Islam Masuk ke Cina Sejak Zaman Rasulullah

Masjid Huaisheng di Kanton, Provinsi Guang Zhou. Masjid pertama yang berdiri di daratan Cina. WIKIPEDIA

Karena pandangan yang salah kaprah, di negeri ini, etnis Tionghua atau Cina sering kali dianggap biang dari banyak persoalan. Padahal, penyebaran Islam di Cina berhasil menorehkan sejarah luar biasa. Termasuk membawa syiar Islam ke Nusantara.

Secara geografis, wilayah Cina membentang dari Siberia hingga daerah yang beriklim tropis, dan dari Samudra Pasifik hingga mencapai jantung Asia Tengah. Kondisi alamnya berupa dataran tinggi di bagian barat daya, dengan rangkain Pegunungan Himalaya yang berjejer melengkung seperti busur, membentang dari Hindukush hingga kepulauan Indocina.

Padang rumput (stepa) membentang dari kawasan Siberia hingga Cina bagian utara. Daerah pantai membentang dari muara Sungai Amur, memanjang ke selatan. Daerah subur di kawasan aliran sungai-sungai besar mencakup area yang meliputi Sungai Sungari dan Lao di Manchuria, dataran rendah di Cina tengah yang luasnya mencapai 300 ribu kilometer persegi dan dialiri oleh Sungai Kuning atau Huanghe, kawasan aliran Sungai Yangzi, dataran rendah Kanton, dan daerah aliran Sungai Merah di Vietnam.

Iklim di Cina sangat bervariasi karena wilayahnya sangat luas. Daerah selatan dan timur hingga bagian utara beriklim kering karena dipengaruhi oleh angin muson. Dari utara hingga selatan, Cina memiliki perbedaan garis lintang yang besar, sehingga terjadi perbedaan temperatur udara yang sangat tajam. Di Siberia, misalnya, berembus udara dingin, sedangkan di selatan, iklimnya tropis.

Sejarah kebudayaan Cina merupakan salah satu yang tertua di dunia. Wilayah Cina telah dihuni oleh manusia purba sejak 1,7 juta tahun yang lalu. Sejak zaman Paleolitik, Homo erectus telah mendiami wilayah Cina. Homo erectus paling terkenal adalah manusia Peking, yang ditemukan tahun 1965. Peralatan batu yang ditemukan di situs Xiaochangliang telah berumur 1,36 juta tahun. Situs arkeologi Xihoudu di Provinsi Shanxi menunjukkan catatan paling awal penggunaan api oleh Homo erectus, yang berumur 1,27 juta tahun.

Peradaban Cina berawal ketika berdiri berbagai negara-kota (polis) di sepanjang Lembah Sungai Kuning pada zaman Neolitikum. Sejarah tertulis Cina dimulai dari masa Dinasti Shang (1750-1045 SM). Hal ini, antara lain, ditandai dengan ditemukannya tulisan kuno pada tempurung kura-kura yang memiliki penanggalan radio karbon hingga 1500 SM. Pada zaman Dinasti Zhou (1045-256 SM), budaya, sastra, dan filsafat Cina sudah mulai berkembang. Berkembang pula tulisan Cina modern.

Kekaisaran pertama muncul setelah Qin Shi Huang pada tahun 221 SM, berhasil menyatukan berbagai kerajaan yang timbul karena perpecahan dalam tubuh Dinasti Zhou. Sebagian besar rakyat Cina terasimilasi ke dalam populasi suku Han.

Sebelum dan setelah masuknya Islam, kekuasaan dinasti di Cina mengalami rangkaian pergantian yang panjang. Mulai dari Dinasti Xia pada 2100-1600 SM, sampai Dinasti Yuan yang didirikan oleh Kubilai Khan pada 1279-1368, setelah meruntuhkan Dinasti Jin. Dinasti mongol ini merupakan dinasti pertama yang memerintah seluruh Cina dengan ibu kota Beijing.

Selanjutnya Dinasti Ming (1368-1644) memerintah Cina setelah pendirinya, Zhu Yuanzhang dari suku Han, berhasil meruntuhkan kekuasaan Dinasti Mongol Yuan. Di masa Dinasti Ming, pembangunan Tembok Besar Cina yang monumental itu selesai dilaksanakan.

Dan dinasti terakhir di Cina adalah Dinasti Qing (1644-1911), yang berdiri setelah kekalahan Dinasti Ming. Pada masa itu, terjadi berbagai pemberontakan yang dipicu oleh kezaliman penguasa. Umat Islam mengalami intimidasi, bahkan diperangi, sehingga banyak jatuh korban dan sebagian lagi terusir dari kampung halamannya.

Seiring runtuhnya dinasti terakhir di Cina, negeri ini kemudian memasuki sistem pemerintahan modern, yang ditandai dengan berdirinya Republik Cina pada 1 Januari 1912, Dr. Sun Yat Sen diambil sumpahnya sebagai Presiden Republik Cina. Akibat ketidakpuasan banyak kalangan, perjalanan pemerintahan Sun Yat Sen diiringi konflik dan peperangan.

Etnografi dan Bahasa

Mayoritas penduduk negeri Cina berasal dari etnis Han. Bangsa Tionghua menyebut dirinya sebagai orang Han-han (Hanren) berdasarkan sebuah nama dinasti (Dinasti Han) yang memerintah dari tahun 206 SM hingga 221. Etnis Han kini sudah tersebar di Vietnam, Myanmar, Malaysia, Filipina, Indonesia, dan lain-lain. Mereka disebut Tionghua perantauan (Huajiao, Hokkian: Hoakiauw).

Selain Han, di Cina juga terdapat banyak etnis lain, seperti etnis Zhuang (rumpun bahasa Thai) yang bertempat di daerah Yunan, Guandong; Etnis Uighur (rumpun bahasa Turki) di Xinjiang, Gansu Barat; etnis Yi (rumpun bahasa Tibeto-Burma) di Yunnan, Guizhou, Hunan; etnis Tibet atau Zang (rumpun bahasa Tibeto-Burma) di Tibet, Qinghai, Sichuan.

Ada pula etnis Miao (rumpun bahasa Miao-Yaio) di Provinsi Barat Daya dan Timur laut; etnis Manchuria (rumpun bahasa Tungus) di Mongolia, Peking, Gansu, Qinghai dan Yunnan; etnis Mongol (rumpun bahasa Mongol) di Cina Timur; etnis Buyi (rumpun bahasa Tahu); dan etnis Korea (rumpun bahasa Asia Timur Laut).

Keberadaan suku-suku non-Han terjadi bersamaan dengan perluasan budaya dan bangsa Cina, yang pada gilirannya memperkaya khazanah budaya negeri tersebut.

Masyarakat di Cina daratan menggunakan berbagai bahasa yang dapat dikelompokkan menjadi beberapa rumpun. Tiap rumpun bahasa terdiri atas berbagai kelompok etnis. Pertama, rumpun bahasa Altai yang digunakan oleh kelompok Altai (Uighur, Kazakh, Uzbek, Tartar, Salar, Krigiz, dan Yugu, kelompok Mongol (Mongolia, Dachur). Kelompok Tugus (Machuria, Xibo Hezhe, Olunchun).

Kedua, rumpun bahasa Austro-Asia atau Mon-Khamer (Khmer, Cham—bahasa suku minoritas di Yunnan). Ketiga, rumpun bahasa Melayu Polinesia (Bahasa suku-suku minoritas di Taiwan).

Islam di Cina

Pada abad ke-7, yakni di masa Dinasti Tang, Islam sudah masuk ke Cina dan disambut oleh sebagian masyarakatnya. Menurut catatan Tan Ta Sen (2010), kedatangan Islam di Cina melalui jalur perdagangan dan ikatan diplomatik Cina-Arab pada masa Dinasti Tang (618-907 M) dan Dinasti Song (960-1279).

Khalifah ke-3 Sahabat Utsman bin Affan ra. pernah mengutus duta-duta Islam menghadap Kaisar Cina. Duta-duta pertama dipimpin sahabat bahkan paman dekat Nabi Muhammad saw., Sa’ad bin Abi Waqqas ra.

Tujuan utama di balik terjalinnya hubungan diplomasi kedua pemerintahan adalah untuk memperkenalkan dan mengajak kaisar Cina waktu itu, memeluk Islam. Memang pada akhirnya Kaisar tidak mau memeluk Islam, namun atas restu Kaisar, para duta diberi kelonggaran untuk menyebarkan agama Islam.

Catatan lain menyebutkan, Islam masuk ke Cina beriringan dengan gelombang hijrah Sahabat ke Habasyah (Etiopia), yang kemudian mendapat perlindungan dari Raja Atsmaha Negus di Kota Axum. Setelah dari Habasyah, sejumlah sahabat yang tidak kembali ke Makkah, kemudian berlayar dan tiba di daratan Cina pada saat Dinasti Sui berkuasa (581-618).

Versi lain menyebutkan, sebenarnya Rasulullah saw. sendiri yang melepas beberapa orang sahabat untuk pergi berdakwah ke Cina. Sahabat yang diutus antara lain Sa’ad bin Abi Waqqas, Qais bin Abu Hudzafah, ‘Urwah bin Abi ‘Uttan, dan Abu Qais bin al-Harits. Peristiwa ini terjadi sebelum beliau berhijrah ke Madinah. Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas mengetuai kelompok pendakwah sebanyak 15 orang.

Delegasi yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqas diterima baik oleh Kaisar Yung Wei dari Dinasti Tang. Atas perintah Kaisar, dibangunlah sebuah masjid yang diberi nama Masjid Huaisheng atau Masjid Memorial di Kanton, Provinsi Guang Zhou. Inilah masjid pertama yang berdiri di daratan Cina. Pada saat itu, Kanton menjadi pusat perdagangan, sekaligus pusat penyebaran Islam.

Hubungan orang-orang Islam dengan penguasa Cina mulai memburuk sejak Dinasti Qing berkuasa pada tahun 1644-1911. Tidak hanya dengan penguasa, hubungan Muslim dengan masyarakat Cina lain juga menjadi makin sulit. Dinasti Qing melarang berbagai kegiatan keislaman.

Pada masa selanjutnya, yaitu pada abad ke-12, Islam tersiar ke Cina melalui dua jalur. Kedua jalur tersebut adalah jalur yang kemudian dikenal sebagai Jalur Sutra atau Jalur Darat, dan jalur lain yang disebut Jalur Lada atau Jalur Laut. Para pendakwah yang datang menggunakan Jalur Lada kebanyakan bermazhab Maliki. Sementara yang datang melalui Jalur Sutra bermazhab Hanafi. Kedua mazhab ini di Cina lebih berpengaruh daripada mazhab Syafi’i dan Hambali.

Kaum lelaki Muslim Cina biasanya memiliki identifikasi nama Cina-Muslim, misalnya Mo, Mai, Mu (untuk Muhammad), Ha (untuk Hasan), atau Sai (untuk Said). Hingga kini, dakwah Islam di Cina yang telah ditempuh sejak lama itu telah berhasil melahirkan lebih dari 136 juta umat Islam.

Muslim Cina pun melakukan syiar Islam di Nusantara, sebelum abad ke-13. Ketika itu, terdapat pedagang Muslim dari Cina. Seperti diketahui, sejak abad ke-7 M, sepanjang pantai barat Selat Malaka, wilayah kerajaan Sriwijaya di Sumatera, telah menjadi pasar komoditas penting dunia.

Add Comment