Santri Surakartan

Masjid di kompleks Pondok Pesantren Jamsaren. MA AL ISLAM JAMSAREN

Berakhirnya Perang Jawa tidak membuat kendur gerakan pengikut Pangeran Diponegoro. Mereka berpencar ke segala penjuru Nusantara dengan strategi baru, yakni membangun masjid, surau, dan pondok pesantren. Kiai Imam Rozi yang bergelar ‘Singo Manjat’, misalnya, membangun pondok pesatren di daerah Tempursari, Ngawen, Klaten.

Dari jalur Kiai Imam Rozi kemudian bermunculan para ulama kenamaan di Surakarta. Salah satunya, Kiai Idris Jamsaren. Kiai Idris adalah putra dari Kiai Zahid, menantu Kiai Imam Rozi Singo Manjat. Di tangan Kiai Idris, Pondok Pesantren Jamsaren kembali berdiri. Sebelumnya, pesantren ini sempat mati terbengkalai, karena bangunannya dikuasai oleh pihak penjajah.

Jamsaren ditinggalkan oleh pendirinya, yaitu Kiai Zamaksyari. Kiai Zamaksyari harus meninggalkan Surakarta dan hijrah ke Jawa Timur, lantaran menghindari kejaran pasukan kolonial. Kiai Zamaksyari, sebagaimana Kiai Imam Rozi, termasuk dalam barisan pengikut Pangeran Diponegoro saat Perang Jawa. Konon, beliau hijrah ke Kediri dan mendirikan pesantren di sana.

Kiai Idris Jamsaren adalah salah satu guru tarekat berpengaruh di Jawa Tengah, seperti halnya Kiai Ahmad Nahrawi. Dari jalur sanad keduanya, banyak pengikut tarekat Syadziliah berasal. Keduanya, Syekh Ahmad Nahrawi dan Kiai Idris, merupakan murid dari Syekh Shalih Mufti Hanafi. Dari dua guru tarekat ini jalur-jalur tarekat Syadzili menyebar di Pulau Jawa.

Kita ambil contoh jalur tarekat Syadzili Habib Luthfi bin Yahya, kemudian jalur Kiai Muhaiminan dan Gus Haidar Parakan, jalur Kiai Abdur Razaq Tremas, lalu jalur Kiai Mustaqim Ahmad dan Kiai Abdul Jalil Mustaqim PETA Tulungagung, jalur Kiai Jamaluddin Ahmad Tambak Beras, jalur Kiai Imron Djamil, dan jalur Abuya Dimyathi Banten.

Ada lagi jalur Kiai Abdul Muid Tempursari, jalur Kiai Dalhar Watucongol, jalur Kiai Idris Kacangan Boyolali, Jalur Kiai Ahmad Kadirejo, jalur Kiai Thoifur Sumolangu, Kiai Walid Agus Hilal Kartasura, Kiai Masyhudi Madiun, Kiai Abdul Ghoni Ahmad Sajadi, dan jalur-jalur mursyid (guru) Syadziliah lainnya. Semuanya melewati jalur Syekh Ahmad Nahrawi dan Kiai Idris.

Di samping Kiai Idris dengan pesantren Jamsarennya yang berada di luar lingkungan Keraton Surakarta, masih ada keturunan Kiai Imam Rozi yang mengabdi di madrasah lingkungan Keraton Surakarta, yaitu Kiai Dimyathi Tjondrowijata.

Kiai Dimyathi adalah putra dari Kiai Irsam bin Kiai Zahid. Kiai Irsam adalah adik dari Kiai Idris Jamsaren. Kiai Dimyathi selama hidupnya bertempat tinggal di Gontoran daerah Kauman, sebelah barat Masjid Agung Surakarta. Kiai Dimyathi mengabdi kepada Raja dengan menjadi Kepala Sekolah Madrasah Mambaul Ulum, madrasah pertama yang menerapkan sistem kurikulum, didirikan oleh Sinuhun Paku Buwono X.

Kiai Dimyathi dibantu oleh saudara-saudaranya. Salah satunya, Kiai Ma’ruf Mangunwijata, putra dari Kiai Abdul Mu’id Tempursari. Kiai Abdul Muid adalah putra dari Kiai Muhammad Thohir, menantu dari Kiai Zahid. Selain itu, ia dibantu oleh cucu dari Kiai Idris Jamsaren bernama Kiai Ali Darokah bin Kiai Abu Amar.

Selain Jamsaren dan Mambaul Ulum, pada masa berikutnya, mulai berdiri beberapa madrasah dan pesantren. Pondok Al Muayyad di daerah Mangkuyudan, Laweyan, didirikan oleh Kiai Ahmad Shofawi, Kiai Mohammad Adnan, Kiai Abdul Mannan, dan Kiai Umar Abdul Mannan. Sekarang, Pesantren Al Muayyad Mangkuyudan diasuh oleh putra-putra Kiai Ahmad Shofawi, yaitu Kiai Abdur Razaq Shofawi.

Majelis Para Sayyid

Bersamaan dengan itu, banyak berdiri madrasah-madrasah lainnya, seperti di daerah Keprabon, Kampung Sewu, Laweyan, dan Pasar Kliwon. Di daerah Keprabon kita mengenal Madarasah Sunniyyah Keprabon, lalu di Pasar Kliwon, dari sana kita mengenal majelis-majelis para Sayyid keturunan Rasulullah Saw.

Di daerah Pasar Kliwon, ada satu masjid yang juga berdiri di tanah perdikan Keraton Surakarta, tempat di mana para Sayyid atau habaib berkumpul. Masjid itu dinamakan Masjid Assegaf, karena didirikan oleh Sayyid keturunan Nabi Muhammad Saw. bermarga Assegaf.

Selain Masjid Assegaf, ada masjid lain yang diberi nama Masjid Riyadh. Masjid Riyadh dibangun oleh Sayyid bermarga Al Habsyi, yaitu Sayyid Alwi bin Ali bin Muhammad al Habsyi. Sayyid Alwi Al Habsyi adalah putra dari Sayyid Ali bin Muhammad Al Habsyi, yaitu pengarang Maulid Simthut Dhurar. Tiap haul Sayyid Ali, selama tiga hari tiga malam, daerah Pasar Kliwon dipenuhi para peziarah.

Sebenarnya, jauh sebelum masa itu. Sudah ada ulama keturunan Rasulullah Saw. yang bermukim tinggal di daerah Surakarta, yaitu pada zaman Kartasura. Di daerah Makam Haji Kartasura, terdapat kompleks pemakaman kuno. Di pemakaman itu, ada makam seorang Syarif bermarga Al Haddad. Ia hidup pada zaman Kartasura, menjadi penasihat Raja Amangkurat IV yang bertahta di Keraton Kartasura. Salah satu keturunan dari para Syarif Al Haddad kini tinggal di daerah Pasar Kliwon, bernama Raden Syarif Nuh Al Haddad.

Sementara jalur dari para Sayyid yang ada di Pasar Kliwon di antaranya diteruskan oleh generasi setelahnya, seperti Habib Anis bin Alwi bin Ali Al Habsyi, lalu diteruskan oleh generasi selanjutnya, seperti Habib Alwi Al Habsyi, Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf yang terkenal sebagai pelantun shalawatan itu. Ada yang lebih muda, yaitu Habib Novel Al Idrus, Habib Muhammad bin Husin bin Anis bin Alwi bin Ali Al Habsyi yang meneruskan dakwah leluhurnya di Kota Solo.

Selain yang disebutkan di atas, masih banyak madrasah dan pesantren yang ada di wilayah Surakarta. Misalnya, di daerah Klaten, ada pesantren yang didirikan oleh Kiai Manshur bin Hadi Girikusumo. Kiai Manshur adalah pelanjut tarekat Naqshabandiyah Khalidiyyah yang dibawa oleh ayahnya, Kiai Hadi dari Giri Kusumo Demak.

Dari jalur Kiai Manshur tarekat Naqshabandiyyah Khalidiyyah berkembang di banyak tempat. Beberapa murid Kiai Manshur ada yang kemudian meneruskan pengabdiannya kepada terekat, di antaranya adalah Kiai Arwani dari Kudus, Kiai Hafidz dari Rembang, dan sebagainya. Penerus Kiai Manshur yang ada di lingkungan keluarga sendiri adalah cucunya, bernama Kiai Salman Dahlawi.

Selain madrasah dan pesantren, ada beberapa majelis yang belakangan ini bermunculan. Majelis Jamaah Muji Rosul (Jamuro), pimpinan Kiai Abdul Karim atau biasa dipanggil Gus Karim. Gus Karim adalah putra dari Kiai Ahmad Musthofa, sahabat perjuangan Kiai Umar Abdul Mannan yang biasa dipanggil Mbah Daris.

Kiai Ahmad Musthofa merupakan salah satu murid Kiai Dimyathi Tremas. Bersama dengan Kiai Umar Abdul Mannan, beliau mendirikan Pondok Pesantren di daerah Mangkuyudan Surakarta. Kiai Umar Abdul Mannan mendirikan dan mengasuh Pesantren Mangkuyudan, sedangkan Kiai Ahmad Musthofa mendirikan Pondok Pesantren Al Qur’any. Dua pesantren itu berdiri bersebelahan.

Yang terakhir, Kiai Ahmad Siradj Panularan. Kiai Ahmad Siradj adalah kawan perjuangan Kiai Abbas Buntet pada masa revolusi fisik melawan penjajah di Surabaya. Beliau dikenal sebagai ulama yang tidak hanya mengajar di pesantren dan menuntun murid-murid tarekat, tapi juga turun gelanggang sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia.

Dari jalur-jalur guru-guru tarekat, pesantren, madrasah, dan majelis-majelis taklim inilah lahir generasi santri yang berlanjut hingga sekarang. Mereka mewarnai perkembangan Islam di wilayah Surakarta. Santri Surakartan.

Add Comment