Keberkahan, Siapa yang Tidak Menginginkannya

(Foto: Pinterest.com)

Surat al Mulk diberikan ke Kanjeng Nabi Muhammad dan umatnya. Sebagai anugerah dari Allah. Surat ini jika dibiasakan dibaca, khususnya di waktu malam hari akan menyelamatkan kita dari siksa kubur. Dia akan menjadi backing kita. Sangat sayang jika dilewatkan.

Dikisahkan, ada orang yang semasa hidupnya secara umum tidak ada nilai kebaikannya. Hidupnya suka membuat susah orang lain. Suka membuat masalah. Suka membuat resah.

Akan tetapi di akhir hayatnya, ada seorang temannya yang bermimpi dia dimuliakan dengan diberi keberkahan oleh Allah. Keberkahan tersebut ketika malaikat Munkar Nakir hendak menanyainya. Temannya tersebut bersaksi bahwa dia adalah orang yang baik. Bagaimana ceritanya sampai dia dimuliakan Allah dengan memperoleh keberkahan? Dia bertanya ke ibunya orang tersebut. Dia adalah tunggal. Dia termasuk anak yang dimanja oleh ibunya. Apa saja keinginannya dituruti.

Ketika dicari-cari apa kebaikan dari sang anak ini, ibunya seolah sudah pasrah. Sepertinya tidak ada amal yang istimewa yang dimiliki oleh anaknya. Lantas dicoba untuk mencari tahu apa yang ada di kamar anaknya tersebut. Ditemukan ada tulisan al Qur’an, surat Mulk. Ditulis tangannya sendiri. Sebisa-bisanya. Dan tulisan ini ternyata dibaca setiap malam sebelum tidur.

Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini, kita bisa menilai orang lain itu hanya secara syariat saja. Secara batin hanya Allah yang tahu. Secara lahir kita bisa menyebut seseorang adalah preman. Secara batin bisa saja dia malah seorang wali Allah. Tidak ada yang tahu. Siapa tahu ternyata dia rajin tahajudnya. Siapa tahu dia rajin sedekah. Suka menyantuni anak yatim. Kita tidak tahu persis.

Ternyata amalan suka membaca surat pembuka juz 29 itu itu membawa manfaat yang hebat. Ketika malaikat Munkar Nakir hendak menanyainya, datanglah malaikat Allah yang menghentikan malaikat Munkar Nakir.

“Kamu harus lebih sopan kalau bertanya ke saudaraku ini wahai Munkar Nakir,” kata malaikat tersebut.

Jawab Munkar Nakir, “Harus sopan apanya, wong dia dulu seorang preman.”

Sambung malaikat jelmaan dari surat al Mulk tadi, “Ketika hidupnya dia mencintaiku. Semua urusan dengan saudaraku ini, sudah menjadi urusanku.”

Yang bisa mengalahkan malaikat hanya sesama malaikat. Sama-sama utusannya Allah. Akhirnya Munkar Nakir lapor ke Allah, “Ya Allah ini ada hambaMu yang tidak baik semasa hidup di dunia. Ketika aku akan menanyainya, ada malaikat yang melindunginya.”

Jawab Allah, “Wahai Munkar Nakir, karena dia mencintai al Mulk maka Aku memberinya keberkahan. Dosa-dosanya sudah Aku ampuni.”

Terhadap kisah seperti ini, kita tidak boleh salah dalam mengambil pelajarannya. “Kalau begitu mending jadi preman saja, lantas menulis surat al Mulk dan tiap malam dibaca. Besok di alam kubur beres.”

Tidak boleh seperti itu. Kita harus menyikapinya bahwa yang seperti itu adalah wujud anugerahnya Allah. Yang diberikan ke Kanjeng Nabi dan umatnya. Termasuk kita.

Ayat pertama yang disebut Allah di surat al Mulk adalah tabarakalladzi. Ayat ini diawali dengan keberkahan. Semua ciptaan Allah intinya membawa keberkahan. Diberi umur membawa keberkahan. Diberi anggota badan membawa keberkahan. Diberi rejeki membawa keberkahan. Apa saja diusahakan membawa keberkahan dari Allah.

Termasuk ciri-ciri keberkahan adalah apapun mengutamakan yang terbaik. Apapun yang terbaik akan mendatangkan cinta Allah. Kedua, menjadikan kebaikan. Ahli fiqih mengatakan, termasuk ciri seseoranng mendapatkan keberkahan adalah tambahnya kebaikan.

Jadi jika seseorang mendapatkan kenikmatan tapi tidak mendapatkan keberkahan maka tidak sempurna. Sama saja punya raga tapi tidak sehat.

Terkait dengan keberkahan ini memang ada cara yang lain. Tidak seperti cara biasa. Kalau belajar tekun akan pintar. Bekerja sungguh-sungguh akan sukses. Seperti itu biasa. Tapi keberkahan ini ada sisi lain.

Keberkahan bisa ditempuh lewat 2 jalur. Pertama, itu memang pemberian Allah. Kedua, harus diusahakan. Orang mencari ilmu penekannya lebih kepada keberkahnnya. Punya ilmu harus memegang keberkahan. Bagaimana caranya agar ilmunya berkah? Dengan berbagai cara. Yakni bagaimana belajarnya. Dan bagaimana menerapkannya di tengah masyarakat.

Ilmu jika membawa keberkahan di masyarakat akan nyaman. Jika tidak berkah, maka hawanya malah panas. Karena ilmu yang kita punya dengan praktik di tengah masyarakat kadang tidak bisa sama persis.

Mesti ada kelonggarannya. Cara memahaminya bukan dengan mengatakan ini halal dan itu haram. Akan tetapi pertimbangannya adalah manfaat dan madharatnya. Perlu ilmu yang lebih luas. Perkara yang sudah jelas itu jelek, tidak perlu dikatakan itu jelek. Orangnya bisa malah jadi marah. Dia tidak butuh diomeli. Tidak butuh dimarahi. Yang dia butuhkan adalah diberi pemahaman. Ibarat orang kehausan dia butuh diberi minuman. Perlu diarahkan. Jika perlu diberi contoh.

Jika bisa menerapkan seperti itu sangat mungkin itu menjadi bagian dari keberkahan. Maksudnya orang yang berilmu mestinya bisa jadi pengayom. Jadi rujukan. Tidak menbuat kubu-kubu. Jika berkubu-kubu bisa menjadikan hilangnya keberkahan.

Jika punya ilmu tapi tidak berkah akan menjadi sebab hidupnya tidak tenteram. Tidak menemukan apa sebenarnya yang dicari dalam hidup ini. Dalam ilmu tasawuf dipertanyakan, sabenarnya apa yang dicari dalam hiudp ini. Sehingga sampai seperti itu jalan hidupnya. Jangan sampai kita ingin menuju surga tapi jalan yang ditempuh adalah jalan yang menuju ke neraka. Ingin hidup tenteram tapi jalan yang dititi menuju tidak tenteram.

Tafsir ayat pertama dalam surat al Mulk ini adalah bahwa semua ciptaan Allah yang kita terima saat ini sudah mengandung makna keberkahan. Tinggal kembali ke masing-masing kita. Matahari membawa berkah. Bumi membawa berkah. Tidak harus sama cara menyikapinya. Jika ingin berkah maka kita perlu meningkatkan kebaikan kita.

Jangan sampai hidup di dunia yang hanya sekali saja tidak memperoleh keberkahan. Akan sangt repot. Setelah makan mestinya kenyang. Jangan sampai kita hidup dalam posisi yang penuh kelimpahan dari Allah tapi seakan-akan hidup kita tidak mendapat nikmat dari Allah. Terlebih di era saat ini. Jika tidak paham benar yang dirasakan, sekan-akan hidup kita tidak mendapat nikmat dari Allah.

Yang dikeluhkan setiap hari adalah seputar pekerjaan sepi. Cari uang sudah mulai sulit. Harga-harga mahal. Yang disebut-sebut selalu yang susah. Padahal yang nikmat itu sebanyak-banyaknya. Jika kita hendak menghitungnya, dijamin tidak akan mampu.

Dalam kondisi pandemi seperti saat ini adalah ujian untuk kita semua. Semoga semuanya lulus. Merasa berat masih taraf diperbolehkan. Yang penting jangan sampai maido ke Allah. Apapun yang terjadi, posisi kita tetap di jalan yang baik. Tetap mencari keberkahan dari Allah. Selamat dunia akhirat, insya Allah.