5 Ciri Hidup yang Mulia

(Foto: Pinterest.com)

Termasuk cita cita manusia dicipta oleh Allah itu adalah agar menjadi orang yang hidupnya mulia. Dan dimuliakan. Apalagi yang memuliakan Allah. Semua orang normal pasti pingin hidupnya mulia. Kata Kanjeng Nabi Muhammad SAW, jika ingin hidup kita mulia di dunia dan akhirat, ada 5 hal yang harus dijalankan.

Pertama, orang yang selalu mengisi hidupnya untuk beribadah ke Allah. Sebetulnya urusan ke Allah itu simple. Dihitung ibadah jika kita diperintah Allah, dikerjakan. Apa yang dilarang Allah, ditinggal. Orang yang dalam hidupnya mengerjakan apa yang diperintah Allah, meninggalkan apa yang dilaranganNya, pasti menjadi orang mulia. Tidak mungkin ada masalah dalam hidupnya. Dia akan diberi wajah yang berseri-seri. Karena tidak ada beban dosa.

Tidak semua orang diperintah Allah. Jangankan Allah, manusia pun demikian. Kita ambil contoh seorang presiden. Jika memerintah, apakah kepada orang tertentu ataukah ke semua orang? Pasti ke orang tertentu. Orang yang diperintah presiden, pasti orang pilihan. Karena tidak semua orang. Orang yang diperintah presiden adalah orang bisa dipercaya, berprestasi dan mau bekerja. Orang yang punya kemampuan dan keahlian di bidang tertentu. Tidak mungkin seorang presiden perintah ke sembarang orang. Dan perintah tersebut pasti bukan perintah yang sepele.

Apalagi Allah. Semua perintahNya tidak ada yang sepele. Perintahnya mengandung kemuliaan di dunia dan akhirat. Maka setiap siapapun yang diperintah Allah adalah dia termasuk orang yang mulia. Lebih mulia lagi jika perintah itu dijalankan. Dengan kata lain, ada orang yang diperintah Allah tapi dia tidak menjalankan. Orang yang seperti ini tidak mungkin bisa mulia.

Contoh, kita tidak boleh bertengkar dengan sesama. Jika kita pikir, bertengkar itu termasuk hal yang baik atau jelek? Sebenarnya, apa yang menyebabkan sehingga orang bertengkar? Biasanya karena mencari benarnya sendiri. Dan menilai orang lain pasti salah.

Maka di sini ada penyaringan. Pertama, orang yang diperintah tidak semua orang. Lalu, tidak semua orang yang yang diperintah dia taat. Karena ada yang diperintah Allah dan dia tidak menjalankannya.

Orang Islam diperintah Allah agar rukun. Rukun ke semua makhluknya Allah. Jadi jika kita sebagai orang Islam koq tidak rukun dengan sesama muslim, maka Islam kita layak dipertanyakan. Islam beneran atau tidak. Kalau Islam mengajarkan rukun, maka jika ada masalah mestinya bisa dirembug dengan baik. Bisa dicari solusi yang baik, sehingga tetap bisa rukun. Jangan sampai kita menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang tidak baik.

Kalau kita bermasalah dengan suami atau istri kita, perlu dicheck kembali. Mungkin sikap kita masih kurang baik. Di antara sikap yang kurang baik adalah kurang bersyukur. Jangan sampai kita berumah tangga isinya hanya ribut terus. Seorang suami yang merasa sebagai orang yang mencari nafkah, mencari uang, dia bisa bersikap kurang menghargai istrinya. Jadinya kurang berterima kasih kepada istrinya.

Ternyata orang yang diperintah Allah itu orang yang dipilih Allah. Tugas selanjutnya setelah diperintah adalah menjalankannya. Inipun masih disaring lagi. Ada orang yang menjalankan perintah Allah dengan berbagai motivasi. Ada yang karena motivasi upah. Dalam al Qur’an, yang seperti ini masih dihitung sebagai orang baik. Umpama Allah tidak memberi pahala, dia tidak menjalankan perintah itu. Seperti ini berbuat baik karena upah. Sekali ini, seperti ini masih termasuk orang baik.

Motivasi berbuat baik karena mencari surga juga termasuk bagus. Karena ada orang yang diiming-imingi surga dia tidak pingin. Dia tidak tertarik.

Sambil jalan diusahakan ditingkatkan lagi. Kita beribadah kepada Allah didasari karena sifat senang mencari ridlanya Allah. Dasar senang ini efeknya luar biasa. Yang berat bisa jadi terasa lebih ringan. Yang jauh terasa dekat. Yang sulit terasa lebih mudah.

Rasa senang ini perlu dijaga. Perlu dipupuk. Kalau kita tidak punya rasa senang dikhawatirkan yang muncul adalah rasa benci. Apa saja yang didasari kurang senang hasilnya kurang berkah.

Orang yang sudah mampu menjalankan perintah Allah dengan rasa senang itu berangkat dari kesadaran. Dia sudah bisa memposisikan diri bahwa perintah Allah itu adalah suatu kehormatan. Maka dia jalankan dengan senang hati.

Bekerja didasari hati yang senang maka dia akan bahagia. Jika tidak senang, dia akan makin menderita. Mengerjakan pekerjaan di rumah dengan bahagia akan mendatangkan cahaya barkah dari Allah. Orang yang sudah pada tingkatan diperintah Allah, lantas dia jalankan dengan senang hati dipastikan hidupnya akan menyenangkan.

Sebaliknya, larangan Allah kalau bisa jangan sampai dilanngar. Semua bentuk dosa kalau bisa dihindari. Jika sudah berusaha menghindari koq masih terjadi, bisa jadi itu masuk kategori khilaf. Masih bisa dimaklumi. Yang tidak baik adalah tahu itu salah malah disengaja. Lebih repot lagi, sudah tahu salah, sudah diingatkan malah bersikeras bahwa itu benar.

Kedua, orang yang hidupnya bermanfaat. Dengan apa? Apa saja yang sekiranya bisa membuat senang orang lain. Orang yang seperti ini, suatu saat dia meninggal dunia, pasti banyak yang merasa kehilangan. Termasuk memberi manfaat itu jika hidupnya membuat senang hati orang lain. Ini bisa lewat ucapan.

Bisa lewat harta benda. Bisa berbagi ke sesama. Contohnya, menjenguk saudara yang sedang sakit. Hal ini sangat baik karena termasuk menyambung rasa. Orang lain sedih, kita ikut merasa sedih. Orang lain merasakan kebahagiaan, kita ikut bahagia. Jika dalam hidup ini, banyak orang lain yang tidak peduli dengan kita maka kita perlu berbenah diri.

Bermanfaat ke orang lain juga bisa lewat tenaga kita. Termasuk orang baik adalah orang yang entengan. Ada juga orang dikenal baik karena lisannya. Karena grapyak.

Berbahagialah orang yang mempunyai perabot rumah tangga yang sering dipinjam oleh orang lain. Oleh para tetangganya. Itu adalah ciri Allah memberikan keberkahan. Apa yang dimilikinya berarti lebih bermanfaat. Kanjeng Nabi bahkan mengecam orang yang mempunyai perabot dan tidak boleh dipinjam oleh orang lain. Dia tidak termasuk orang mukmin yang baik.

Ketiga, orang yang hidupnya tidak menakutkan. Tidak membuat orang lain khawatir dan cemas. Tidak membuat orang lain tidak nyaman. Berarti dia adalah orang baik. Orang baik itu di mana saja dia berada membuat orang lain hatinya tentram.

Keempat, orang yang tidak mengharap pemberian orang lain. Jika diberi sesuatu oleh orang lain diterima, jika tidak diberi, tidak jadi masalah. Memang bukan rejekinya. Termasuk yang dianjurkan ketika hendak bertamu ke orag lain, hendaknya makan dan minum terlebih dulu dari rumah. Dimaksudkan agar kita tidak berharap mendapatkan suguhan dari tuan rumah yang hendak kita datangi.

Kelima, orang yang sungguh-sungguh menyiapkan bekal untuk kematiannya. Bekal yang bisa membuat hidup di kuburnya nyaman, di akhiratpun nyaman. Dia amat sadar bahwa hidup di dunia ini pasti ada akhirnya.