Pendidikan Harus Jadi Proses Pembelajaran Menyenangkan

Bermain congklak bisa juga sembari belajar berhitung. SD MUHAMMADIYAH PK BOYOLALI

Minggu kemarin, kami sekeluarga mengantarkan anak ketiga, Putri Aisyah Nurul Iman, untuk mesantren di Sekolah Alam, SMP Planet NUFO Kabupaten Rembang. Dan saat kami memasuki halaman tengah sekolah, tepatnya di depan ‘rumah kapsul’ ruang konseling santri remaja (Sanja) Penghapal Al-Quran, kami mendapati tulisan ‘Setiap Hari Harus Senang’.

‘Senang’. Kata itulah yang terpenting dalam dunia pendidikan. Pendidikan memang harus menjadi sebuah proses pembelajaran menyenangkan. Pembelajaran ini yang diterapkan oleh sekolah tersebut, meski penuh tantangan dalam kenyataannya. Tapi, faktor menyenangkan adalah alat bagi guru untuk meningkatkan pencapaian kualitas belajar.

Sebagai sekolah alam, SMP Planet NUFO didesain layaknya taman belajar yang menyenangkan bagi santrinya. Semirip dengan pernyataan Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara, ‘Tempat belajar siswa atau sekolah harus dianggap sebagai taman’.

Sekolah sebagai taman, artinya sekolah harus menyenangkan. Sekolah menyenangkan merupakan sekolah yang semua pihak ikut terlibat. Baik guru, siswa, maupun orang tua ikut mendukung pembelajaran bersama.

Namun pada kenyataannya, seperti yang kita ketahui bersama, proses pembelajaran menyenangkan seolah-oleh sirna dengan adanya pembelajaran daring di masa stay at home sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Begitu banyak masalah yang dikeluhkan orangtua dan siswa. Bahkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan sudah menerima ratusan pengaduan dari berbagai wilayah di Indonesia.

Sejumlah siswa mengeluh beratnya penugasan dari guru yang harus dikerjakan dengan tenggat waktu yang sempit.

Sementara itu, di sisi lain, tugas dari guru lain telah menanti. Bahkan guru pun mungkin mengeluh kehabisan gaya untuk tampil di depan murid-muridnya secara daring.

Lalu bagaimana mungkin tujuan pembelajaran akan tercapai jika pembelajaran menyenangkan tidak lagi mereka dapati?

Bermain Bersama Murid

Dalam dunia pendidikan, menyenangkan merupakan salah satu pendekatan belajar yang harus diletakkan pada urutan pertama. Serangkaian pendekatan harus dilakukan oleh para guru.

Proses pembelajaran menyenangkan sangatlah esensial untuk keberlangsungan hidup kita. Sangatlah penting untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan mempelajari cara belajar untuk bisa berhubungan dengan orang dan budaya lain.

Berdasarkan hal tersebut, sangatlah penting untuk dapat mengerti bahwa proses belajar bukanlah sebuah tugas atau pekerjaan paksaan yang tidak bisa dihindari, karena kebanyakan institusi pendidikan (sekolah) terjebak dalam pola pikir buruk seperti ini.

Zaman dengan kemampuan berkonsentrasi yang minim, bahkan krisis, sangatlah penting untuk dapat memiliki fokus sekuat mungkin pada sesuatu yang penting. Ketika konsentrasi kita mulai berkurang maka kita harus menemukan cara belajar efektif untuk membuat proses belajar jadi menyenangkan.

Alasan kenapa proses pembelajaran jadi tidak lagi menyenangkan adalah karena sistem ‘pendidikan tradisional’ yang terlalu menitikberatkan segala sesuatu dalam kerangka yang kaku. Salah satu kesalahan terbesar dalam sistem sekolah adalah karena para siswa dididik untuk berpikir bahwa belajar adalah sesuatu yang sangat serius, dan bermain-main adalah sesuatu yang buruk. Ketika sebuah aktivitas menjadi sangat membosankan, para siswa akan mulai mencoba menghibur diri mereka sendiri dengan cara bermain smartphone, bermain game, atau menghitung lubang di langit-langit kelas.

‘Bermainlah dengan murid-murid’, saran Ki Hadjar Dewantara. Kurikulum yang dirancang Ki Hadjar disampaikan dengan cara bermain (dolanan) seperti dolanan anak, tarian, nabuh gamelan, dan sebagainya. Dalam model kurikulum yang dikembangkan Ki Hadjar, anak diajari membaca, menulis, berhitung (calistung) dengan aneka permainan.

Pandangan Ki Hadjar tentang bermain dengan demikian menyoroti dimensi instrumental dan epistemologis dari bermain sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu soft skills anak.

Dalam pandangan filsuf Jerman, Hans-Georg Gadamer (1902-2002), konsep bermain memiliki bobot ontologis yang mendalam, bukan hanya instrumetalis, melainkan epistemologis seperti yang disampaikan Ki Hadjar.

Mereka harus diajarkan bahwa bersenang-senang dengan sesuatu yang serius tidaklah buruk. Aktivitas yang menyenangkan harus dibangun karena kegiatan seperti itu memiliki banyak potensi. Kreativitas dan imajinasi sangatlah penting bagi para siswa, karena kedua hal tersebut merupakan cara agar para siswa dapat berkembang dari poin A ke poin B tanpa memerlukan pengawasan dari para guru.

Terlebih di era digital, sebenarnya anak-anak dapat mendidik dirinya sendiri melalui informasi yang mudah didapatkan. Hanya saja, mereka harus diiringi dengan kemampuan untuk menjadi anak-anak yang lebih disiplin. Dan ini menjadi tugas kita bersama, karena anak-anak juga membutuhkan rasa disiplin, passion, juga determinasi untuk mengejar cita-cita.

Akhirnya, ujung tombak pendidikan sebagai proses pembelajaran menyenangkan terletak pada guru yang berkualitas. Pembelajaran menyenangkan bisa terlaksana jika gurunya pun terus belajar dan berkarya. Dan karya-karya guru dinilai dari sesuatu yang menyenangkan di sekolah.

Sekolah menyenangkan juga menjadi tempat yang seharusnya memberikan pembelajaran bermakna, bermanfaat, dan relevan dengan kehidupan manusia. Selain itu, bermanfaat pula bagi kebutuhan masyarakat sekitar.

Dalam konteks ini, kita semua mengharapkan, kualitas pendidikan di Indonesia ke depan jauh lebih maju dan menyenangkan. Pasalnya, pendidikan merupakan seni dalam menjalani dan memahami hidup. Jadi, kalau mau menjadi manusia beradab harus berpendidikan.