Pengajaran Daring dan Hak Pendidikan Anak

Ilustrasi pembelajaran daring. SMPN 1 KARANGANYAR

Waktu melangkah begitu cepat. Perkembangan zaman memaksa manusia yang belum tahu apa-apa, menjadi serba-tahu. Mereka yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman akan tertindas oleh zaman. Selalu begitu, hingga yang dipahami hari ini hanyalah bagaimana cara menjadi manusia milenial dengan segala kemudahan karena kecanggihan teknologi.

Gawai yang dulu hanya bisa digunakan untuk menelepon dan SMS, kini sudah bisa digunakan untuk berkomunikasi secara tatap muka, baik sendiri atau bersama-sama. Kemajuan teknologi inilah yang terkadang disikapi dengan tergesa-gesa. Akibatnya, manusia menjadi kerdil teknologi. Padahal, suatu perubahan yang disikapi dengan tergesa-gesa akan menjadikan siapa pun prematur. Hal inilah yang mestinya dijadikan perhatian bersama.

Contoh sederhananya, mengenai gawai. Hidup kita hari ini dipenuhi kenyataan bahwa gawai bisa mengubah dan merambah segala hal termasuk pendidikan. Pendidikan di Indonesia sedang mengalami perubahan, baik cara mengajar juga mengerjakan tugas. Anak didik dipaksa untuk bisa menggunakan ponsel pintar yang mampu beroperasi dengan menggunakan kuota data. Tidak cukup hanya SMS dan telepon tapi bisa bercakap-cakap secara tatap muka. Kecanggihan dan kemajuan ponsel pintar disikapi dengan beberapa nilai plus.

Tetapi, hal yang perlu disayangkan adalah ketidakmampuan orang tua. Anak yang masih bersekolah TK atau pun SD atau SMP yang tidak datang dari orang tua kaya, mampu, dan melek teknologi akan sangat tertinggal jauh. Akibatnya, anak tidak mendapatkan pendidikan secara maksimal. Hal itu yang seharusnya menjadi perhatian. Sebab, tidak semua orang mampu untuk membeli ponsel pintar, juga kuota data yang harganya lebih mahal daripada beras.

Padahal, pendidikan adalah hak wajib yang seharusnya didapatkan oleh anak-anak. Pendidikan adalah kunci mereka melangkah di masa-masa seperti ini. Masa di mana manusia harus mampu bersaing dengan kepandaiannya.

Mungkin pendidikan dengan sistem daring hanya dilakukan di masa-masa pandemi, tetapi dengan waktu yang sudah berjalan begitu lama, anak yang sepantasnya mendapat pendidikan di bangku sekolah dengan bertemu teman-teman, akhirnya harus dan hanya mengerjakan semua tugasnya di rumah.

Peran Orang Tua

Beberapa anak yang saya tanyai mengenai pendidikan dengan sistem ini merasa pusing, bahkan bingung. Bagaimana tidak? Mereka hanya diberikan tugas dan tugas sedangkan materi yang mereka dapatkan hanya sedikit.

Mereka tertekan dengan kebosanan karena ‘di rumah saja’ serta masih mendapatkan tekanan dari tugas-tugas yang bagi mereka adalah beban. Di sini, mau tidak mau, orang tua harus bergerak. Orang tua harus ikut serta dalam memberikan sedikit pengajaran. Lalu bagaimana dengan orang tua yang tidak melek pendidikan? Bagaimana dengan orang tua yang sibuk bekerja dari pagi sampai sore? Bagaimana nasib mereka?

Segala hal yang terjadi sudah sepantasnya menjadikan tolok ukur, bagaimana sebenarnya kita menyikapi anak-anak kita. Menyikapi hak anak yang tiba-tiba hilang begitu saja karena pandemi. Mungkin ini yang seharusnya dipahami bersama bahwa kebutuhan anak bukan sekadar waktu bermain, dan bukan hanya uang saku; tapi pendidikan. Betapa banyak yang bisa didapatkan ketika mereka bisa bersekolah, bisa bersama teman-teman mereka.

Pada momentum Hari Anak, 23 Juli 2020, saya hanya ingin memberikan pemahaman kepada siapa pun, terutama para orang tua. Bahwa anak adalah aset negara. Mereka yang hari ini capek dengan segala beban tugas mereka adalah mereka yang suatu saat nanti menjadi penopang hidup bangsa. Sebelum semua hal semakin kusut, sudah sepantasnya kita mengerti dan mendengar apa yang anak keluhkan.

Add Comment