Allah Itu Mahabaik, Menerima yang Baik Saja

(Foto: Pinterest.com)

Ketika kita beramal baik, tidak boleh asal-asalan. Namun perlu memperhatikan beberapa hal agar kebaikan itu diterima Allah. Tidak semua kebaikan diterima Allah. Allah akan menerima kebaikan yang sesuai dengan tata cara yang sudah disampaikan oleh Rasulullah SAW.

Pertama, Allah itu maha baik maka tidak menerima apapun kecuali dengan keadaan baik. Maka ketika kita beramal harus diusahakan dengan wujud fisik yang baik. Juga, secara kejiwaan dilakukan dengan kerelaaan hati. Seperti itu yang akan Allah terima.

Contohnya dalam hal zakat fitrah. Yang dihukum fiqih standarnya yang biasa kita makan itulah yang dikeluarkan. Kalau yang biasa dimakan 64, yang untuk membayar zakat fitrah juga 64. Jangan sampai yang di bawah yang biasa kita makan.

Jika dengan sengaja melakukan yang seperti itu maka akan berpotensi untuk tidak diterima oleh Allah. Apalagi disertai dengan ucapan yang menunjukkan ketidakikhlasan. Untuk urusan kebaikan kita usahakan yang terbaik. Kembali ke hal zakat fitrah tadi, akan lebih baik jika dalam keseharian yang kita makan jenis berasnya 64, untuk zakat fitrah kita keluarkan kita berikan yang lebih baik. Misalnya jenis raja lele. Seperti itu lebih utama.

Dalam al Qur’an dijelaskan jika kita memberikan sesuatu ke orang lain hendaknya dibayangkan sama halnya memberikan sesuatu tersebut untuk diri kita sendiri. Apabila kita menerima dan hati kita senang, seperti itulah yang kita berikan.

Tidaklah seseorang itu ada nilai kebaikan ketika memberi kepada orang lain kecuali yang diberikan itu keadaannya bagus. Memberi sesuatu ke orang lain, sebenarnya kitalah yang membutuhkan.

Dalam menyembelih hewan kurban juga begitu. Walaupun yang diteirima bukanlah fisiknya namun kita tetap berusaha mengeluarkan yang terbaik.

Yang dimaksud thoyib adalah kerelaan hati. Ibadah apa saja kalau hati tidak rela akan kosong melompong. Allah tidak menerimanya. Jika tidak ada kerelaan hati maka akan menjadi penyakit dan masalah. Hal seperti ini berlaku untuk urusan apa saja.

Melakukan kebaikan dengan kerelaan hati maka semuanya akan dimudahkan. Seperti yang terjadi hari kemarin, saat penyembelihan dan pembagian daging kurban. Misal, biasanya kita diminta jadi panitia, namun tahun ini tidak. Mestinya hal seperti ini tidak lantas menjadi masalah. Jangan sampai malah ngomong ke mana-mana, “Maunya gimana, biasanya saya ditunjuk jadi panitia, koq tahun ini tidak. Apa saya sudah tidak dipakai lagi?”

Kalau tidak ditunjuk jadi panitia ya biasa saja. Tidak masalah. Bisa dibuat enteng saja.  Malah tidak ada tanggung jawab. Begitu saja. Jangan lantas jadi kecewa. Kita akan bisa bersikap biasa saja karena ada kerelaan. Tapi kalau tidak karena kerelaan biasanya akan banyak berbicara di belakang. Dalam hal seperti ini janganlah kita merasa paling hebat sehingga harus ada peran kita. Umpama tanpa kita semua tetap berjalan dengan baik.

Kalau dasarnya kerelaan tidak akan ada masalah apa-apa. Misal jadi panitia dan tidak dapat bagian apapun, karena semua sudah dibagi sampai tidak ada sisa, ya sudah. Walapun sebenarnya pingin memasak tongseng atau bakar sate. Dibuat santai saja. Besok bisa beli sendiri ke warung. Hal seperti iitu tidak perlu dibesar-besarkan.

Contoh kasus kecil. Hewan kurban sudah disembelih tanpa menunggu yang kurban datang. Padahal hewan kurban tersebut sudah kita serahkan ke panitia. Seperti ini juga bisa jadi masalah jika tidak ada kerelaan. Jika ada kerelaan, maka hawanya adem. Biasa saja.

Kedua, bentuk fisiknya. Tapi ini tidak bisa menjadi ukuran. Harus diusahakan, kita memberikan sesuatu yang terbaik. Namun demikian, jangan sampai tujuannya bukan mencari ridlonya Allah. Tujuannya ingin menunjukkan kitalah yang terbaik.

Di beberapa daerah, jika ada saudara yang hendak berangkat haji semua tetangga turun ke jalan untuk mengantarnya. Semua warga turut mengantar agar bisa ketularan bisa pergi haji. Seseorang yang pada posisi diantar seperti itu, ada potensi membanggakan. Kalau merasa lebih bersyukur ke Allah, itu yang bagus. Namun kalau merasa paling hebat sendiri, itu yang tidak bagus.

“Pak RT, siapa saja warga yang tidak mengantar? Sepertinya dia menyepelekan saya,”. Kalau sampai berkata seperti ini, dipastikan dia kosong melompong. Tidak berisi sama sekali. Besok kalau pulang haji, paling yang diceritakan hanya soal makanan, tidur dan dolannya saja. Tidak ada yang istimewa dalam ibadah hajinya.

Tentu, tidak semua seperti itu. Tapi kalau kita berbuat baik, kita mesti jaga niatnya, kerelaan kita tata. Agar sempurna. Keberkahan dan manfaat hidup akan kita rasakan jika bisa seperti itu.

Makanan adalah salah satu sumber utama suatu kebaikan dilakukan. Dhawuh Kanjeng Nabi Muhammad, Allah memerintahkan kepada orang yang punya iman yang perintah ini juga diperintahkan kepada para Nabi dan Rasul. Serta para aulia terpilih untuk melakukan ini.

Tentang makanan, ada 2 perkara yang harus dipahami. Pertama, harus jelas halalnya. Dan kedua, baik untuk kesehahan diri kita. Ada makanan yang baik secara umum namun belum tentu kita secara khusus baik. Maka perlu hati-hati. Makanan ini akan menumbuhkan darah yang akan mengalir ke jantung. Yang akan mengalir sebagai energi dan sebagainya. Karena makanan ini sebagai pondasi khusus, maka soal makanan ini harus dipastikan halalnya.

Secara dhahir juga secara hukumnya. Dhahirnya halal, bukan bangkai, yang tidak hidup di 2 alam. Dengan kadar umumnya. Contohnya, katak dan buaya. Bertaring dan menjijikkan masuk kategori haram. Termasuk anugerah Allah adalah semua binatang laut adalah halal.

Kalau secara fisiknya sudah haram jangan lantas diakali seperti Bani Israil. Karena mereka diberi kecerdasan sehingga mereka mendebat Nabinya. Sebagai contoh, ketika diminta berwudlu mereka berkomentar Islam itu aneh. Yang kentut di belakang koq yang diberi air wudlu bagian depannya. Kalau kita bertemu dengan orang seperti itu, lebih baik diam dan tidak perlu kita tanggapi.

Bani Israil terhadap hewan yang mati karena disembelih dan mati biasa mereka pilih yang mati biasa. Hukum di Taurat mengatakan jika mati tanpa disembelih itu adalah haram. Yang disembelih adalah halal. Bani Israil tetap saja bersikeras bahwa yang disembelih itu haram. Yang tidak disembelih justru yang halal.

Karena mereka suka mendebat maka bisa menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Jika babi itu haram, maka mereka tidak memakan dagingnya, mereka menjual anak babinya.

Orang ngeyel seperti itu, kelak di akhirat akan ribalasa. Allah akan memerintahkan Malaikat untuk tidak melempar mereka ke neraka. Karena mereka akan protes juga.

“Caranya bagaimana Gusti?” tanya para Malaikat.

Jawab Allah, “Masukkan saja mereka ke drum dan lemparkan saja drum tersebut ke neraka. Kalau mereka protes, maka kita jawab saja, Aku tidak memasukkanmu ke neraka. Hanya drumnya saja,” guyonannya seperti itu.

Kita tidak boleh sedikit-sedikit protes dan keras kepala. Jangan sampai juga punya anggapan mencari yang haram saja sulit apalagi yang halal. Itu akan makin menjadi masalah.

Yang berikutnya adalah halal secara hukumnya. Termasuk di dalamnya adalah transaksinya. Kita boleh menggunakan milik orang lain setelah ada transaksinya. Ada yang namanya hibah. Ada juga dengan cara membelinya. Atau hadiah.

Jika tidak ada ijab qabulnya, hanya memakai saja mungkin karena menemukan sesuatu barang. Jika kita menemukan sandal, itu milik orang lain. Bukan milik kita. Yang punya belum tentu menghalalkannya. Maka harus hati-hati. Jika tidak ada ijin dari yang punya maka berpotensi jadi msalah.

Satu dua patah kata saja sangat berpengaruh dalam hal makanan. Makanan yang thoyib, yang disuguhkan dalam acara apapun, belum menjadi hak kita. Itu masih haknya tuan rumah. Sebelum diijinkan.

Bagaimana jika sekarang? Kalau dulu masih bisa jalan. Dulu kalau belum dipersilakan tidak akan berani menyantapnya. Sekarang begitu disuguhkan langsung dinikmati. Seperti ini diperbolehkan hanya saja secara etika sebenarnya kurang baik.

Kalau disuguhi makanan yang harusnya disantap langsung, sebaiknya jangan dibawa pulang. Tapi kalau sudah dipersilakan untuk memilih, boleh dimakan dan boleh juga dibawa pulang, baru ada hak untuk dibawa pulang.

Selain makanan, beberapa hal lain yang perlu hati-hati adalah pakaian. Jangan sampai dari barang yang haram. Semua yang dari haram akan menyusahkan dalam hidup kita. Awalnya tidak baik maka akhirnya juga tidak baik.

Bisa jadi bagi kita itu adalah hal yang sepele. Namun tidak untuk orang lain. Barang yang baik akan menjadikan ketenangan dan keberkahan hidup kita