa diwujudkan. Kalau tidak, berarti putus. Hal seperti itu tidak boleh berlarut-larut. Atau mengambang. Kalau katanya ya, koq tidak ada perubahan. Kalau tidak, koq tidak ada langkah-langkah yang jelas. Dalam Islam ada solusi yang termasuk di antaranya adalah perceraian.

Kalau mengambang dan tidak jelas ujungnya, akan menyusahkan semua pihak. Dan seperti itu tidak boleh. Lebih baik segera diputuskan setelah semuanya dipertimbangkan dengan jernih. Baik suami atau istri jika melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan dalam kehidupan rumah tangga, maka harus ada upaya penyelesainnya. Ketika menyelesaikannya kalau bisa melibatkan orangtua dari kedua belah pihak.

Demikian juga kaitannya dengan bekerja. Ada nasihat yang amat bagus yakni ‘angan sampai kita meludahi sumur yang kita mengambil air darinya’. Ini bisa sumur sendiri atau orang lain. Meludahi di sini sebenarnya termasuk ringan. Yang lebih luas lagi adalah jangan mengotori. Termasuk diantaranya adalah memasukkan sampah ke dalamnya. Atau yang lebih parah adalah dengan kencing ke dalamnya. Apabila kita termasuk yang melakukan itu maka itu termasuk kesalahan yang susah untuk dimaafkan. Karena sudah keterlaluan.

Seperti contoh di atas, apa yang dilakukan oleh sang menantu adalah suatu yang sudah keterlaluan. Termasuk orang yang tidak bisa berterima kasih. Padahal orang baik itu jika diberi air tuba, dia membalas dengan air susu. Jangan sebaliknya, air susu dibalas dengan air tuba. Apabila berbuat demikian maka kita termasuk orang yang tidak tahu diri. Itu termasuk kesalahan yang susah untuk diampuni. Kelak apabila kita berpisah atau meninggal dunia itu akan menjadikan kita termasuk orang yang tidak baik.

Nasihat di atas harus kita pahami bahwa dalam kehidupan apapun kita usahakan sebisa mungkin kalau kita ikut mengambil manfaat, maka jangan  sampai kita merusaknya. Perlu kita tanamkan dengan sungguh-sungguh. Termasuk di tempat kerja. Kewajiban kita menjaga kebersihan dan merawat sumur tersebut. Sehingga siapapun akan nyaman saat mengambil air itu. Kalau kita sudah sampai di tataran itu, maka kita akan termasuk kategori orang yang kalau meninggal dunia, orang lain akan mengenang kebaikan kita.

Apapun wujudnya, yang namanya menjaga dan merawat itu bukanlah hal yang gampang. Karena di dalamnya ada yang namanya kesabaran. Ada rasa memiliki. Dan masih ada lagi lainnya yakni harus istiqomah.

Memberi pemahaman dan kesadaran memang ada beberapa tahapan. Terkait hal itu ada bahasan tentang kesalahan dan sanksi. Jika melakukan kesalahan, yang paling baik tetap harus ada sanksinya. Itu bukan termasuk hal yang kejam. Bagi orang yang bisa mamahami, sanksi itu bisa membuat seseorang lebih bertanggung jawab. Bahkan bisa menumbuhkan efek jera. Tapi bagi orang yang sudah punya niat tidak baik, jika diberi sanksi dia akan mengeluh. Bahkan protes. Seperti itu harus kita pahamkan dan luruskan.

Bagi orang yang sudah memiliki rasa ikut memiliki, maka jika diberlakukan sanksi mereka pasti akan mendukungnya. Ini bisa dijadikan rumus. Jika ada orang yang mendukung kebijakan bahwa siapa saja yang melakukan kesalahan dia akan mendapatkan sanksi, itu pertanda dia adalah orang baik. Sebaliknya, jika dia menolak itu tandanya dia bukan orang baik. Dan dia akan bermasalah. Karena apa? Ketika dia melakukan kesalahan dan  kesalahan itu dibatasi dia merasa kurang nyaman.

Hal seperti di atas berlaku juga daalm kehidupan berkeluarga, beragama dan bermasyarakat. Bagi orang yang sudah terbiasa menanam kebaikan jika ada aturan main bahwa siapa saja yang melakukan kesalahan dia harus bertanggung jawab atas kesalahannya, dia pasti setuju. Karena sanksi hakikatnya adalah wujud kasih sayang. Karena kalau ada suatu kesalahan kita tidak mengingatkan, apalagi kita menjadi bagian orang yang mempunyai wewenang untuk mengingatkan dan kita diam saja, berarti kita menjadi bagian dari kesalahan tersebut.

Jadi jika ada sumur yang sama-sama kita mengambil manfaat darinya, lantas ada orang yang mengotori dan orang tersebut diingatkan oleh yang lain, mestinya dia bisa menerima. Jangan sampai malah membenci orang yang mengingatkan tersebut.

Kita hindari jangan sampai kita mengotori sumur yang kita mengambil manfaatnya bersama. Demikian juga di kehidupan rumah tangga. Karena rumah tangga melebihi dari sekedar sumur. Apapun yang kita lakukan akan berpengaruh di keluarga kita. Di mana anak, istri atau suami harus bahu membahu menciptakan suasana yang nyaman. Ini berlaku juga untuk tetangga dan lingkungan di mana kita tinggal.

Di tempat kerja kita bisa saling tolong menolong. Kalau ada kesalahan bisa saling mengingatkan. Siap diingatkan. Mengingatkan adalah bentuk dari kecintaan kita ke orang yang diingatkan. Karena bisa saja terjadi, kesalahan yang dilakukan oleh 1 orang yang menanggung akibatnya adalah banyak orang. Kalau hal ini bisa kita pegang bersama maka jikapun ada yang melakukan kesalahan maka bisa dipastikan itu bukan kesalahan yang fatal. Bukan kesalahan yang sulit untuk dimaafkan.

Jika masih ada kesalahan-kesalahan kecil itu masih manusiawi. Orang kadang ada lupanya, ada kekurangannya. Kalau masih taraf manusiawi maka penyelesaiannya pun masih bisa dengan yang kemanusiaan. Bisa dirembug bagaimana enaknya. Bagaimana nyamannya.

Add Comment