Padasan, dari Cuci Tangan hingga Toleransi Beragama

Padasan di pekarangan rumah. M. SYAID AKBAR

Benda ini dahulu begitu populer. Hampir ada di setiap rumah. Biasanya, ada di sudut depan rumah. Fungsinya, menampung air yang bisa digunakan untuk membersihkan tangan, kaki, dan wajah.

Bisa juga digunakan untuk berwudhu, sebuah hal wajib yang dilakukan umat Islam sebelum melakukan ritual wajib lain yang disebut shalat. Mungkin itu sebabnya, benda ini dinamai ‘padasan’ dalam arti digunakan sebagai media untuk menampung air yang digunakan membersihkan hadas (keadaan tidak suci).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), padasan diartikan sebagai tempayan yang diberi lubang pancuran (tempat air wudhu).

Dalam beberapa dekade terakhir, padasan sudah tidak begitu populer. Bahkan saya jarang menjumpainya. Namun semenjak pandemi Covid-19, benda ini muncul kembali dengan berbagai wujud. Ada yang berbentuk galon, ember, dan sejenisnya. Umumnya, ditaruh di depan rumah.

Rasanya seperti flash back. Fenomena wabah Covid-19 yang tengah melanda dunia mendorong masyarakat untuk kembali menampilkan intrumen lama, berupa tempat cuci tangan di pekarangan rumahnya masing-masing dengan wujud yang baru.

Saya tidak tahu, apakah ini sebuah kemunduran atau kemajuan, atau kembali ke satu titik tertentu saja. Padasan, dulu adalah hal yang wajar dan normal, kemudian hilang, lalu muncul kembali.

Mungkin ada berkah bagi pembuat gerabah. Atau mungkin dulu kita pernah mengalami wabah yang mengharuskan tubuh senantiasa bersih dan steril, sehingga muncullah padasan.

Padasan dan Toleransi

Budaya padasan dikenalkan oleh Kanjeng Sunan Kudus dalam upaya menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa pada umumnya, dan daerah Kudus pada khususnya. Ketika itu, agama yang tengah berkembang adalah Hindu dan Buddha. Padasan dikreasi Sunan Kudus dalam rangka ‘mengakomodasi’ keyakinan umat Buddha.

Sri Mulyati (2006) dalam karyanya berjudul Tasawuf Nusantara: Rangkaian Mutiara Sufi Terkemuka, menulis, Sunan Kudus membuat padasan wudhu dengan pancuran yang berjumlah delapan buah. Pada masing-masing pancuran diberi sebuah arca yang diletakkan di atas padasan.

Maksud Sunan Kudus membuat padasan wudhu dengan pancuran berjumlah delapan buah disebabkan beliau mengetahui delapan ajaran yang diajarkan dalam agama Buddha. Delapan ajaran tersebut dikenal dengan nama Asta Sanghika Marga (Jalan Berlipat Delapan).

Isi ajaran Asta Sanghika Marga adalah ‘seseorang harus memiliki pengetahuan yang benar, mengambil keputusan yang benar, berkata yang benar, bertindak atau berbuat yang benar, hidup dengan cara yang benar, bekerja dengan benar, beribadah dengan benar, dan menghayati agama dengan benar’.

Hal yang dilakukan Sunan Kudus tersebut berhasil menarik simpati umat Buddha. Banyak umat Buddha berbondong-bondong ke masjid dan memeluk agama Islam, setelah Sunan Kudus menjelaskan bagaimana agama Islam yang sebenarnya.

Keberhasilan Sunan Kudus dalam mensyiarkan agama Islam melalui padasan layak diacungi jempol. Akulturasi budaya yang manis sehingga meminimalisasi konflik antar-agama dan menciptakan toleransi di antara para pemeluknya.

Semoga Indonesia tetap bisa menjaga harmoni keberagamannya. Mari kita kembali mempelajari konsep-konsep leluhur kita dalam mengupayakan kedamaian, ketenteraman, serta kesejahteraan bagi bangsa. Salam Indonesia Raya.