Yang Longgar Saja

(Foto:Pinterest.com)

“Barangsiapa yang membuat aturan baru dalam urusan beragama yang tidak ada kaitannya dengan pokok-pokok ajaran agama yang dibawa Kanjeng Nabi Muhammad, maka amalnya tidak diterima oleh Allah,”.

Hadist ini mengandung beberapa makna. Ada hadist lain yang sejenis dengan ini. Ada beberapa dhawuh Kanjeng Nabi yang seiring dengan hadist ini yang isinya sering kita dengar yakni terkait dengan bid’ah. Kata bid’ah lebih sering dimaknai tidak baik.

“Itu bid’ah. Tidak ada tuntunannya. Jaman Kanjeng Nabi tidak ada, koq sekarang kamu mengadakan. Ditambah lagi, apa kamu lebih pintar dari Kanjeng Nabi?”.

Pemahaman agama memang seharusnya luas. Sehingga bisa menjawab semua permasalahan. Yang dimaksud bid’ah di sini adalah membuat ajaran baru yang memang di jaman Kanjeng Nabi tidak diajarkan. Baik tersurat maupun tersirat. Sehingga menambah atau mengurangi aturan yang sudah ditetapkan.

Namun, jika menambah yang di jaman Kanjeng Nabi tidak ada tapi demi kebaikan itu diperbolehkan. Kebaikan di sini juga tidak menyimpang dari aturan Islam. Sebagai contoh, al Qur’an di jaman Nabi tidak ada titik, tidak ada harakat.

Bahkan di awal-awal zaman Sahabat Sayyidina Abu Bakar, al Qur’an akan dibuat buku saja beliau tidak berani. Sebab ketika Kanjeng Nabi masih ada, belum pernah memerintahkan untuk melakukan hal tersebut. Pun demikian dengan hadist. Juga tidak ditulis. Pada akhirnya, al Qur’an diperintahkan untuk ditulis. Kalau hadits lebih diminta untuk menghafalkannya. Itu untuk membedakan ketika Kanjeng Nabi memberi perintah. Apakah itu al Qur’an atau hadits.

Sahabat yang mendengar perintah Kanjeng Nabi ada yang perintahnya persis sesuai perintah Kanjeng Nabi. Ada juga riwayat yang lafalnya dibuat sendiri, tapi isinya tidak menyimpang dari apa yang disampaikan Kanjeng Nabi. Maka ada perbedaan redaksi. Kita pakai yang longgar saja. Tidak usah yang rumit.

Sebagai contoh, tidak boleh memasang janur untuk dekorasi saat resepsi pernikahan. Nabi dulu tidak memakai janur. Jika semua harus sama seperti zaman Kanjeng Nabi, maka tidak bisa jalan untuk zaman sekarang. Kanjeng Nabi jika makan dengan 3 jari. Pertanyaannya, apa jenis makanannya? Kalau makan kurma bisa dengan 3 jari. Kita jarang sekali makan kurma. Makanan kita soto dan sop. Apa akan pakai 3 jari? Apalagi soto dan sop paling enak jika dimakan ketika masih panas.

Jika mau disederhanakan tentang makanan ini, intinya adalah halalan thoyiban. Halalan, secara hukum dhahirnya halal, thoyiban baik untuk kita. Maksudnya bagaimana cara memasaknya sehingga tidak akan mendatangkan masalah untuk kita. Contoh kecil lainnya adalah kita makan nasi. Ini juga tidak ada dalilnya. Karena Nabi makannya bukan nasi.

Maka jangan dipersempit. Memang ada yang tidak boleh dikurangi dan ditambahi. Ada yang disesuaikan seiring dengan perkembangan zaman. Yang tidak bisa ditambah dan dikurangi misalnya tentang sholat 5 waktu. Jelas tidak bisa diubah. Demikian juga puasa Ramadhan, zakat dan haji. Semua sudah diatur. Tidak boleh diubah.

Ada hadist yang menerangkan bagaimana Kanjeng Nabi menyembah Allah. Itu diterangkan dengan jelas. Cara kita menyembah Allah adalah dengan mengerjakan sholat. Jadi yang namanya menyembah di sini bukan seperti yang kita lihat di kethoprak itu. Saat ada rakyat sowan ke rajanya. Jalannya pelan-pelan, tangannya menyembah. Bukan seperti itu.

Yang ada kaitannya dengan urusan agama, jangan lantas dikatakan semua adalah bid’ah. Karena ada makna yang tersurat dan tersirat. Contohnya adalah bersalam-salaman setelah sholat. Kanjeng Nabi tidak mencontohkan setelah sholat lantas wiridan dan berdoa. Lha bagaimana pemahamannya?

Apapun yang dilakukan setelah salam, itu sudah tidak ada kaitannya dengan sholat. Jadi sholat sudah selesai. Aturan baku sholat berlaku sejak takbiratul ihram hingga salam. Setelah itu bebas akan melakukan apa saja. Setelah salam langsung berdiri dan pergi juga boleh. Sholatnya sah. Jadi yang dilakukan setelah sholat ini bukan rangkaian yang harus dijalankan.

Kalau bersalaman apa itu tujuannya? Bersalaman adalah wujud ketika kita mengucapkan assalamu’laikum warahmatullah. Artinya, orang yang sudah menyembah Allah, hukumnya wajib untuk mewujudkan nyata untuk menebar keselamatan di kanan dan kirinya. Juga dirinya sendiri. Bersalaman juga sebaiknya tidak dilakukan setelah sholat saja. Tapi setiap bertemu dengan sesama muslim. Dengan seperti itu dosa kita akan digugurkan oleh Allah.

Perlu kita pahami secara longgar. Jangan sampai memahami hal ini dengan hati yang sempit. Bersalaman selepas sholat boleh boleh saja. Ketika Nabi melakukan sesuatu maka bisa jadi itu sampai hukum sunah bahkan bisa ke wajib. Untuk hal sunah, biasanya Kanjeng Nabi kadang melakukan, kadang tidak. Kalau wajib, Kanjeng Nabi selalu melakukannya.

Ketika sesuatu itu dilakukan oleh Kanjeng Nabi, pasti itu ada hasanah. Kebaikan di dalam Islam banyak dibahas. Kanjeng Nabi tidak melakukan, tidak memerintahkan itu juga dimaknai hasanah. Maka di hadist lainnya disebutkan, barangsiapa yang melakukan hasanah akan mendapat pahala. Jika yang dilakukan itu ada nilai kebaikan.

Misal jika ada anak pohon pisang kita ambil dan tanam. Itu sesuatu yang baik khan? Seperti ini tidak perlu dicari ada hadistnya atau tidak. Jika ada hadistnya, jangan ada pertanyaan lanjutan, hadistnya soheh atau tidak. Padahal, yang tahu soheh dan tidaknya adalah ulama. Kita tidak tahu. Asal ada nilai kebaikannya, langsung kita lakukan saja. Insya Alah dapat pahala.

Al Qur’an dibukukan pada zaman Sayyidina Umar dan Ustman. Ini tidak mengingat apakah ini diperintah oleh Nabi atau tidak. Tapi dilihat dari sisi keamanannya al Qur’an itu sendiri. Sayyidina Umar sudah diperintahkan memulai untuk memberi sandangan di al Qur’an.

Kita tidak perlu terlalu kaku, karena di Islam sendiri ada bahasan tentang kebudayaan. Nabi juga pernah memerintahkan soal pakaian. Pakaian yang disukai Nabi adalah yang berwarna putih. Apa alasan Kanjeng Nabi? Pertama adalah kebersihan. Kedua karena adat kebiasaan orang Arab. Dan saat itu juga belum ada batik. Yang paling mudah warnanya putih.

Ada ulama di Indonesia yang alim. Belajarnya di Arab Saudi. Ketika pulang ke Indonesia beliau jarang sekali memakai baju putih. Pakaian kesukaanya adalah batik. Ketika ditanya, “Njenengan koq pakai batik. Apa tidak bid’ah? Kanjeng Nabi khan dhawuh baju yang paling disenangi adalah batik”.

Kebiasaan di Arab dan Indonesia berbeda. Di Indonesia batik termasuk warisan budaya asli Indonesia. Ulama tersebut memakai batik karena termasuk cinta tanah air. Nasionalismenya diwujudkan dengan cara itu. Siapa yang harus melestarikannya kalau bukan kita sendiri.

Ulama tersebut bahkan melarang semua santrinya memakai kopyah putih. Beliau berpendapat, kalau belum berhaji tidak boleh memakai kopyah haji. Sebab kopyah haji hanya untuk yang sudah berhaji saja.

Berbusana batik merupakan wujud cinta tanah air. Jadi jangan buru-buru dikatakan bid’ah. Menurut Imam Syafii ada hukum 5. Ada yang memang wajib hukumnya. Jaman Nabi tidak ada, tidak memerintahkan, tidak memberi contoh tapi harus dilaksanakan. Termasuk penyempurnaan tulisan-tulusan al qur’an. Itu wajib hukumnya.

Ada yang sunah, makruh bahkan sampai haram. Haram itu kalau sampai mengada-ada yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Membuat aturan sendiri di luar Islam. Pembahasannya harus sampai di sana. Tapi kalau yang biasa-biasa jangan lantas ditelan mentah-mentah.

Secara dhahir jika memakai pakaian yang panjang, secara fiqih lebih mudah terkena najis. Tapi yang lebih beresiko mendapat siksanya Allah kalau dipanjangkan itu untuk tujuan sombong. Pun demikian jika pakaiannya dibuat di atas mata kaki namun untuk tujuan sombong.

Akan mengundang murkanya Allah jika pakaiannya di atas mata kaki lantas merasa bahwa semesjid hanya dia saja yang sholatnya diterima Allah. Merasa yang paling sesuai dengan hadistnya Nabi SAW. Bahkan dia berani mengatakan yang tidak seperti dia akan berdosa.

Tentang bid’ah ini mendhing kita memahaminya dengan longgar. Jangan terlalu saklek. Sebab ada kaitannya dengan bermasyarakat. Yang baik adalah tetap mengikuti kondisi dan keadaan masyarakat setempat. Dari berpakaian, bergaul dan kegiatan lainnya. Selagi tidak jelas-jelas dilarang agama, kita ikuti saja. Kalau pun itu termasuk yang dilarang dan kita sedang ada misi dakwah, kita bisa membaur dan tetap bisa srawung, pelan-pelan.

Kita sedang membahas hukum yang di Mekah pada zaman Kanjeng Nabi, diterapkan di Indonesia yang zaman, kebudayaan, aturan dan kebiasaannya berbeda. Jangan sampai kita salah. Maksudnya baik, tapi cara penyajiannya kurang pas.

Nasi liwet dan nasi gudeg itu lezat. Tapi bagi orang yang sedang kehausan bisa jadi tidak lezat lagi. Bisa tidak pas. Orang kehausan lebih pas jika disodori air. Daripada disodori nasi. Itu namanya mengajak kebaikan dengan cara yang pas. Dapat ikannya tanpa harus keruh airnya.

Ini kalau di Indonesia. Yang mempunyai filsafat kalau dipangku mati. Seperti ini jelas tidak ada Qur’an dan hadistnya. Tapi al Qur’an itu ada yang tersurat dan tersirat. Al Qur’an yang disebar oleh Allah. Ini harus dipahami bagi orang yang paham. Tidak hanya pintar saja. Paham dari sisi al Qur’annya. Paham dengan siapa sekarang yang diajak bicara. Yang didakwahi.

Orang yang pintar itu, orang yang paham kondisi. Kalau sedang berbicara dengan anak kecil mestinya tahu bagaimana agar bisa diterima oleh si bocah. Bukan bocahnya yang diminta memahami bahasanya orangtua.

Terkait dengan yang sudah berjalan di masyarakat, tidak perlu dibuat ribet. Jika tidak jelas-jelas melanggar aturan masyarakat, negara dan agama maka kita masih bisa jalan. Jika di masyarakat ada kegiatan yang berjalan namun kurang sesuai agama maka diubahnya dengan cara bijaksana. Pelan-pelan. Kita tidak diminta untuk memusuhinya. Jika memusuhi maka kita keliru. Dakwah kita tidak akan sampai.

Memusuhi dan menjelekkan bukanlah cara untuk mengajak orang. Mestinya didekati, diakrabi. Sokur tahu apa yang disukainya. Diikuti pelan-pelan baru diarahkan. Budaya dan perilaku orang itu ibarat pohon. Kalau bengkok dan pohonnya masih kecil maka jika ingin membuatnya lurus, akan dengan mudah untuk diluruskan. Kalau pohonnya sudah besar sudah pasti akan kesulitan.

Jika belum mau menjalankan, pertama asal suka dulu sudah bagus. Seperti kita hadir di dunia ini. Lahir melalui proses. Tidak mungkin lahir langsung berlari. Semua ada proses dan ada hikmahnya. Dalam Islam semua dihargai. Walaupun belum bisa menjalankan asal dalam hatinya sudah ada rasa senang, itu sudah bagus. Belum mau menjalankan sholat tapi dia senang jika melihat orang sholat. Seperti ini sudah bagus. Jika sampai meninggal dan belum menjalankan, insya Allah tetap mendapat anugerahnya Allah. Dia akan dikumpulkan dengan yang disenanginya.

Kelebihan orang yang mau belajar itu kesalahannya dalam belajar diampuni Allah. Tidak ada dosa bagi orang yang mau belajar. Kebaikan itu tidak harus dilihat dari al Quran dan hadits saja. Kadang bisa dilihat dari perasaan kita sendiri. Perkara yang baik itu jika dikerjakan akan membuat tentram di hati.