Perang-perang yang Tak Terlupakan

Salah satu sudut Keraton Kartasura. Sebuah pendapa di tengah kompleks pemakaman dan bersebelahan dengan Masjid Hastana Keraton Kartasura. KERATON KARTASURA

Selain Yogyakarta, Surakarta telah lama dikenal sebagai pusat peradaban sejarah kerajaan Islam di Jawa. Di Surakarta terdapat Keraton Kasunanan Surakarta yang dipimpin raja bergelar Sunan Paku Buwana. Sementara di Jogja ada Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang dipimpin raja bergelar Sultan Hamengku Buwana. Kedua kerajaan ini sering disebut dengan Kerajaan Islam Mataram Jawa.

Di antara kedua kerajaan besar itu, kita mengenal Puri Mangkunegaran dan Pakualaman yang mempunyai wilayah kekuasaan. Keduanya berasal dari akar leluhur yang sama, yaitu Panembahan Senopati Danang Sutawijaya sebagai raja Mataram pertama. Penguasa Puri Mangkunegaran bergelar Mangkunegara, sedangkan penguasa Pakualaman bergelar Pakualam. Empat kerajaan itu masih eksis sampai hari ini.

Kerajaan Islam Mataram seperti Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Puri Mangkunegaran, dan Pakualaman merupakan pelanjut kerajaan-kerajaan Islam sebelumnya, dari Kerajaan Kartasura, Kasultanan Pajang, dan Kerajaan Demak Bintoro. Letak pusat Kerajaan Surakarta dan Mangkunegaran tidak jauh dari wilayah yang dulu menjadi pusat kerajaan Pajang dan Kartasura.

Empat penguasa kerajaan yang disebutkan di atas mewarisi penguasaan atas wilayah di Pulau Jawa, sebagaimana penguasa sebelumnya. Kerajaan Pajang didirikan oleh Sultan Hadiwijaya yang dikenal dengan nama Jaka Tingkir atau Mas Karebet. Mas Karebet merupakan putra menantu dari Sultan Trenggono, Raja Demak kedua. Ratu Mas Cempaka binti Sultan Trenggono diperistri Sultan Hadiwijaya.

Sultan Trenggono sendiri adalah putra dari Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak. Sedangkan Raden Patah adalah putra Brawijaya V, yang juga murid sekaligus menantu Raden Rahmat, sesepuh dewan ulama pada saat itu yang dikenal dengan Walisongo, salah seorang pendakwah senior Islam di Jawa yang bermukim di daerah Ampel Denta Surabaya, bergelar Sunan Ampel.

Ibu Raden Patah adalah seorang keturunan Tiong Hua Muslim, bernama Sio Ban Ci, putri dari ulama Tiong Hua bernama Tan Ko Hwat, yang tinggal tidak jauh dari Trowulan.

Leluhur raja-raja kedua kerajaan Mataram di atas, berasal dari Pajang, yang sekarang masuk di dalam wilayah kerajaan Kasunanan Surakarta. Kiai Ageng Pemanahan adalah orang tua dari Danang Sutawijaya, pendiri atau raja Mataram pertama yang bergelar Panembahan Senopati. Sementarai Kiai Ageng Pemanahan adalah Putra dari Kiai Ageng Henis yang tinggal dan dimakamkan di daerah Laweyan Surakarta.

Kiai Ageng Henis adalah putra dari Kiai Ageng Sela, murid Walisongo atau abdi dari kerajaan Demak yang bertugas mengurusi Masjid Agung Demak. Sampai hari ini karya Kiai Ageng Sela masih bisa kita lihat di pintu masuk utama Masjid Agung Demak, berupa pintu kayu ukir indah bergambar sepasang Naga. Pintu itu diberi nama ‘Lawang Bledek’.

Selanjutnya, Panembahan Senopati mempunyai putra bernama Raden Hanyakrawati atau yang juga dikenal sebagai Panembahan Seda Krapyak. Dari garis keturunan Raden Hanyakrawati ini kita mengenal Raja Mataram yang masyhur dan besar pengaruhnya, bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Pada masa Sultan Agung inilah pengaruh kekuasaan Kerajaan Mataram Islam meluas melampaui capaian kerajaan-kerajaan Islam sebelumnya.

Sultan Agung Hanyakrakusuma mempunyai putra bergelar Amangkurat I yang bertahta di Plered. Ia memindah pusat kekuasaan yang sebelumnya berada di daerah Kota Gede Yogyakarta. Setelah Amangkurat I lengser, karena sebab pertentangan antar-kerabat kerajaan, kekuasaan Mataram pecah. Setelah itu pusat kerajaan berpindah lagi, dari Plered Yogyakarta kembali ke tanah leluhur di Kartasura.

Perang Kartasura, Pelahir Raja-raja Trah Mataram

Kerajaan baru Keraton Kartasura dipimpin oleh Raja Amangkurat IV, cucu dari Sultan Agung Hanyakrakusuma. Letak Keraton Kartasura berada di tengah-tengah antara Surakarta dan Yogyakarta, atau kira-kira empat kilometer dari bekas pusat Kerajaan Pajang.

Sejarah perjalanan Kerajaan Kartasura tidak berjalan mulus. Banyak peristiwa yang menyebabkan gangguan serius di internal kerajaan, ditambah persoalan eksternal kerajaan, seperti pemberontakan dan lain sebagainya. Sampai pada puncaknya terjadi pemberontakan pimpinan kerabat kerajaan yang menggempur habis Keraton Kartasura.

Perang Kartasura oleh sejarawan dicatat dengan nama ‘Geger Pecinan’. Dari perang itu kita mengenal nama-nama seperti Sunan Kuning, Untung Suropati, dan yang lainnya. Dalam setiap peperangan di dalam sejarah Keraton Mataram Islam, selalu saja ada campur tangan pihak kolonial di dalamnya.

Raja Kartasura yang bertahta kemudian mempunyai beberapa putra yang nantinya melanjutkan kekuasaan kerajaan Mataram Islam. Dari keempat putra yang dikenal, ada tiga di antaranya yang serius menapaki jalur perebutan kekuasaan, dan ada satu putra yang memilih menjauhi politik kekuasaan.

Putra pertama, Mangkubumi I, nantinya bergelar Hamengku Buwana I adalah raja pertama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Kedua, putra yang bergelar Paku Buwana II, pendiri Kerajaan Surakarta atau raja pertama Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Ketiga, Mangkunegara I pendiri Keraton Puri Mangkunegaran di wilayah Surakarta. Dan satu putra yang lebih memilih menjauhi urusan kekuasaan. Putra raja itu bernama Kiai Nur Iman Mlangi, leluhur dari ulama dan kiai-kiai pesantren yang ada di daerah Mlangi.

Selanjutnya, perpecahan kerajaan Mataram menjadi beberapa wilayah, dimulai pasca-Perjanjian Giyanti yang membagi wilayah Mataram menjadi dua bagian, yaitu Surakarta Hadiningrat dan Yogyakarta Hadiningrat.

Ada pula Perjanjian Salatiga yang membagi wilayah Kasunanan Surakarta menjadi dua bagian, yaitu wilayah yang dikuasai Raja Mangkunegaran berada di sebelah utara dan Kasunanan Surakarta berada di bagian selatan. Pembagian kerajaan dimulai dengan perang saudara yang tidak sebentar, juga menelan banyak korban dan biaya.

Perang Jawa, Cikal Bakal Kelahiran Ulama-ulama Nusantara

Setelah peristiwa pembagian kekuasaan melalui perjanjian-perjanjian di atas, ada satu peristiwa penting yang terus diingat oleh masyarakat Jawa, yaitu Perang Jawa. Pada Perang Jawa, penduduk dari dua wilayah Mataram Jawa bersatu untuk melawan kolonial. Perang dipimpin oleh salah satu putra raja Jawa bergelar Pangeran Diponegoro, salah satu Pangeran dari lingkungan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Ia adalah putra dari Sultan Hamengku Buwana III.

Ada banyak sebab yang memicu Perang Jawa, salah satunya karena Pemerintah Kolonial sudah terlalu dalam mencampuri urusan internal Keraton Kasultanan Yogyakarta. Pangeran Diponegoro meyakini, ada pengaruh buruk dari pihak kolonial yang dibawa masuk ke dalam lingkungan Keraton, yang mempengaruhi sikap, adat, dan pikiran para Pangeran serta bangsawan-bangsawan Keraton Yogyakarta.

Persoalan inilah yang menjadi sebab Pangeran Diponegoro memutuskan keluar meninggalkan Keraton menuju Tegalrejo, pergi tinggal di rumah neneknya, Nyai Ageng. Dari Tegalrejo ia mengumpulkan massa pengikutnya, menyusun strategi perlawanan terhadap pihak kolonial dan sekutu-sekutunya banyak berada di lingkungan Keraton Yogyakarta. Sekarang, daerah Tegalrejo berada di wilayah Kabupaten Magelang Jawa Tengah.

Dari gesekan antara Pangeran Diponegoro dengan pihak kolonial dan beberapa bangsawan itu, memicu peristiwa yang kita kenal dengan ‘Perang Jawa’. Perang dahsyat yang menelan banyak korban dan biaya dari kedua belah pihak. Untuk membiayai perang ini, pemerintah kolonial harus kehilangan pasukan dan menanggung banyak beban utang yang kelak hanya bisa dilunasi dengan cara-cara kotor yang tak kalah kejam, yakni menindas rakyat dengan kerja ‘Tanam Paksa’.

Pada akhirnya, perlawanan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya bisa dipatahkan. Ia kemudian harus diasingkan ke Makassar.

Banyak yang belum tahu, momentum Perang Jawa adalah cikal bakal kelahiran ulama-ulama besar Nusantara. Ada Kiai Umar (Semarang) yang menurunkan Kiai Shaleh Darat, Mbah Saman bin Yaman (asal Madura) yang memperjuangkan Islam di daerah Sarang (Rembang), Kiai Hasan Bashari (Yogyakarta) yang menurunkan Kiai Munawwir Krapyak.

Di Jombang, ada Mbah Shihah atau Kiai Abdussalam (Lasem) yang menurunkan KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah, dua Ulama yang pada masa selanjutnya menjadi tokoh utama dalam berdirinya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi keislaman terbesar di Indonesia.