Pandemi Covid-19, Sebuah Titik Deglobalisasi

Ilustrasi perang dagang Amerika Serikat dan China. FPRI

Angka 2020 menjadi tahun kemenangan virus dalam menghadapi seleksi alam. Covid-19 menjadi virus tercepat yang menyebar dan terganas pertama, setidaknya pada abad ke-21. Bukan hanya manusia yang berevolusi, virus pun demikian.

Jared Diamond (2016) dalam Bedil, Kuman, dan Baja menjelaskan proses domestifikasi hewan ternak menjadi salah salah satu penyebab pandemi. Proses interaksi yang terus-menerus antara hewan ternak dan manusia menyebabkan mikroba berevolusi untuk dapat bersarang dan berkembang dalam tubuh manusia.

Kemenangan Covid-19 adalah malapetaka besar bagi umat manusia. Meski demikian, manusia telah mengalami berkali-kali pandemi dan menyebabkan gen manusia pun lebih tahan terhadap virus tertentu.

Namun, apakah umat manusia bisa bertahan untuk meminimalkan korban jiwa akibat Covid-19? Jawabannya ada pada kebijakan dan tata kelola pemerintahan, pemegang kendali penuh negara.

Covid-19 dikenal pada akhir 2019 di Wuhan, China, dan dalam hitungan tiga bulan telah menyebar ke seluruh pelosok bumi. Didukung kemajuan teknologi dan kebudayaan kerumun umat manusia menambah pesat laju perkembangbiakan virus antar-manusia.

Penyebaran pesat ini tidak memberikan banyak pilihan bagi negara-kota, selain menutup akses masuk. Herd immunity bukan pilihan. Banyak negara menyaring atau mengunci barang maupun mobilitas umat manusia. Satu per satu negara-kota menerapkan penguncian akses keluar masuk. Apakah pilihan penguncian menimbulkan dampak berkelanjutan?

Kita sudah cukup mengetahui, abad ke-20 diakhiri dengan penghancuran batas negara. Kekalahan Uni Soviet dari Amerika Serikat pada Perang Dingin terjadi. Tembok Berlin diruntuhkan. Secara simbolis, abad globalisasi dengan kecepatan tinggi pun dimulai.

Thomas L. Friedman (2005) mencatat, negara-negara di seluruh dunia bergejolak dan beralih dari negara otoritarianisme ke demokrasi. Arus informasi, investasi, dan teknologi bertukar dengan cepat antar negara-bangsa. Negara menjadi kehilangan kontrol atas arus informasi, bahkan investasi, yang masuk ke dalam dan ke luar negeri.

Kenichi Ohmae (1995) menganggap, dimulainya zaman globalisasi adalah berakhirnya peran negara-bangsa, setidaknya dalam membendung kedaulatan informasi dan investasi negara. Terjadi pula ketergantungan pada korporasi, pasar modal luar negeri, dan SDM luar negeri.

Bukan hal yang salah bila Kenichi Ohmae menganggap globalisasi sebagai akhir negara-bangsa. Terlebih untuk negara-negara dunia ketiga. Namun, anggapan ini terbantahkan oleh kebijakan beberapa negara yang melakukan proteksi dalam negeri dan melakukan perang dagang untuk membantu korporasi di dalam atau pun di luar negeri, seperti Amerika Serikat dan China, dua raksasa ekonomi kekinian.

Deglobalisasi

Jalinan globalisasi sejak akhir abad ke-21 berjalan cepat menuju akhir dekade kedua abad ke-21. Globalisasi dalam perdagangan global dinilai menurun. Foreign Policy Research Institute (FPRI) menyebutkan penurunan atau degloblalisasi, setidaknya setelah China menjadi raksasa ekonomi. Jumlah nilai dagang antar-negara pada 2019 menurun dibandingkan tahun 2018. Salah satunya, akibat perang dagang Amerika Serikat berupa pengenaan tarif impor untuk komoditas dari China.

Pelambatan globalisasi juga didorong oleh kebijakan pemerintah negara-kota akibat Covid-19. Arus mobilitas barang dan manusia berhenti sejenak. Alat-alat dan barang kesehatan ditahan untuk tidak diekspor ke negara lain.

Titik rantai perdagangan ekonomi global terganggu dengan munculnya pandemi. Dalam hal ini, kemandirian ekonomi sebuah negara adalah keharusan. Namun, apakah negara mampu menyelesaikan masalah ini?

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis riset sosial demografi dampak pandemi. Hasilnya, dari 87.379 responden 18,34 terkena kebijakan dirumahkan oleh perusahaan, serta 2,52 persen terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Pada April 2020, Kementerian Ketenagakerjaan merilis data tentang 1,5 juta orang yang kehilangan pekerjaan.

Belajar dari Tibayan

Tak mau mengharap banyak pada negara, sebuah kelompok kecil anggota masyarakat membentuk komunitas dan berinisiatif mengembangkan gerakan kemandirian di masa pandemi. Warga Desa Tibayan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, menghimpun diri secara teroganisasi untuk bahu-membahu, terutama memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Warga menggalakkan iuran bersama untuk diberikan kepada warga yang terkena langsung dampak pandemi secara ekonomi. Selain itu, pemberian tanaman sayuran beserta polybag untuk dibudidayakan di rumah masing-masing warga.

Pandangan menarik berjudul ‘How different societies react to pandemics’ ditulis Jim Logan, seorang peneliti University of California. Menurutnya, gerakan kolektivitas masyarakat dalam menghadapi pandemi adalah cara yang efektif. Mereka mengukur rasa aman dalam komunitas yang dibagi dalam tiga tahap.

Pertama, rasa aman pribadi dan komunitas. Kedua, rasa aman komunitas memberikan perlindungan terhadap diri sendiri. Ketiga, seberapa besar negara memberikan perlindungan terhadap diri sendiri.

Dan warga Tibayan tak mau bergantung pada negara. Mereka berhasil memberikan rasa aman pada warganya.

Add Comment