Tahun Ajaran Baru, Konstruksi Ruang Waktu Pendidikan Baru

Ilustrasi konstruksi ruang baru pendidikan. NATURE WALLPAPER

Setelah lebih tiga bulan proses belajar-mengajar dilakukan melalui metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), tidak sedikit warga pendidikan yang jenuh dalam menjalani pembelajaran dengan metode ini. Kini, dengan angka kasus Covid-19 yang belum beranjak turun, pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran Baru dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19.

Dengan adanya keputusan ini, satuan pendidikan yang berada di zona kuning, oranye, dan merah dilarang melakukan pembelajaran tatap muka. Oleh karenanya, guru, siswa, juga orang tua yang tidak berada di zona hijau mesti sejenak melupakan praktik belajar-mengajar melalui tatap muka. Tidak ada pilihan lain, kecuali beradaptasi dengan kebiasaan baru berupa PJJ menggunakan daring maupun luring.

Meski demikian, penerapan PJJ sangat bergantung oleh beberapa faktor. Antara lain koneksi internet yang lancar dan stabil, kreatitivitas guru dalam mendesain pembelajaran daring bagi siswa, peran orang tua dalam menyukseskan pembelajaran daring, serta kapasitas kapital orang tua murid untuk memiliki gawai sebagai penunjang pembelajaran daring.[1]

Belum meratanya akses internet menjadi problem yang sangat krusial dalam pembelajaran daring. Berdasarkan survei nasional Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2018, persebaran pengguna internet di Indonesia masih didominasi oleh penduduk di pulau Jawa (55,7%), diikuti Sumatera (21,6%), Sulawesi-Maluku-Papua (10,9%), Kalimantan (6,6%), dan terakhir Bali & Nusra sebesar (5,2%).

Kesenjangan antara pelajar di kota dan desa dari segi peralatan penunjang pembelajaran menambah tantangan dalam pelaksanaan PJJ. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) 2019, penggunaan telepon seluler oleh siswa perkotaan lebih tinggi dibandingkan siswa di perdesaan, yaitu (76,60%) berbanding (64,69%).

Sementara itu, persentase siswa yang menggunakan komputer atau laptop di perkotaan dua kali lipat dibandingkan siswa di perdesaan yaitu (31,37%) berbanding (15,43%). Persentase penggunaan internet siswa daerah perkotaan (62,51%) lebih tinggi dibandingkan daerah perdesaan (40,53%).

Tak cukup sampai di situ, kreativitas guru dalam mendesain pembelajaran jarak jauh juga memiliki peran yang amat vital. Keterbatasan kretivitas pendidik akan menjadikan proses belajar cenderung monoton dan membosankan bagi siswa.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima sekitar 213 pengaduan tentang pembelajaran jarak jauh baik dari orang tua maupun siswa. Pengaduan tersebut didominasi oleh penugasan yang terlalu berat dengan waktu singkat serta banyaknya tugas merangkum dan menyalin dari buku.[2]

Selain itu, pembelajaran jarak jauh membuat orang tua memiliki beban ganda. Di satu sisi, para orang tua dituntut mampu mendampingi proses belajar anak dan membuat lingkungan rumah yang nyaman bagi proses belajar anak, di saat sebagian orang tua juga harus melakukan Work from Home (WFH). Sementara bagi orang tua yang bekerja di sektor informal dan pekerja pabrik, terpaksa tidak dapat mendampingi proses belajar anak dengan maksimal.

Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) dalam risetnya menemukan Anak-anak yang belajar dengan menggunakan media daring rata-rata memiliki orang tua yang bekerja sebagai karyawan pemerintah (39%) dan wiraswasta (26%), serta latar belakang pendidikan minimal S1 (34%) dan SMA (43%).

Sebaliknya, anak-anak yang sama sekali tidak diberikan tugas didominasi oleh orang tua yang bekerja sebagai petani (47%) dan berpendidikan SD (47%). Artinya, anak-anak dari kelompok rentan lebih banyak yang tidak belajar dibandingkan anak-anak yang berasal dari keluarga ekonomi mampu.

Generasi Pembelajar

Di luar tantangan dan kompleksitas pembelajaran jarak jauh di masa pandemi Covid-19, proses belajar mesti terus berjalan, sebab pendidikan adalah hak setiap warga negara. Ada mantra sakti di China yang relevan dengan kondisi pendidikan saat ini, stop classes but don’t stop learning. Dengan begitu, siswa harus tetap belajar meski tidak melalui tatap muka di dalam kelas.

Kini, di era kemajuan teknologi, siswa memiliki kesempatan lebih besar dalam mengakses pengetahuan melalui berbagai media. Kemajuan teknologi memungkinkan mereka belajar dari mana saja dan di mana saja. Bila sebelum diberlakukan pembelajaran jarak jauh, anak didik melakukan aktivitas belajar sebatas di ruang kelas. Kini mereka dapat belajar setiap saat, tidak terikat ruang dan waktu, dengan memanfaatkan seluruh media, baik daring maupun luring.

Bagi anak didik yang tersambung jaringan internet, mereka dapat belajar secara daring dengan melakukan tatap muka virtual bersama guru dan teman-temannya melalui berbagai aplikasi teleconference, video conference, juga diskusi dalam grup di media sosial. Selain itu, mereka dapat memanfaatkan layanan Learning Management System (LMS) yang telah tersedia di portal Kemendikbud.

Di sisi lain, anak didik yang belum terhubung jaringan internet masih dapat belajar melalui pembelajaran luring, seperti Program Belajar dari Rumah TVRI, maupun Radio Suara Edukasi AM 1440 Khz Kemendikbud. Di luar itu, mereka bisa belajar melalui bahan belajar lain, seperti buku, modul belajar, juga lembar kerja dari guru.

Tiadanya tuntutan untuk menuntaskan kurikulum dalam pembelajaran jarak jauh, sebagaimana yang tercantum dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020, semakin membuka tapal batas belajar siswa. Maka di luar pemanfaatan media yang telah tersedia, mereka dapat belajar dari alam dan lingkungan sekitar, mempelajari sosial budaya masyarakat, juga memperdalam spiritual keagamaan.

Dengan begitu, pembelajaran jarak jauh akan menjadi awal bagi pelajar saat ini dalam memasuki gerbang kehidupan baru, di mana pembelajaran bukan merupakan aktivitas terbatas ruang, waktu serta target kurikulum, namun sebuah proses yang berjalan hingga akhir hayat. Diperkuat dengan dukungan dan pengawasan keluarga serta keterlibatan masyarakat dalam mendampingi proses belajar anak maka pendidikan akan menjadi sebuah ekosistem utuh dalam berkehidupan.

Perayaan wisuda yang sebelumnya jamak dimaknai sebagai akhir dari sebuah proses belajar, kini bukan lagi menjadi sesuatu yang sakral, sehingga meski siswa telah berhasil melewati salah satu tahap dalam pendidikan, bukan berarti siswa selesai dalam belajar di kehidupan. Dengan demikian, kualitas anak didik bukan dilihat dari hasil akhir berupa nilai rapor, namun dari kegigihan dan konsistensi mereka dalam menjalani proses belajar.

Pada akhirnya, meski tidak semua pihak siap menjalani kebiasaan baru ini, penerapan pembelajaran jarak jauh dapat mendorong transformasi pendidikan yang akan membentuk pribadi generasi baru, yaitu pribadi manusia pembelajar yang lebih tangguh dan lebih memaknai hidup untuk belajar.

Di tengah pandemi Covid-19, mari melampaui konstruksi ruang waktu pendidikan yang bisa jadi sama sekali baru.

[1] Anggi Afriansyah, seorang peneliti sosiologi pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan, menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber dalam Diskusi Daring ‘Pembelajaran Jarak Jauh: Bagaimana Kesiapan Guru?’ pada 1 April 2020 yang diselenggarakan oleh Forum Serikat Guru Indonesia dan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI.

[2] Kompas, 14 April 2020.