‘Teaching Factory’ Sekolah Menengah Kejuruan

‘Teaching Factory’ SMK Muhammadiyah Kartasura. SMK MUKA

Pengelolaan Teaching Factory (TF), lazim disebut juga TeFa, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan belajar-mengajar di sekolah menengah kejuruan (SMK) dalam rangka pencapaian kompetensi berdasarkan kurikulum berbasis edupreneurship.

Merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2015 tentang Pembangunan Sumber Daya Industri pasal 6 ayat 1, penyelenggaraan pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi harus dilengkapi dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), pabrik dalam sekolah, dan Tempat Uji Kompetensi (TUK).

Maksud dari pabrik dalam sekolah (teaching factory) adalah sarana produksi yang dioperasikan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya untuk menghasilkan produk, sesuai dengan kondisi nyata industri dan tidak berorientasi mencari keuntungan.

Adapun maksud TeFa adalah untuk kegiatan yang memproduksi barang dan atau jasa yang pelaksanaannya merupakan bagian integral dari proses pembelajaran di SMK dan bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa dan guru.

Peserta didik diberikan pengalaman belajar pada situasi yang kontekstual mengikuti aliran kerja industri, mulai dari perencanaan berdasarkan pesanan, pelaksanaan dan evaluasi produk atau kendali mutu produk, hingga langkah pelayanan pasca-produksi.

Model pembelajaran teaching factory mempunyai tiga komponen. Pertama, produk sebagai media pengantar kompetensi. Kedua, job sheet yang memuat urutan kerja dan penilaian, sesuai dengan prosedur kerja standar industri. Ketiga, pengaturan jadwal belajar yang memungkinkan terjadinya transfer soft skills dan hard skills ke peserta didik dengan optimal.

Setiap kompetensi keahlian yang ada di SMK dapat menerapkan teaching factory melalui tiga komponen tersebut sesuai dengan karakteristik dan kompleksitas masing-masing.

Sebelumnya, dapat dilakukan analisis kondisi dan potensi. Menginventarisasi kondisi lingkungan sekolah dengan mengelompokkannya menjadi dua kondisi, yakni internal dan eksternal. Kekuatan, peluang, kelemahan, dan tantangan yang dialami sekolah berguna untuk menentukan prioritas pilihan proses produksi yang dipilih dalam TF.

Aspek-aspek internal dalam analisis kondisi sekolah, di antaranya kurikulum, sumber daya manusia, fasilitas, pembiayaan, dan manajemen. Sementara aspek eksternal, meliputi potensi daerah dan mitra industri sekolah.

Kendala dan Tantangan

TF bukan berarti tanpa kendala. TeFa adalah bagian dari proses akademik. Para pelaku proses dalam TeFa pada dasarnya adalah guru dan siswa SMK. Tugas utama mereka adalah melangsungkan proses belajar mengajar yang baik. Maka sering kali delivery time menjadi permasalahan.

Hal ini terkait dengan banyak hal. Tugas-tugas akademik yang lain menjadi tantangan untuk bisa mengerjakan job TeFa secara fokus, baik dari sisi guru dan juga oleh siswa.

Oleh karena itu, bilamana memungkinkan, TeFa bisa mempekerjakan karyawan lepas, baik yang sifatnya permanen atau pun berbasis job. Teknisi bisa menjadi pilihan untuk turut mengerjakan job di waktu-waktu non-pembelajaran.

Tantangan lain dari TeFa adalah persentase produk cacat atau under-quality. Keterlibatan siswa dalam produk atau jasa TeFa sangat mungkin masih menghasilkan angka cacat yang tinggi. Hal ini harus dimaklumi karena pada dasarnya mereka masih belajar.

Sebuah proses alamiah. Seiring dengan waktu dan jam terbang, jumlah produk cacat akan berkurang. Dalam kasus ini, dua hal harus menjadi perhatian. Pertama, untuk menjamin kualitas produk maka harus diberlakukan kontrol kualitas (quality control) yang ketat.

Kedua, pemahaman kepada siswa tentang perhitungan untung-rugi. Jika banyak bahan baku yang terpakai namun tidak bisa terjual maka hal itu menjadi kerugian secara bisnis. Demikian juga dengan kerusakan alat yang mungkin terjadi. Pahat patah, misalnya. Waktu yang terpakai untuk mengasah pahat merupakan beban biaya secara perhitungan bisnis.

SMK Muhammadiyah Kartasura, semula bernama STM Muhammadiyah Kartasura, telah menerapkan TF dengan modifikasi yang lebih luas. Produk yang dihasilkan tidak berhenti pada output produk. Lebih dari itu, produk terjual ke industri dan hasilnya benar-benar digunakan oleh industri.

One thought on “‘Teaching Factory’ Sekolah Menengah Kejuruan

Comments are closed.