Manfaat Dzikir

(Foto:Pinterest.com)

Mendapat kebaikan dunia dan akhirat adalah anugerah yang sempurna dari Allah. Dhahirnya cukup, hatinya juga tentram. Yang perlu diperjuangkan selanjutnya adalah keistiqomahannya.

Orang yang seperti di atas jika diberi umur yang panjang oleh Allah, dia bisa merasakan hidup yang bahagia di dunia. Jika diberi umur yang pendek bisa merasakan nikmatnya hidup di akhirat. Sebenarnya umur panjang atau pendek itu tidak jadi masalah. Kalau umurnya panjang bisa membersamai anak cucu, bisa menolong yang lain, bisa memberi kebahagiaan yang lain. Maka sempurnalah dia.

Peringkat kedua, jika kondisi dhahir duniawinya biasa-biasa saja bahkan bisa tergolong berat namun jiwanya tenang. Jiwanya bisa merasakan kebahagiaan. Bisa jadi dhahirnya berat, akan tapi hatinya bahagia. Seperti ini juga anugerah yang luar biasa. Yang perlu diperjuangkan selanjutnya adalah tata dhahir. Memperjuangkan agar urusan duniawi bisa tercukupi.

Orang yang masuk kelompok kedua ini, beratnya mencari rejeki dinilai jihad oleh Allah. Maka yang perlu dikedepankan adalah kebahagiaan batin. Walaupun di dunia berat tapi batinnya tentram.

Jika diberi umur panjang maka yang sejatinya berat tidak terasa berat. Walau bekerja harus dengan membanting tulang, dia selalu bersyukur. Masih diberi nikmat panjang umur dan sehat. Yang selalu dia ingat adalah sisi nikmatnya Allah.

Adalah sebuah keberhasilan apabila seseorang tidak menjadi beban orang lain. Ketika seseorang meninggal dunia dalam keadaan berat mencari rejeki, berjuang agar bisa mencukupi kebutuhan keluarganya maka meninggalnya termasuk syahid.

Peringkat ketiga, dhahirnya sudah berkecukupan namun batinnya selalu merasa kurang. Artinya, begitu banyak nikmat dari Allah tapi dia tidak bisa merasakan nikmat tersebut. Bisa jadi kendaraannya bagus tetapi kepalanya selalu panas karena harus berjuang untuk membayar kredit sekian ratus juta setiap bulannya. Dan sejenisnya.

Orang yang masuk kelompok ini, dia tidak bisa menikmati anugerah yang dia terima. Mestinya kita bisa memakai ukuran yang sederhana ini. Jika punya sepeda onthel, mestinya bisa merasa lebih bahagia jika dibanding yang tidak punya sepeda. Jika punya motor, mestinya bisa merasakan nikmat dari Allah jika dibanding yang hanya punya sepeda. Punya mobil mestinya lebih bahagia dari pada yang punya motor saja. Konsep hidup mestinya seperti itu. Tapi apakah itu berlaku bagi semua orang? Sepertinya tidak.

Yang masuk kelompok ini, yang perlu diperjuangkan adalah kebahagiaan batinnya. Kenapa hidup sudah berkecukupan tapi tetap saja tidak bahagia? Sebenarnya apa yang dicari? Apa kurang banyak?

Kalau menuruti kurang banyak maka tidak akan ada habisnya. Orang dengan peringkat ketiga ini adalah orang yang menjadi masalah di dalam kehidupan dunia. KPK dibentuk karena ada orang kategori nomer tiga ini.

Orang yang menuruti hawa nafsunya tidak akan ada habisnya. Isinya selalu kurang. Maka ketika persoalan ini tidak segera diselesaikan akan banyak menimbulkan masalah di dalam kehidupan. Orang masuk peringkat pertama dan kedua kehidupan di dunianya tentram. Membawa keberkahan. Peringkat ketiga, sebaliknya.

Yang paling menjadi masalah adalah orang yang masuk peringkat keempat. Dunia berat, batinnya juga susah. Urusan akhirat tidak jelas. Jika diberi umur panjang dia akan repot dan merepotkan orang lain. Orang yang masuk kelompok ini, maka harus berjuang dengan sungguh- sungguh. Karena urusan dunianya tidak kepegang, akhiratnya tidak jelas.

Orang yang masuk kategori ini, hidupnya banyak melakukan hal-hal yang tidak dibolehkan oleh agama. Bisa saja kesukaanya berjudi, minuman keras, berani ke orangtua, sudah berkeluarga tapi keluarganya tidak diurusi. Dan yang semacamnya.

Orang yang masuk kelompok keempat ini, hidupnya pasti akan membuat repot orang lain. Pekerjaan rumahnya banyak. Dia harus berjuang untuk dunianya, berjuang untuk akhiratnya juga. Harus berjuang secara dhahirnya. Harus berjuang secara batinnya. Jika dunia dan akhirat luput semuanya, tak dapat diraihnya, pertanyaannya kenapa harus jadi manusia?

Lantas apa kaitannya dengan berdzikir? Pertama, dzikir itu benteng kehidupan kita. Sebisa-bisanya setiap hari kita mesti berdzikir. Jika kita terbiasa membaca kalimat-kalimat yang baik seperti istighfar, sholawat, tasbih, ayat-ayat al Qur’an dan apa saja yang baik, maka dalam posisi berdzikir ini kita dibentengi oleh para malaikat. Dibentengi Allah. Orang yang punya niat jahat ke kita, maka akan kembali ke mereka sendiri.

Kedua, dzikir itu obat. Obat yang sifatnya dhahir dan batin. Obat yang urusannya dengan Allah. Orang yang terbiasa dzikir akan dihilangkan dari sifat sombong, sifat dengki. Ini adalah berkahnya dzikir.

Ketiga, dzikir membawa dampak yang baik untuk tubuh manusia. Bagi tubuh manusia, semua suara membawa dampak. Suara yang paling membawa dampak paling bagus adalah suara al Qur’an. Akan membawa kesehatan jasmani dan rohani. Sel-sel tubuh yang kurang baik akan membaik kembali. Dengan membaca atau mendengarkan al Qur’an.

Maka ketika al Qur’an dibaca agar memperolah rahmatnya Allah sebaiknya diam. Mendengarkan. Apabila al Qur’ an dibaca dan kita berbicara sendiri maka kita termasuk orang yang tidak baik. Karena tidak memperhatikan perintah Allah.

Kita akan terkena pasal. Sama ketika mendengar adzan. Tidak mau mendengar, tidak mau menjawab. Akan berefek tidak baik. Ancamannya, kelak telinga kita bakal dicor dengan timah yang panas. Asma Allah disebut, koq tidak mau mendengarkan. Dipanggil Allah tidak mau menjawab. Sepertinya sepele tapi ini akibatnya bisa fatal.

Jika kita mendengar adzan dan sama sekali tidak tersentuh maka dipastikan kita punya masalah dengan kejiawaan kita. Mestinya kita perhatikan dan menjawabnya. Sokur-sokur kita bisa merubah pekerjaan. Artinya mengatur waktu kerja agar saat adzan bisa memenuhi panggilannya.

Dzikir banyak manfaatnya. Maka perlu kita biasakan membacanya. Di antara pilihan berdzikir adalah dengan membaca sholawat. Jika kita membaca sholawat satu kali maka akan dibalas 10 kalinya.

Kita perlu terus belajar agar kapan dan di mana saja hati kita terhubung dengan Allah. Jika kita terjaga dari tidur, apes-apesnya kita usahakan menyebut asma Allah. Itu bukti hati selalu ingat Allah. Lebih hebat lagi, ketika kita terjaga kita usahakan melakukan sholat tahajjud.