Sekolah Kosmopolitan, Sebuah Gagasan

Ilustrasi pemanfaatan teknologi informasi. KEMDIKBUD

Pengertian sekolah adalah lembaga pendidikan yang bersifat formal, non-formal, dan informal. Pendiriannya dilakukan oleh negara maupun swasta dengan tujuan memberikan pengajaran, mengelola, dan mendidik para murid melalui bimbingan yang diberikan oleh para pendidik atau guru.

Ada juga yang menyebutkan definisi sekolah sebagai lembaga pendidikan yang dirancang secara khusus untuk mendidik siswa atau murid dalam pengawasan para pengajar atau guru.

Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi sekolah adalah lembaga atau bangunan yang dipakai untuk aktivitas belajar dan mengajar sesuai dengan jenjang pendidikannya (SD, SLTP, SLTA).

Dalam pandangan penulis, sekolah merupakan sebuah lembaga pendidikan yang bersifat formal, non-formal, maupun informal yang didirikan oleh negara ataupun swasta serta dirancang untuk mewariskan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) dan mewariskan nilai-nilai (transfer of values) kepada anak didik melalui proses pembelajaran yang dilakukan oleh seorang pendidik (guru).

Dalam konteks ini, sekolah menjadi penting peranannya dalam mempersiapkan masa depan anak didik yang berdaya guna bagi diri, masyarakat, bangsa, dan negara dengan mewariskan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai melalui proses pembelajaran.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat di era globalisasi saat ini tak bisa dihindari lagi pengaruhnya terhadap dunia pendidikan. Era globalisasi menuntut dunia pendidikan untuk selalu dan senantiasa menyesuaikan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran.

Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah sangat diperlukan untuk berbagai kepentingan, termasuk sebagai media dalam proses pembelajaran. Selain digunakan sebagai media pembelajaran, teknologi informasi dan komunikasi dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengenalkan nllai-nilai universal.

Saat ini, hampir kurang lebih empat bulan, sekolah-sekolah menjalani interaksi sosial baru, yaitu pendidikan dalam jaringan (daring). Hal ini sejalan dengan instruksi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa semua sistem pendidikan bertumpu pada sistem jaringan selama pandemi Covid-19.

Sebuah kenyataan bahwa sekolah harus adaptif dalam semua keadaan. Berbagai evaluasi bermunculan tentang sejauh mana proses pembelajaran daring telah dilaksanakan. Namun, evaluasi itu berkelindan tak terarah, sehingga sulit menentukan kualitas apa yang telah dicapai dari pendidikan sistem daring tersebut.

Dalam pandangan reflektif, hilangnya jarak geografis karena aturan physical distancing, justru dalam pendidikan kita secara implisit sedang menuju pada budaya kosmopolitan. Secara tidak sadar, terkoneksikannya manusia dalam jejaring global melalui teknologi internet meningkat secara distorsif.

Kosmopolitanisme dan Sekolah Kosmopolitan

Gagasan tentang sekolah kosmopolitan bukan hal baru semenjak arus modern dan globalisasi secara merata hadir di belahan bumi. Infrastruktur kosmopolitanisme adalah kosmopolis.

Kosmopolis menurut Guru Besar Universitas Katolik Parahyangan Bambang Sugiharto dalam bukunya Kebudayaan dan Kondisi Post-Tradisi adalah semacam jejaring, terbentuk lewat interaksi masyarakat yang saling berkomunikasi dan membentuk kerumunan atau kelompok temporer dalam ruang maya ataupun nyata.

Dalam KBBI, istilah ‘kosmopolitan’ diartikan mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas dan terjadi dari orang-orang atau unsur-unsur yang berasal dari pelbagai bagian dunia.

Diakui atau tidak, bahwa masih banyak sekolah yang masih menggantungkan diriya pada model pembelajaran di kelas, tatap muka secara langsung, dan pemenuhan administrasi yang menguras energi, dan pikiran guru serta anak didik.

Padahal, di era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, proses pembelajaran di kelas sudah mulai berpindah dari ruang kelas menuju ruang maya dengan memanfaatkan perangkat lunak yang ada, seperti menggunakan layar gadget dan laptop dalam proses pembelajarannya.

Perpindahan proses pembelajaran dari ruang kelas ke dalam layar gadget dan laptop inilah yang telah menciptakan kebiasaan baru di sekolah-sekolah saat ini, yakni yang disebut dengan kosmopolitanisme.

Kebiasaan-kebiasaan baru masyarakat sekolah di tengah-tengah arus deras globalisasi saat inilah yang mendorong munculnya gagasan tentang sekolah kosmopolitan.

Sekolah kosmopolitan bukan lagi sebatas transfer of knowledge dan transfer of values di ruang-ruang kelas, tapi lebih dari itu, sekolah harus menjadi pusat kesadaran kritis-intelektual bagi anak didik yang dengan nalar-ilmiahnya mampu memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi sebagai media pembelajarannya.

Sekolah kosmopolitan harus menjadi agent of social change bagi anak didik melalui proses pembelajaran. Karena, sekolah kosmopolitan tidak lagi berpusat pada kemampuan guru mengajar dan anak didik menyerap pelajaran, tapi bagaimana guru dan anak didik merespons isu-isu global yang sedang aktual di tengah-tengah masyarakat. Karena, sekolah kosmopolitan menghubungkan kita dengan dunia luar yang sangat majemuk dan dinamis serta tidak terbatas,menuju budaya kosmopolitanisme.

Akhirnya, kita berharap, gagasan tentang sekolah kosmopolitan ini, pendidik maupun anak didik lebih mampu adaptif-responsif dalam percaturan global dan tergugah untuk mencari perspektif kebenaran universal, sehingga menjadi insan yang arif dan toleran dalam tindakan. Semoga.

Add Comment