Singo Manjat Klaten, Leluhur Santri Surakartan

Makam Kiai Imam Rozi Singo Manjat Klaten. M. HANDUM TA

Perang Jawa menyisakan banyak catatan sejarah. Setelah perang ini berakhir, pengikut Diponegoro yang berasal dari berbagai wilayah di dua wilayah kerajaan Mataraman, Surakarta dan Yogyakarta, pulang atau berpindah mencari tempat yang lebih aman. Dari daerah Kedu sampai dengan Magetan. Dari Klaten hingga Grobogan. Menariknya, sebagian besar pengikut Diponegoro berasal dari wilayah Kasunanan Surakarta, di antaranya Kiai Mojo dan Nyai Ageng Serang.

Sebagian tokoh-tokoh pejuang Perang Jawa harus mengganti nama, atau menggunakan nama samaran karena pertimbangan keamanan. Mereka menjauh dari pusat kerajaan. Di daerah Sukoharjo, putra Pakubuwana V, berganti nama menjadi Kiai Langsur untuk mengaburkan identitas. Hal yang sama konon dilakukan pula oleh bangsawan Kerajaan Cirebon pada peristiwa Perang Kedondong.

Selain Kiai Mojo, masih banyak ulama pengikut Pangeran Diponegoro yang berasal dari Surakarta. Seperti Kiai Taftojani, lalu Kiai Imam Rozi bergelar Singo Manjat, Kiai Zamaksyari pendiri Pesantren Jamsaren di Surakarta. Dari jalur keturunan Kiai-kiai itu kelak kita mengenal banyak ulama-ulama besar.

Amirul Ulum, dkk. (2014) dalam buku The Founding Fathers of Nahdlatoel Oelama menulis, ketika Pangeran Diponegoro ditangkap dan dilucuti oleh tentara Belanda, para prajuritnya yang dahulu bermarkas di Gua Selarong melarikan diri dan tersebar di berbagai kawasan Pulau Jawa.

Ada Kiai Umar (Semarang) yang menurunkan Kiai Shaleh Darat, Mbah Saman bin Yaman (asal Madura) yang memperjuangkan Islam di daerah Sarang (Rembang), Kiai Hasan Bashari (Yogyakarta) yang menurunkan Kiai Munawwir Krapyak.

Di Jombang, ada Mbah Shihah atau Kiai Abdussalam (Lasem) yang menurunkan KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah, dua Ulama yang pada masa selanjutnya menjadi tokoh utama dalam berdirinya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi keislaman terbesar di Indonesia.

Akademisi STAI Al-Falah As-Sunniyyah Kencong Jember, Rijal Mumazziq (2016) pernah menyinggung soal perubahan strategi pasukan Diponegoro ini. Dari perang fisik, lalu membangun wilayah-wilayah pertahanan dan perlawanan fisik, kemudian beralih strategi dengan mengembangkan basis-basis perlawanan ideologis dan pendidikan, seperti mendirikan surau, musholla, atau langgar untuk mengajar, juga madrasah dan pesantren-pesantren.

Surau, musholla, dan langgar dari sisa-sisa pengikuti Pangeran Diponegoro dapat dikenali dari bentuk dan letak bangunannya. Biasanya, di halaman rumah dibangun musholla atau langgar, serta ditanami pohon sawo.

Singo Manjat

Setelah Perang Jawa berakhir, Kiai Imam Rozi, mendapat surat titipan dari Pangeran Diponegoro untuk diteruskan kepada Sinuhun Pakubuwana VI di Surakarta. Selama Perang Jawa, Kiai Imam Rozi merupakan penghubung antara kedua pemimpin tersebut.

Dicatat dalam sejarah, Raja Kasunanan Surakarta Sinuhun PB VI aktif membantu perjuangan Diponegoro melawan penjajah. Akibat perjuangannya, ia harus menerima hukuman dari pemerintah kolonial, dengan dibuang ke Sulawesi. Banyak pembesar-pembesar perlawanan Perang Jawa yang juga diasingkan ke Pulau Sulawesi. Sampai saat ini banyak keturunan dari pejuang Perang Jawa yang berkumpul untuk menjalin silaturahmi seraya terus mengingat perjuangan dan kepahlawanan leluhurnya.

Surat berisi permohonan Pangeran Diponegoro kepada Sinuhun PB VI agar memberi tanah perdikan, yakni tanah bebas pajak dari Keraton Surakarta untuk Kiai Imam Rozi. Sebuah usaha untuk kelangsungan hidup para pengikut setia Diponegoro.

Berkat surat dari Pangeran Diponegoro, Kiai Imam Rozi yang bergelar ‘Singo Manjat’ kemudian mendapat dan menempati tanah perdikan dari Keraton Surakarta, tepatnya di daerah Tempursari, Ngawen, Klaten.

Dari jalur Kiai Imam Rozi inilah nanti lahir banyak ulama di Surakarta, seperti Kiai Idris Jamsaren, Kiai Abdul Muid Tempursari, Kiai Ma’ruf Mangunwijata, dan Kiai Dimyathi Tjandrawijata. Selain itu, para guru yang mengajar di Pondok Pesantren Mambaul Ulum di lingkungan Masjid Agung Surakarta. Madrasah Mambaul Ulum didirikan oleh Sinuhun Pakubuwana X.