Hadapi Pandemi, Apa Sumbangsih Anda?

Berhadapan dengan pandemi, warga Ploso Wetan, Kedunggupit, Sidoharjo, Wonogiri membangun Lumbung Pangan. PEMKAB WONOGIRI

Virus corona (Covid-19) menjadi salah satu masalah dunia yang paling meresahkan pada 2020. Hingga Juli 2020, terkonfirmasi ada 11 juta jiwa terpapar Covid-19 dengan 500 ribu kasus kematian. Di Indonesia, angka persebaran Covid-19 telah mencapai 60 ribu kasus. Artinya, Indonesia menempati rating 28 untuk kasus yang terjadi di seluruh dunia.

Tidak hanya masyarakat berusia lanjut, Covid-19 bisa menyerang semua usia. Virus yang pertama kali terdeteks di Wuhan China ini merupakan virus baru, dan berita buruknya, belum ditemukan vaksin untuk mengurangi angka persebarannya.

Hampir lima bulan, rakyat Indonesia diresahkan virus yang membuat penderitanya sesak napas atau meninggal secara tiba-tiba tersebut. Masyarakat yang tadinya damai dan tenteram dengan semua aktivitas di luar rumah, mau tidak mau, harus menerima kenyataan bahwa seluruh kegiatan mereka lumpuh seketika.

Bukan hanya sektor pertanian, makanan, atau jasa, anak-anak sekolah pun diliburkan begitu saja selama berbulan-bulan. Para pegawai harus bekerja di rumah (WFH), demi mengurangi angka persebaran.

Akibatnya, banyak orang harus dirumahkan. Mereka diberhentikan secara tiba-tiba dari pekerjaannya dengan berbagai alasan. Sektor perekonomian pun terguncang dengan banyaknya orang menganggur, sementara kebutuhan untuk membeli ini dan itu sangatlah banyak.

Belum lagi, diperparah angka kriminalitas di tengah masyarakat yang semakin meningkat. Sebagian orang menghalalkan segala cara agar ‘dapur tetap ngebul’ tanpa berpikir bagaimana masyarakat lain bertahan hidup.

Kerenggangan

Akibat lain yang terjadi di tengah masyarakat adalah ‘kerenggangan’. Fakta bahwa penularan virus ini sangat cepat dari satu manusia ke manusia lain membuat pemerintah dengan sigap memberikan protokol kepada masyarakat untuk melakukan social distancing dan physical distancing. Hal ini demi memperlambat angka persebaran virus agar tidak cepat tumbuh di tengah masyarakat.

Tetapi, waktu menggulung setiap kebiasaan itu. Masyarakat yang dituntut untuk tetap di rumah saja dan tidak boleh menemui siapa-siapa, sekali pun saudara, lambat laun menjadi asing satu sama lain. Kegiatan yang bersifat kebersamaan dan perkumpulan dihapuskan begitu saja dari agenda bulanan, termasuk agenda untuk beribadah ke rumah ibadah.

Hal inilah yang akhirnya membuat masyarakat merasa bahwa mereka mampu hidup tanpa orang lain.

Parahnya lagi, mereka yang baru pulang dari bepergian jauh, tidak diperbolehkan langsung berbaur dengan orang lain. Akibatnya, mereka menjadi dikucilkan dari teman-temannya, karena dianggap membawa penyakit. Meski teknologi pada zaman sekarang cukup membantu masyarakat untuk berkomunikasi, tanpa adanya temu dan saling tatap secara langsung, semua itu tetap terasa jauh.

Covid-19 benar-benar mengubah setiap kebiasaan rakyat Indonesia, baik dari segi sosial dan ekonomi. Semua terkena dampaknya. Lalu apakah semua akan tetap demikian?

Saya harap tidak. Semakin ke sini, masyarakat semakin bisa untuk menjaga kesehatan untuk dirinya sendiri, dengan mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah untuk mencuci tangan menggunakan sabun setelah memegang apa pun, juga menggunakan masker ketika berpergian. Mungkin hal tersebut tidak bisa menyembuhkan. Tetapi setidaknya bisa mengurangi angka persebaran yang terjadi di tengah masyarakat.

Selain menjaga kebersihan dan kesehatan, masyarakat harus segera belajar beradaptasi dengan cepat. Karena di situasi ini, jika hanya berdiam dengan ketakutan akan menjadikan masyarakat semakin tidak mampu untuk berbuat apa-apa.

Mungkin untuk sekarang, bukan saatnya pemerintah saja yang melakukan setiap perubahan, tetapi juga masyarakat. Sebab, segala hal harus dimulai dari diri kita sendiri untuk menuju new normal yang benar-benar sudah dipersiapkan sejak dini. Ya, sebesar apa pun, sumbangsih Anda sangatlah penting.

Add Comment