Sangiran, tentang Muasal Peradaban

Museum Manusia Purba Sangiran. M. SYAID AKBAR

Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke Sangiran. Sebuah situs arkeologi di Provinsi Jawa Tengah yang secara administratif berada pada dua wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar.

Situs manusia purba Sangiran merupakan salah satu Warisan Dunia yang ditetapkan the United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organisation (UNESCO) pada 6 Desember 1996 dengan luas situs yang diakui, 56 kilometer, sebagai Daerah Cagar Budaya.

Semua berawal dari ketertarikan para peneliti asing yang berminat pada bukti-bukti arkeologis di sekitaran lembah sungai Bengawan Solo. P.E.C. Schemulling (1883), misalnya, dianggap sebagai penemu Situs Sangiran. Sebelumnya, Eugene Dubois pernah meneliti Sangiran, namun tidak terlalu intensif. Ia memindahkan pusat penelitiannya ke kawasan Trinil, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, sekira 40 kilometer di sebelah timur Sangiran.

Seorang ahli antropologi Gustav Heinrich Ralph Von Koenigswald memulai penelitiannya di Sangiran pada 1934 setelah mendengar bahwa banyak informasi penemuan tulang raksasa oleh warga sekitar kawasan Sangiran dan diperdagangkan. Tampaknya, ia juga termotivasi penemuan tulang paha Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois di Trinil pada 1891.

Hasilnya, berbagai macam penemuan fosil Homo erectus. Ada kurang lebih 60-an fosil Homo erectus lainnya, termasuk Meganthropus paleojavanicus.

Selain penemuan fosil manusia purba, ditemukan berbagai macam fosil hewan bertulang belakang (vertebrata), seperti buaya, kudanil, berbagai rusa, harimau purba, dan gajah purba.

Pada 1977, di Situs Sangiran didirikan sebuah museum dengan nama Museum Prasejarah Sangiran. Sebelum museum berdiri, semua fosil ditempatkan di rumah Kepala Desa Krikilan kala itu yang bernama Toto Marsono.

Karena rumah Toto Marsono sudah tidak mampu lagi menampung berbagai temuan arkeologis maka didirikanlah museum dengan tema ‘Apresiasi Sejarah Peradaban Manusia’.

Pada 1988, sebuah situs museum dan konservasi laboratorium sederhana didirikan di Sangiran dan tahun 1996, UNESCO mendaftarkan Sangiran sebagai Situs Warisan Budaya Dunia di Daftar Warisan Dunia sebagai Sangiran Early Man Site. Tanggal 15 Desember 2011, museum dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh.

Lima Klaster Museum

Saat ini, telah dikembangkan lima klaster museum. Pertama, Klaster Krikilan di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, menjadi pusat dan cikal bakal empat klaster setelahnya. Klaster Krikilan berfungsi sebagai pusat kunjungan (visitor center) yang memberikan informasi secara lengkap tentang Situs Sangiran.

Museum ini memiliki ratusan koleksi. Sebanyak 331 koleksi termasuk kategori cagar budaya dan 207 koleksi non-cagar budaya. Selama 2019, Museum Sangiran Klaster Krikilan telah dikunjungi lebih dari 157.000 orang.

Kedua, Museum Sangiran Klaster Ngebung, terletak kurang lebih 3 kilometer di sebelah utara Museum Klaster Krikilan. Sebagai situs yang pertama kali dilakukan penelitian secara sistematis, Ngebung menjadi lokasi bernilai historis tinggi. Kedatangan para peneliti dari Eropa hingga pengakuan dunia menjadi tema Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Ngebung.

Ketiga, Klaster Dayu, terletak di Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Situs ini banyak menyimpan kekayaan memori kehidupan sejak jutaan tahun silam, baik itu kehidupan flora, fauna, maupun manusia dan budayanya, serta merekam perubahan lingkungan yang pernah terjadi di Sangiran jutaan tahun silam.

Museum Sangiran Klaster Dayu Berdiri di atas lahan yang khusus dipilih dan dirancang sebagai sajian contoh lapisan tanah dari empat zaman dalam rentang masa 100 ribu hingga 1,8 juta tahun silam. Hal ini menjadikan Museum Sangiran Klaster Dayu mewujud sebagai pusat informasi tentang perlapisan tanah purba dan budaya manusia jenis Homo erectus terlengkap.

Keempat, Museum Sangiran Klaster Bukuran, berada di Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Tema dari museum dua lantai tersebut adalah evolusi manusia. Konsep dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan terhadap spesies disajikan secara ilmiah. Bukti-bukti berupa temuan tengkorak dari situs situs paleo-antropologi dunia ditampilkan sebagai gambaran mengenai posisi Situs Sangiran dalam peta evolusi manusia di dunia.

Kelima, Klaster Manyarejo, berada di Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen. Museum ini didirikan sebagai bentuk apresiasi terhadap para peneliti dari berbagai disiplin ilmu dan kepada warga masyarakat Sangiran yang telah melakukan pekerjaan besar penelitian serta menghasilkan berbagai penemuan penting untuk Situs Sangiran.

Museum Sangiran hadir dengan informasi yang populer disertai tata pamer dan display menarik, serta sentuhan teknologi terkini. Museum yang layak menjadi tujuan wisata edukasi dan sumber ilmu pengetahuan, karena pengunjung akan diajak berjalan menuruni tangga menuju masa jutaan tahun silam.

Dari Sangiran kita belajar tentang peradaban masa lalu yang merupakan rangkaian peradaban tak terpisahkan dari sebuah bangsa. Sebuah peradaban yang berproses, bahkan dari ratusan ribu hingga jutaan tahun yang lalu.

Kita bangsa tua. Bangsa berpengalaman. Berbagai rintangan telah dilalui. Bencana alam, bahkan proses evolusi dari evolusi fisik sampai evolusi sosial, setapak demi setapak dilalui hingga menjadi sebuah bangsa yang berperadaban tinggi.

Dari Sangiran kita belajar optimisme dan proses menuju kematangan. Jayalah Indonesia.

Add Comment