Sesat Pikir Historiografi Kolonial

Sudiroprajan, kampung Tionghoa di Kota Solo. PEMKOT SURAKARTA

Suatu ketika, saya membaca tulisan Damar Shashangka di dinding Facebook-nya. Ia menjelaskan kedudukan Harya Penangsang saat berkonflik dengan Ratu Kalinyamat, di mana harus berhadapan dengan Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang.

Harya atau Arya Penangsang ditulis oleh Shashangka dengan nada miring. Ia disebut mewakili kalangan Muslim Tionghua puritan dengan pengertian negatif. Sementara Jaka Tingkir dianggap mewakili kalangan pribumi atau orang Jawa.

Harya Penangsang oleh Shashangka dianggap sebagai pelanjut kerja ‘purifikasi’ Sultan Trenggono dan Raden Patah sebagai Tionghua Muslim pemimpin Kerajaan Demak. Kerajaan yang disebut oleh Shashangka pernah menyerang kampung-kampung pedalaman Jawa dengan semangat pemurnian berikut kerja besarnya menggulingkan Kerajaan Majapahit.

Tadinya saya percaya dengan catatan yang menyebut bahwa Demak menyerang Majapahit, lalu dengan itu menempatkan Demak sebagai kerajaan ‘kurang ajar’ atau ‘tidak tahu diuntung’, karena menyerang kerajaan yang memberinya tanah perdikan untuk hidup.

Demak diceritakan seperti ‘anak durhaka’ yang dibesarkan dan diberi banyak oleh Majapahit, tapi justru kurang ajar. Seperti layaknya tamu yang kurang ajar pada tuan rumah.

Mungkin tidak hanya saya. Barangkali banyak dari kita sering membaca berbagai tulisan sejarah yang menyinggung tentang ‘kedurhakaan’ ini. Lebih-lebih bagi mereka yang hanya merujuk pada sumber-sumber produksi Kolonial, semasa setelah Perang Jawa.

Kita pun mendapat tanggapan miring tentang Islam yang merusak tatanan Jawa, mengikis kebudayaan adiluhung Jawa, dan sebagainya. Dari sini lahirlah orang-orang yang sangat membanggakan dan mengagungkan kebudayaan Jawa, sembari menista ajaran Islam; menyebut Islam telah merusak budaya Jawa.

Anggapan semacam ini, oleh Irfan Afifi, disinggung sebagai problem untuk mewujudkan ‘Jawa esensial’ yang kemudian berhadapan dengan pengusung purifikasi Islam, ‘Islam esensial’. Kedua kelompok disemangati gerakan pemurnian. Kelompok pertama bermaksud memurnikan ajaran Jawa, sementara kelompok kedua ingin memurnikan ajaran Islam.

Pandangan tersebut telah disanggah oleh banyak penulis yang rata-rata berasal dari lingkungan pesantren. Mereka berada di tengah-tengah pengusung Jawa Murni dan Islam Murni. Nama-nama seperti Agus Sunyoto, Ahmad Baso, Irfan Afifi, Nur Khalik Ridwan, dan Hasan Basri banyak menulis tentang tema ini.

Semua penulis santri itu melawan anggapan ‘sesat’ yang seringnya lahir dari para penulis Barat, padahal pada kenyataannya, luput secara teori dan praktik. Misalnya, teori trikotomi masyarakat Jawa Clifford Geertz yang telah kadung dipakai banyak orang di sini.

Dalam sebuah tulisan, Kiai Agus Sunyoto menyebut, pangkal dari ‘kengawuran-kengawuran’ di atas, salah satunya karena kurang cakapnya penulis Barat dalam menguasai bahasa Jawa, dan keengganan sarjana kita untuk mencermati bagian-bagian narasi para orientalis.

Kiai Agus Sunyoto berpandangan, akibat kemerosotan pengetahuan tentang bahasa Sansekerta dan khususnya bahasa Kawi bukan hanya mempengaruhi bentuk penulisan sastra kuno, tetapi juga mempengaruhi kerangka pemikiran para penulis historiografi dalam memaknai kata-kata dan pembentukan asumsi.

Contoh paling sederhana, dalam memaknai kata ‘demak’ yang dalam Bahasa Kawi berarti ‘tanah hadiah dari raja’ telah dimaknai sebagai kata ‘ndemak’ (andemak) yang berarti ‘menerkam atau menyerang tiba-tiba’.

Kata itu melahirkan pandangan konotatif tentang Kadipaten Demak yang secara tidak terduga menyerang Majapahit. Kata itu dihubungkan dengan penyerbuan Raden Patah, Adipati Demak, ke Majapahit. Kata itu ditafsirkan sebagai cerita seorang anak durhaka yang menyerang kekuasaan ayahnya sendiri, seperti digambarkan Babad Kadhiri dan Serat Darmagandhul yang ditulis, jauh setelah masa Majapahit.

Pendiskreditan Wali Songo

Naskah Babad Kadhiri dan Serat Darmagandhul sebagai bagian dari historiografi kolonial terbukti ditulis untuk tujuan pendiskreditan Wali Songo.

Shashangka bahkan menjadikan Naskah Kronik Cina dari Klenteng Sampokong Semarang sebagai rujukan. Dalam Kronik itu, Wali Songo digambarkan sebagai agen Kaisar Cina yang ditugasi untuk meruntuhkan Majapahit melalui dakwah Islam. Oleh karena utusan Kaisar Cina maka Wali Songo disebut ‘orang Cina’.

Sebenarnya, tidak ada persoalan dengan tokoh-tokoh Cina yang ada dalam banyak catatan perjalanan penyebaran Islam di Nusantara. Misalnya, kawan karib Sunan Kudus bernama Sunan Telingsing yang bernama asli Tai Ling Sing. Atau kakek Raden Patah dari pihak Ibu bernama Tan Ko Hwat, seorang ulama keturunan Tionghua yang berdakwah di Gresik.

Hal yang tidak bisa diterima adalah pandangan bahwa Islam Tionghua identik dengan gerakan ‘puritan’ atau ‘pemurnian’ yang ujungnya selalu disebut telah merusak tradisi adiluhung Jawa. Padahal, banyak dari kalangan ini kerap mengenakan pakaian khas Mataram Islam yang lahir dari rahim kerajaan Islam sebagai penerus kerajaan Islam sebelumnya, seperti Pajang dan Demak.

Dan juga kurang cermat jika Shashangka menyebut bahwa Hadiwijaya tidak meneruskan jalur Demak dari dari Sultan Trenggono dan Raden Patah, hanya karena ia bermusuhan dengan keturunan Demak yang lain bernama Harya Penangsang.

Hadiwijaya adalah menantu Sultan Trenggono dari putri keempatnya bernama Ratu Mas Cempaka. Apalagi Hadiwijaya disebut dekat dengan putri kedua Sultan Trenggono bernama Ratu Kalinyamat. Dari upaya membela Ratu Kalinyamat inilah, Hadiwijaya dan dua pengikutnya bernama Panjawi dan Pamanahan mendapat tanah perdikan di daerah Pajang, Pati, dan Mataram.

Berkat hubungan tersebut, lahirlah Kerajaan Mataram Islam yang megah itu. Lantaran ketidakcermatan beberapa kelompok, simbol-simbolnya justru dipakai untuk ‘menghantam’ Kerajaan Demak.

Pandangan salah kaprah yang menempatkan etnis tertentu sebagai biang dari banyak persoalan, dalam soal ini etnis Tionghua atau Cina, mengingatkan kita pada kejadian huru-hara tahun 1998. Mengerikan sekaligus melalaikan banyak ingatan.

Bagaimana tidak? Banyak orang menjadi gegabah melimpahkan segala penyebab persoalan pada etnis tertentu. Menempatkan mereka pada posisi kambing hitam yang dikorbankan untuk sarana penebusan dosa. Padahal, banyak sekali sumbangan dari beragam etnis yang diperoleh bangsa ini.

Terlebih bila sang pembenci tak tahu atau tak mau tahu tentang sejarah penyebaran Islam di Cina atau negeri Tiongkok.

Add Comment