Tertekan Karena Pandemi, Cobalah Bersepeda

Bersepeda dan menikmati keindahan Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. FITRI PUTRI DARMADI

Pandemi Covid-19 di Indonesia sampai saat ini belum juga menunjukkan penurunan, bahkan setiap hari, pasien Covid-19 terus bertambah. Mau tidak mau, semua itu membuat masyarakat harus lebih lama lagi berdiam diri di rumah. Baik untuk anak sekolah hingga pekerja, mereka harus menghadapi masa suntuk itu hingga waktu yang belum bisa ditentukan.

Pandemi membawa tren baru bagi masyarakat, salah satunya bersepeda. Bersepeda menjadi pilihan menarik bagi masyarakat untuk menghilangkan kepenatan setelah terkurung di rumah. Mulai dari pekerja hingga anak-anak menjadi gemar dengan olahraga yang satu ini.

Bersepeda di tengah pandemi yang belum usai, selain meningkatkan kebugaran tubuh juga bisa mengurai stres dan meningkatkan kekuatan serta mengurangi risiko kanker. Saya sendiri mulai rutin bersepeda dan menyempatkan waktu satu minggu sekali untuk melakukan olahraga tersebut bersama kawan-kawan.

Bagi saya pribadi, sangat apik apabila tren bersepeda bisa berlanjut menjadi rutinitas masyarakat. Dengan demikian, tren ini tidak akan pernah punah pada nantinya. Terlepas dari pro juga kontra yang terjadi di tengah masyarakat, saya rasa masyarakat hanya perlu melakukan kebiasaan bersepeda dan tidak menjadikan tren sesaat saja. Artinya, apa yang sudah terjadi dan sudah dibiasakan tidak harus berulang dari awal kembali untuk membiasakannya.

Banyaknya pesepeda membuat pengguna jalan harus mau berbagi jalur. Terkadang, pesepeda juga tidak memperhatikan rambu-rambu lalu lintas. Hal itulah yang kerap kali menjadi masalah bagi masyarakat.

Akan sangat banyak dampak positif apabila tren bersepeda bisa berkelanjutan. Selain dampak positif bagi tubuh, juga lingkungan. Hal inilah yang dapat dipahami oleh masyarakat. Semoga olahraga bersepeda tidak sebatas kelatahan dan tidak bekelanjutan.

Menurut data yang saya himpun sendiri setiap kali bersepeda pada Hari Minggu pagi, jumlah pesepeda terus memadati setiap tempat dan jalan. Mulai dari mereka yang sendiri, bersama kawan-kawan, juga bergerombol. Selain membuat lingkungan segar karena kurangnya asap kendaraan, pesepeda lebih intens berbincang bersama kawan-kawan mereka.

Berkunjung ke Destinasi Wisata

Di Wonogiri, banyaknya jumlah pesepeda melonjak setelah pandemi. Mereka berlomba-lomba untuk menjaga sistem kekebalan serta kesehatan tubuh dengan melakukan olahraga ini. Tempat-tempat yang ramai dikunjungi sebagai istirahat, biasanya Jembatan Merah Putih, Waduk Tandon, Alun-Alun Giri Krida Bakti, dan Patung Bedol Deso. Karena, keempat tempat tersebutlah yang menjadi destinasi wisata di Wonogiri.

Tetapi buruknya, mereka yang tidak terbiasa melakukan olahraga ini ternyata ada yang memaksakan diri untuk mengikuti tren. Akhirnya, tidak sedikit dari mereka yang malah sakit jantung atau meninggal dunia.

Bersepeda dengan memaksa tubuh agar tetap kuat menempuh jarak yang jauh atau ketika berjalan naik, bisa membuat pesepeda mengalami masalah pada jantung. Bersepeda dengan teknik yang salah, bisa berakibat fatal. Jadi, meskipun bersepeda hari ini menjadi tren dan fenomena baru di tengah masyarakat, tanpa adanya kesiapan fisik semua akan menjadi sia-sia.

Menurut saya, lebih baik bersepeda semampunya, karena bersepeda bukan ajang di mana kita meraih jarak paling jauh, tapi membiasakan diri untuk melakukan olahraga dan beradaptasi dengan keadaan normal yang baru.

Saya sendiri selalu berharap bahwa pemerintah memberikan fasilitas jalan khusus bagi pesepeda demi mengurangi pendapat kontra yang ada.

Add Comment