Alas Donoloyo, tentang Mitos Lokal dan Konservasi Lingkungan

Alas Donoloyo. APRILIA KUSUMA

Kabupaten Wonogiri dikaruniai sebuah hutan lebat yang kini, telah berumur ratusan tahun. Mari berkunjung ke Alas Donoloyo. Letaknya di Desa Watusomo, Kecamatan Slogohimo. Suasananya rindang dan khas lingkungan hutan. Tak heran bila muda-mudi menjadikan sekitaran lokasi hutan konservasi Perhutani ini untuk sekadar berkumpul atau pun nongkrong bersama teman-teman.

Banyak pohon jati yang tumbuh besar di sana. Tampak kurang wajar, karena pohon jati dibiarkan tumbuh hingga berdiameter lebih dari satu meter. Bukankah pohon jati memiliki nilai jual yang sangat tinggi, ketika dijadikan mebel maupun material rumah?

Kabarnya, Alas Donoloyo memiliki mitos lokal. Konon dahulu, pohon-pohon di sana dijadikan sebagai fondasi Masjid Agung Demak. Masyarakat sekitar memercayainya, karena memang memiliki sejarah yang sakral. Siapa pun yang mengambil pohon, bahkan ranting pohon sekalipun, akan terkena musibah. Kayu yang diambil pun akan kembali ke tempat semula. Berkat mitos tentang Alas Donoloyo tersebut, kawasan konservasi hutan hingga kini masih lestari.

Sayangnya, mulai tampak kerusakan alam di sana-sini, akibat ulah tangan manusia. Alas Donoloyo tentu saja terancam. Sebagian orang berpikir, bumi dan isinya adalah obyek yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia, terlebih untuk memberikan keuntungan pribadi maupun kelompok. Terjadilah banjir, tanah longsor, dan perubahan iklim.

Sebagian orang meyakini prediksi Thomas Malthus tentang laju pertumbuhan produksi makanan yang lebih sedikit dibanding laju pertambahan populasi manusia. Itu sebabnya, banyak dari mereka yang merasa perlu untuk mengeksploitasi alam.

Namun, saat ini, berkat revolusi teknologi di bidang pangan, manusia berhasil membantah prediksi Malthus. Umat manusia terbukti mampu menahan bencana kelaparan dan kematian. Tantangan bencana yang dihadapi manusia beralih pada kerusakan alam akibat logika menjadikan alam sebagai obyek yang bisa diperas terus-menerus.

Belajar dari Benoa dan Badui

Di tengah maraknya penggundulan hutan, privatisasi sumber air, juga reklamasi pinggiran laut, ada pula kelompok masyarakat yang memiliki kepercayaan bahwa alam bukanlah obyek, melainkan subyek tersendiri yang berdampingan dengan kehidupan manusia.

Sebagaimana Alas Donoloyo, masyarakat Teluk Benoa Bali, misalnya, memiliki kepercayaan lokal bahwa perusakan laut adalah penodaan terhadap kesucian laut.

Sebuah jurnal ditulis oleh Ni Wayan Rainy Priadarsini S. dkk. (2019) mengenai penolakan reklamasi Teluk Benoa. Mereka khawatir, reklamasi akan merusak 70 titik tempat yang dianggap suci oleh masyarakat Hindu. Padahal, kawasan suci berkaitan erat dengan kegiatan spiritual, sosial, dan budaya masyarakat Bali.

Selain Teluk Benoa, kepercayaan dan komunitas terdapat di banyak tempat, bahkan di sekitar kita, meski sedikit demi sedikit mulai terlupakan. Mereka tetap bertahan menjaga alam. Mari melihat komunitas lokal Suku Badui, mengenai cara mereka hidup, atau suku pedalaman di Kalimantan dan Papua. Mereka memiliki warisan pengetahuan alam dari leluhur tentang merawat dan memanfaatkan alam.

Jared Diamond (2016) dalam Bedil, Kuman, dan Baja, menulis, orang-orang Papua pedalaman memiliki pengetahuan yang amat dalam mengenai jenis tanaman dan kegunaan yang ada di dalam hutan. Pengetahuan tersebut sebanding dengan buku ensiklopedia berjalan tentang sejarah alam. Mereka mengetahui dengan sangat persis ciri sebuah tanaman tertentu, distribusi, dan manfaat potensial spesies di alam.

Setidaknya, sedikit pengetahuan yang kita miliki, mengenai alam dan ekosistemnya, membuat kita abai pada perubahan dan kerusakan yang terjadi. Untuk merawat dan menjaga alam, kita perlu belajar dari mitos masyarakat pedalaman, juga dari bencana yang telah terjadi.

Menjaga Alas Donoloyo

Alas donoloyo adalah milik kita. Begitu juga dengan hutan, tanah, dan air di mana pun, untuk kita jaga dan kelola sebijak-bijaknya. Cara kita menjaga Alas Donoloyo sebagai bentuk pandangan kita terhadap alam akan menentukan masa depan anak cucu kita kelak.

Jika saja sekarang kemajuan negara diukur dari tingkat ekonomi maka pada masa mendatang akan disadari bahwa kemajuan negara diukur dari kemampuan memahami dan merawat alam.

Tentu sangat menyenangkan apabila bisa berteduh di bawah rindangnya pepohonan, juga masih mampu memperoleh air bersih serta menghirup udara segar.