Akan Ku Jadikan Dia Menantu

(Foto: Pinterest.com)

Buka-buka file lama di laptop nemu tulisan ini. Tertanggal 7 Maret 2018. Tulisan ini saya ketik saat di Singapore. Saat itu, seminggu saya mengikuti pameran furniture yang diadakan di Expo Singapore.

Alhamdulillah setiap kali bepergian, tak terkecuali ke luar negeri maka hal wajib yang saya lakukan adalah googling, di mana masjid terdekat berada. 3 malam pertama saya pilih menginap di sekitar Bugis. Area ini adalah kawasan muslim. Ada beberapa masjid dan restaurant halal yang dengan mudah ditemukan di kawasan Bugis.

Tidak afdol rasanya kalau sholat hanya di kamar hotel saja. Saat di Bugis, setiap pagi biasanya 1 jam sebelum adzan shubuh saya sudah duduk manis di masjid Sultan. Masjid legendaris di kawasan Bugis. Bahkan hari pertma, saya harus menunggu 2 jam karena masih terbawa saat di rumah.

Pagi itu, jam menunjukkan angka 04.00. Saya sudah bergegas ke masjid. Sesampai di sana, saya bertanya-tanya kenapa masjid masih gelap dan pintu gerbang masih terkunci? Saya lupa kalau jadwal sholat shubuh di Singapore jam 05.54. Jadilah saya harus duduk sendirian di tepi dekat masjid.

Tak ada seorangpun yang lewat saat, benar-benar sepi. Tidak mengapa, sambil menunggu gerbang masjid dibuka saya pakai untuk baca Qur’an yg ada di HP. Alhamdulillah tepat 1 juz saya kelar membaca, pintu gerbang dibuka.

Suasana masjid Sultan sangat cocok untuk i’tikaf, sholat tahajid dan baca Qur’an ambil menunggu adzan shubuh berkumandang. Ruangan masjid yang bersih, karpet yang halus dan berwarna hijau kekuningan. Menjadi ciri khas masjid Sultan. Kenyamanan sholat sangat bisa dirasakan. Bacaan imam sholat yang merdu telah membawa saya seolah sedang sholat di masjid Nawawi, Madinah.

3 malam berikutnya saya pindah hotel di Geylang. Alhmdulillah, setelah check in dan bertanya ke petugas hotel, ternyata ada masjid hanya sekitar 100 meter saja dari hotel. Kawasan Geylang adalah kawasan industri dengan penduduk mayoritas etnis China. Tidak banyak restoran halal di kawasan tersebut. Yang dekat hotel hanya ada 1 restoran halal yang saya temui. Persis di seberang masjid Moh Salleh.

Mengapa saya suka ke masjid? Bukankah ada keringanan bagi yang sedang safar? Alhamdulillah sejak remaja dulu saya sudah suka ke masjid. Kata ulama, itu adalah salah satu jalan untuk jadi orang saleh. Tak boleh jauh-jauh dari masjid.

Masjid adalah rumah Allah, Baitullah. Baitullah tidak hanya di tanah suci saja. Dengan dekat masjid, salah satu ibadah utama yakni shalat pasti lebih terpellihara kualitasnya. Banyak keutamaan jika kita memakmurkan rumahnya Allah ini. Saya yakin bener, rumus ini berlaku. Siapa yang memakmurkan rumah Allah, pasti Allah akan memakmurnya. Baik ketika masih di dunia ini, terlebih lagi kelak di akhirat.

Apa saja keutamaannya? Saya yakin sudah banyak yang tahu, namun bisa jadi banyak pula yang belum tahu. Di sinilah pentingnya mengaji, mencari ilmu. Dengan banyak ilmu, kita akan semakin paham apa saja keutamaan dari suatu ibadah yang kita lakukan. Tak terkecuali, memakmurkan masjid.

Saya dapat ilmu ini dari almarhum Kyai Nahar, pimpinan Pesantren Ta’mirul Islam. Sekitar tahun 2004. Saat itu beliau sedang menyampaikan tausiyah di Pesantren Al Anis, tak jauh dari kampung saya. Kyai Nahar begitu ada di hati saya. Seorang Kyai sepuh yang saya kagumi. Kyai yang tawadlu dan sangat lembut saat berbicara. Ulama yang tidak banyak mengumbar humor untuk mendatangkan tawa, seperti kebanyakan pendakwah saat ini.

Kata beliau, suatu hari Rasulullah SAW pernah mendatangi suatu masjid untuk sholat. Rupanya beliau mendapati sebuah lampu yang cantik di masjid tersebut. Bertanyalah beliau ke sahabatnya, ”Siapa yang memberi lampu ini wahai sahabatku?”.

Menjawablah salah satu sahabatnya, ”Si Fulan yaa Rasulullah, dia habis berdagang dari negeri Syam”.

Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah menimpali, ”Andai saja ada putriku yang belum berkeluarga, akan aku jadikan dia menantuku”.

Subhanallah, karena sebuah lampu yang diberikan di masjid maka Rasulullah berkeinginan untuk mengambilnya jadi menantunya. Begitu hebatnya Rasulullah memuliakan orang yang berbuat sesuatu untuk masjid. Bagaimana kelak Allah akan memuliakannya?

Lain lagi yang dilakukan oleh Rasulullah saat beliau menjumpai seorang yang biasa membersihkan masjid namun saat itu Rasulullah tidak menjumpainya. Beliaupun menanyakan ke para sahabatnya, ”Di manakah ibu yang biasanya membersihkan masjid ini?

Para sahabatpun menjawabnya, ”Beliau sudah wafat wahai Rasulullah”.

Mendengar jawaban tersebut raut muka Rasulullah seperti mengisyaratkan kekecewaan.

“Oh, kenapa aku tidak kalian beritahu?”, kata Rasulullah.

Setelah itu Rasulullah meminta ke sahabatnya untuk diantarkan ke tempat di mana ibu tersebut dimakamkan. Lantas di tempat tersebut Rasulullah mendoakannya. Sekali lagi, seperti inilah Rasulullah memuliakan orang yang suka memuliakan masjid.

Walau dengan jalan yang selama ini bisa saja kita anggap suatu yang sangat biasa yakni dengan membersihkannya. Bedanya dengan yang pertama tadi dia harus keluar dana, yang kedua ini hanya butuh waktu dan tenaga saja. Siapapun bisa.

Adakah jalan lain untuk memuliakan masjid? Ada, yakni dengan sering mendatanginya. Baik untuk shalat berjamaah, i’tikaf maupun menghadiri kajian-kajian yang diadakan di masjid. Mana yang kawan-kawan pilih?