Teknologi Canggih Tak Bisa Gantikan Guru Berkualitas

Guru SDN Sigit 3, Tangen, Sragen, Lulu Kartika, belajar bersama siswa di masa pandemi Covid-19. LULU KARTIKA

Guru adalah garda depan proses pembelajaran. Karena, guru adalah sosok yang bertatap muka secara langsung dengan anak didik. Sebagus apa pun sekolah, kurikulum, dan strategi pembelajaran dirancang, kalau gurunya tidak berkualitas maka proses pembelajaran tidak akan membuahkan hasil yang optimal. Hanya guru berkualitaslah yang dapat melahirkan sumber daya manusia bermutu.

Pentingnya guru berkualitas dalam proses pembelajaran berdampingan dengan banyaknya problem yang dihadapi oleh guru. Dan kenyataannya, keberadaan guru di berbagai jenjang, mulai dari Taman Kanak-kanak, sampai Sekolah Menengah Atas masih dinilai sebagian kalangan jauh dari performa yang distandarkan. Hal mendasar dalam dalam problem tersebut adalah ‘kemauan’ guru untuk maju.

Guru berkualitas adalah guru yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan, sehingga mampu melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai guru secara maksimal. Dengan kata lain, guru yang berkualitas adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya.

Merujuk pada Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, guru berkualitas adalah guru yang profesional. Seorang guru yang ideal, menurut Uzer Usman (1992), mempunyai tugas pokok, yaitu mendidik, mengajar, dan melatih.

Sementara merujuk pada ajaran Ki Hadjar Dewantara bahwa guru harus momong, among, dan ngemong. Artinya, supaya para guru dapat mendidik anak didiknya dengan cara mengasuh dan memberi nilai-nilai yang positif dalam kehidupan mereka.

Mengasuh tidak dengan cara paksaan, melainkan dengan memperhatikan, menuntun, atau mengarahkan, agar anak didik dapat dengan bebas mengembangkan diri, serta supaya semua dapat merdeka batin, pikiran, juga tenaganya.

Didik Suhardi (2020) berpandangan, tujuan pendidikan adalah untuk memanusiakan (memerdekakan) manusia.

Oleh karena itu, guru yang profesional harus memiliki kompetensi. Kompetensi inilah yang digunakan untuk menilai apakah guru itu berkualitas atau tidak.

Setidaknya, ada tiga kompetensi yang harus dimiliki guru berkualitas, yaitu kompetensi personal, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

Kompetensi personal menitikberatkan pada kepribadian seorang guru. Aspek ini menekankan pada mental-emosional dan moral-spiritual yang harus dijaga dengan baik. Guru adalah figur keteladanan yang baik bagi anak didik dan masyarakat.

Kompetensi sosial guru bukan hanya memiliki kemampuan berinteraksi sosial, yakni menciptakan pergaulan yang baik dengan anak didik, kepala sekolah, dan teman sejawat. Lebih dari itu, guru berkualitas juga harus menjadi agent of social change melalui proses pembelajaran.

Kompetensi profesional lebih menunjukkan kemampuan yang dimiliki guru sebagai pendidik. Seperti pendapat Hartoyo dan Baedhowi (2005), guru memiliki keterampilan mengajar dan berpengetahuan. Selain itu, memilih, menciptakan, dan menggunakan media, juga memilih metode mengajar yang sesuai, memanfaatkan teknologi, mengembangkan dynamic curriculum, dan bisa memberikan teladan yang baik.

Dalam konteks ini, guru berkualitas memiliki peran yang sangat vital dan fundamental dalam membimbing, mengarahkan, dan mendidik anak didik dalam proses pembelajaran. Di sinilah keberadaan guru sangat penting dan keberadaannya tidak dapat tergantikan oleh siapa pun dan apa pun, sekalipun teknologi canggih.

Kriteria Guru Berkualitas

Sebagian besar, baik dan buruknya kualitas pembelajaran di sekolah ditentukan oleh baik dan buruknya kualitas guru. Guru berkualitas akan menumbuhkan kualitas pembelajaran yang diharapkan. Sebaliknya, guru yang tidak berkualitas akan berakibat pada menurunnya kualitas anak didik dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan hal di atas, menjadi penting bagi kita berupaya memahami proses pembelajaran yang berkualitas untuk mengenal kriteria guru berkualitas yang diharapkan memberi pembelajaran optimal pada anak didik.

Agar bisa menjadi guru yang berkualitas-profesional seperti harapan Ki Hadjar Dewantara maka para guru diharapkan mempunyai kriteria yang meliputi aspek kompetensi substansi (expertise), tanggung jawab social (social responsibility), serta kesejawatan (esprit de coorps).

Mendikbud 2016-2019, Muhadjir Effendy, mengatakan, “The real curriculum is guru.”

Kurikulum yang bukan dalam bentuk dokumen adalah guru. Sehebat apa pun kurikulumnya, kalau kapasitas gurunya kurang, tidak akan terjadi perubahan apa-apa di kelas. Jadi, guru yang berkualitas dengan kriteria di atas menjadi wajib untuk kita siapkan dengan baik.

Akhirnya, untuk menjadi seorang guru berkualitas-profesional yang melaksanakan tugasnya sebagai pendidik yang baik tidaklah mudah. Karena, sasaran dari apa yang dilakukan oleh seorang guru bukan sekadar seseorang itu mengetahui, akan tetapi juga harus memahami, apa yang ia ketahui, dan selanjutnya secara sadar, mampu berbuat dan dapat bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan, baik terhadap dirinya, masyarakat, bangsa dan negara, bahkan lebih jauh lagi ia mampu mempertanggung jawabkan semuanya kepada Allah SWT.

One thought on “Teknologi Canggih Tak Bisa Gantikan Guru Berkualitas

  1. Uswatun Hasanah

    - Edit

    Setuju sekali dengan tulisan bapak, masa covid19 seperti ini siswa memakai program bermacam-macam dalam kegiatan PJJ, Nilai hasil PAT juga bagus, tapi proses mengerjakannya tidak bisa di control.
    Apakah siswa benar-benar faham dengan apa yg dia pelajari atau hanya copy paste dari teman atau hanya ambil penyelesaian dari googling

Comments are closed.