Mahasiswa UNS Ciptakan Fungisida dari Kulit Jeruk Pamelo

Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berhasil menciptakan fungisida alami dari kulit jeruk pamelo. (Foto: Humas UNS)

Balapan-Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berhasil menciptakan fungisida alami dari kulit jeruk pamelo. Berkat inovasi yang diberi nama Darikulo (Fungisida Organik dari Kulit Pamelo) tersebut, kontingen mahasiswa UNS ini berhasil meraih medali perak di ajang Perlis International Engineering Invention & Innovation Exhibition 2020 (Pi-Envex) pada 20-22 Maret 2020 lalu.

Kontingen mahasiswa UNS dalam Pi-Envex 2020 beranggotakan Ahmad Imam Syafi’i asal Program Studi (Prodi) D3 Agribisnis Hortikultura Sekolah Vokasi (SV), Fauzia Diah Rahayu asal Prodi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian (FP), Gallanta Andre Perdana Putra asal Prodi D3 Agribisnis Hortikultura SV, Hulwa Anindya Pratiwi asal Prodi Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dan Windi Mulyani asal Prodi Pendidikan Ekonomi FKIP dengan dosen pembimbing, Feri Setyowibowo, SE., MM.

Dalam kompetisi yang digelar oleh Malaysia Research and Innovation Society (MyRis), kelimanya menciptakan Darikulo yang merupakan produk fungisida organik untuk mencegah pembusukan buah pada tanaman tomat.

“Darikulo adalah fungisida organik dari ekstrak kulit jeruk pamelo untuk mencegah pembusukan buah akibat phatogenic thanatephorus cucumeris di tanaman tomat,” ujarnya seperti yang di release Humas UNS.

mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi FKIP tersebut menerangkan jika tomat merupakan salah satu tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Oleh karena itu, tanaman tomat dipilih untuk dijadikan objek inovasi Darikulo.

“Lomba ini tajuknya Pi-Envex will have focused on the commercialization and marketability, patent or license granted, and design packaging or aesthetic value of product’ dan latar belakang kami membuat Darikulo ini adalah penyebab masalah membusuk pada tomat terjadi karena phatogen thanatephorus cucumeris,” lanjut Windi.

Mengurangi Limbah Jeruk Pamelo

Selain itu, Windi bersama rekan-rekannya juga berinisiatif untuk mengurangi limbah jeruk pamelo. Windi mengatakan usai jeruk pamelo dipanen kulitnya kerap kali kurang dimanfaatkan dengan baik.

Secara eksklusif, Windi menerangkan proses pembuatan Darikulo. Ia mengatakan dalam proses pembuatan ekstrak kulit jeruk Pamelo mereka membutuhkan etanol yang berfungsi sebagai pelarut.

“Proses pembuatan Darikulo caranya produk kulit jeruk pamelo dicuci hingga bersih. Kemudian, kulitnya dipotong-potong dengan ukuran 0,5 cm dan selanjutnya dihaluskan dengan menggunakan blender,” jelas Windi.

Usai dihaluskan, kulit jeruk pamelo ditumbuk dan kemudian direndam dengan 96% satu liter etanol selama dua hari. Selanjutnya, kulit jeruk pamelo disaring dengan menggunakan kain gelap sehingga larutan ekstrak etanol orange berhasil diperoleh. Proses terakhir adalah penguapan rotari untuk memisahkan etanol dengan ekstrak selama 15 jam.

Windi mengatakan Darikulo dapat diaplikasikan untuk menyemprot tanaman tomat. Penggunaan Darikulo disemprotkan seminggu sekali untuk mengendalikan buah yang membusuk pada tanaman tomat.

Darikulo yang mereka ciptakan juga disebut Windi ramah lingkungan. Sebab, produk fungisida organik tersebut dibuat dari bahan alami sehingga tidak berbahaya jika dibandingkan dengan pestisida kimia.

“Proyek ini menghadirkan inovasi pestisida alami yang ramah lingkungan, mengurangi pembusukan pada tomat serta mengurangi limbah kulit jeruk pamelo. Nantinya, Darikulo dikemas dalam botol dengan volume 500 ml dengan harga Rp. 17.500. Kemasan botol fungisida Darikulo juga dilengkapi dengan banyak informasi tentang produk seperti merek, barang, netto.” jelasnya.

Add Comment